Sumber berita: KOMPAS. N0 56 THN-54 JUMAT 24 AGUSTUS 2018

Sumber foto: Kompas.id

Adu Strategi Merebut Suara Pemilih

Merancang strategi kampanye kini jadi fokus para kandidat peserta Pemilihan Presiden 2019. Dalam kegiatan ini, menemukan juru bicara yang andal jadi salah satu kebutuhan.

Dalam demokrasi yang sehat, kontestasi politik diisi oleh 'pertarungan gagasan, ide, dan program. Dalam konteks ini, kehadiran juru bicara atau komunikator politik yang andal menjadi kebutuhan.

Peran penting juru bicara (jubir) ini, antara lain, ditegaskan Henry Subiakto dalam buku berjudul Komunikasi Politik, Media, dan Demokrasi, yang dia tulis dengan rekannya, Rachmah Ida. Menurut dia, jubir idealnya memenuhi sejumlah persyaratan, antara lain berstamina tinggi, memiliki rasa ingin tahu, mau membantu, ingatan kuat, sopan, tenang, mengerti psikologi manusia, mampu belajar atau bereaksi cepat, bisa menangani hal- hal tak terduga, menjalankan tugas secara bersamaan, sanggup menerima interupsi terus-menerus, obyektif, menjaga kredibilitas dirinya, beretika, dan berintegritas tinggi.

Dengan segudang persyaratan itu, adanya kabar bahwa kubu dari dua pasang kandidat yang akan berkontestasi dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, mendekati mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD untuk masuk dalam tim kampanye mereka bisa dipahami. Pada 2014, Mahfud pernah menjadi ketua tim sukses Prabowo-Hatta Rajasa. Sebelum menjadi Ketua MK, Mahfud yang juga guru besar ilmu hukum ini pernah menjadi menteri dan anggota DPR.

Upaya mendekati Mahfud ini menjadi salah satu topik dalam acara bincang Satu Meja: The Forum bertema ’’Juru Bicara, antara Kata dan Janji Nyata” di Kompas TV, Rabu (22/8/2018). Acara yang dipandu Pemimpin Redaksi Harian Kompas Budiman Tanuredjo itu menghadirkan narasumber Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Ferry Juliantono, mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said, politisi PDI-P Aria Bima, Ketua DPP Partai Nasdem Irma Suryani, Ketua DPP Partai Hanura liras Nasrul- lah, serta Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Philips J Vermonte.

Dalam acara itu, Sudirman yang ada di kubu Prabowo-Sandiaga membantah bahwa pihaknya mendekati Mahfud untuk tujuan taktis politik. ’’Kemarin itu tidak dalam pembicaraan soal politik taktis karena kami menghormati Pak Mahfud yang mengambil sikap netral. Kami tak bicara mengenai pilpres dan pilihan beliau. Namun, lebih pada hal-hal besar, soal kenegaraan, bangsa, dan sekali-kali ngomongin sepak bola,” katanya.

Ferry menambahkan, silaturahim ke Mahfud untuk membangun kesepahaman dan bagian upaya Prabowo-Sandiaga menyatukan berbagai pihak.

Aria Bima mengapresiasi sikap netral yang dipilih Mahfud. ’’Beliau bukan tipikal partisan, melainkan lebih pada negarawan yang pikirannya dibutuhkan pada visi Indonesia ke depan, terutama pada aspek penegakan hukum,” ujarnya.

Setelah Mahfud menyatakan netral, beredar kabar tentang susunan kepengurusan atau tim kampanye nasional dari kedua pasang kandidat. Namun, baik kubu Prabowo-Sandiaga maupun Jokowi-Ma’ruf membantah hal itu sebagai susunan tim kampanye yang final.

Ferry mengatakan, pekan ini pihaknya akan merampungkan susunan tim kampanye.

Sementara Aria Bima mengatakan, koalisi pendukung Jokowi-Ma’ruf akan menggerakkan 100 juru kampanye yang tersebar di 80 daerah pemilihan DPR. Tim pemenangan Jokowi- Ma’ruf ini harus bersinergi dalam Pemilu 2019 yang dilakukan serentak antara pilpres dan pemilu anggota legislatif.

Adu strategi
Mengenai strategi kampanye di pilpres, Irma Suryani dan Inas Nasrullah mengibaratkan para jurkam itu sebagai pemain bola. Ada yang bermain sebagai bek, penyerang, dan penjaga gawang. Jika dibutuhkan, para jurkam dapat mengeluarkan pertanyaan atau pernyataan yang ofensif, tidak hanya defensif.

Menurut Aria Bima, dalam kampanyenya, Jokowi-Ma’ruf ingin menampilkan upaya-upaya solutif yang dilakukan Jokowi selama lima tahun kepemimpinannya. Para jubir akan dibekali dengan data dan informasi soal capaian Jokowi.

’’Apa, sih, yang sudah dikerjakan Pak Prabowo, Pak Sandi? Apa kerjanya Pak Sandi di DKI. Sama halnya dengan main bola, ada strategi dan pengalaman. Apa, sih, strategi dan, pengalaman Prabowo-Sandi, itu juga akan kami tanyakan,” ujar Inas.

Ferry mengatakan, Prabowo-Sandiaga . menitikberatkan kampanyenya pada perbaikan ekonomi. Pihaknya, antara lain, akan menyoroti kenaikan bahan pangan, nasib petani, dan kurangnya lapangan kerja di era Jokowi. Masih tingginya angka kemiskinan jadi salah satu sasaran kampanye Prabowo-Sandiaga. Sekalipun angka kemiskinan dinyatakan telah turun menjadi satu digit, problemnya bukan pada angka-angka itu, melainkan pada realitas sosial yang menunjukkan masih banyak orang miskin.

Prabowo-Sandiaga, menurut Sudirman, merupakan paduan yang ideal untuk menangani persoalan utama bangsa Keduanya juga dipandang mampu mengelola kelembagaan dan tidak bergantungfpada popularitas individu. ’’Negeri ini terlalu besar, terlalu kompleks, yang tak cukup diurus dengan hanya popularitas. Harus diurus dengan kompetensi. Dan, dua orang ini mewakili tiga soal penting yang dihadapi bangsa ini, yakni penegakan hukum, ekonomi, dan kemiskinan,” katanya

Philips mengatakan, kerap kali petahana terjebak angka-angka yang teknokratis yang sebenarnya tak terlalu dipahami oleh pemilih. Sebaliknya, oposisi lebih banyak memainkan sisi emosional pemilih yang sering tidak didukung dengan data valid. Dua kondisi ini harus diatasi baik oleh petahana maupun oposisi untuk merebut suara pemilih. (RINI KUSTIAS1H)

 

menu
menu