Sumber berita: REPUBLIKA, NO 142 THN 26, SENIN 5 JUNI 2018

Sumber foto: REPUBLIKA, NO 142 THN 26, SENIN 5 JUNI 2018

Alami Targetkan Pembiayaan Rp 100 Miliar

 

  • BINTI SHOLIKAH

Perbankan syariah bisa efisien dengan memanfaatkan fintech.

JAKARTA — Perusahaan financial technology (fintech) PT ALAMI Teknologi Sharia (Alami),' menargetkan dapat memproses pembiayaan ke pelaku usaha kecil menengah (UKM) sebesar Rp 100 miliar. Kolaborasi dengan perbankan syariah diharapkan membuat keuangan syariah Indonesia setara dengan keuangan konvensional.

CEO dan Founder Alami Dima Djani, mengatakan, sampai Desember 2018, Alami menargetkan bisa memproses pembiayaan dari bank syariah kepada pelaku UKM sebesar Rp 100 miliar. Tiap nasabah dialokasikan mendapatkan pembiayaan Rp 100 juta-Rp 30 miliar.

Untuk dapat mengakses pembiayaan dengan platform Alami, calon nasabah sudah harus mengelola bisnisnya minimal dua tahun. Bisnis yang
dikelola juga harus sesuai dengan prinsip syariah.

Alami sendiri menetapkan biaya satu persen dari nilai pembiayaan yang disalurkan bank syariah ke pelaku UKM. “’Kalau tidak terjadi transaksi, tidak kami kenakan biaya,” ungkap Dima dalam peluncuran platform Alami di Jakarta pada Senin (4/6).

Alami punya misi membuka akses pembiayaan seluas mungkin dari lembaga keuangan syariah kepada para pelaku usaha. Dima menilai, perbankan syariah Indonesia masih belum memiliki teknologi yang memudahkan masyarakat mengakses berbagai layanannya.

“’Kolaborasi ini menjadi jalan keluar yang efisien dari segi biaya dan waktu. Perbankan syariah bisa memanfaatkan inovasi dari perusahaan fintech,” kata Dima.

Dima menjelaskan, untuk mendapatkan pembiayaan dari perbankan, para pelaku UKM cukup memasukkan informasi usahanya ke platform Alami. Mesin pembiayaan Alami akan bekerja memberikan asesmen kepada perbankan.

Kemudian, pelaku UKM akan mendapatkan beberapa
rekomendasi pembiayaan dari beberapa bank. Cara ini berbeda dengan cara tradisional di mana calon nasabah harus mengunjungi beberapa bank untuk mendapatkan perbandingan margin.

“Calon nasabah cuma sekali kerja bisa langsung terkonek- si dengan beberapa bank syariah. Dengan dibuka pasar seperti itu, bank syariah akan memberikan penawaran kompetitif dengan pelaku bisnis,” terang Dima.

Dari informasi yang dimasukkan calon nasabah, bank sudah memiliki gambaran penyaluran pembiayaan. Saat ini, Alami telah bekerja sama dengan dua bank syariah yakni BNI Syariah dan Bank Mega Syariah. “Tahun ini dengan sedikit bank dulu sampai kami replikasi model bisnis,” ujarnya.

Dima menambahkan, Alami menjadi katalis untuk merevolusi wajah industri keuangan syariah di Indonesia melalui digitalisasi proses pembiayaan. Sampai dengan 2017, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat aset keuangan bank syariah di Indonesia mencapai Rp 897,1 triliun.

Dima melihat keuangan
syariah sekarang masih kecil pangsa pasarnya. Namun, kalau digarap dengan ilmu yang memadai bisa setara dengan perbankan konvensional.

Presiden Direktur Karim Consulting Indonesia, Adiwar- man Karim, menyatakan, untuk mengejar ketertinggalannya dari perbankan konvensional, perbankan syariah butuh waktu dan biaya. “Salah satu solusi yang paling efektif adalah dengan memanfaatkan layanan digital yang dimiliki oleh perusahaan fintech,” ujarnya.

Head of Investor Relations and Engagement Tryb Group, Herston Powers, menambahkan, kolaborasi perbankan dengan fintech pada dasarnya sudah banyak dilakukan oleh banyak negara di dunia. Secara spesifik dalam mengembangkan layanan terhadap pasar yang belum tergarap sebagai inklusi keuangan.

Sekretaris Jenderal Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Edy Setiadi, menjelaskan, pangsa pasar keuangan syariah saat ini 8,22 persen dengan total aset Rp 1.1x8 triliun. Saat ini tidak ada yang luput dari digitalisasi, termasuk perbankan. ■ ed: fuji pratiwi

menu
menu