Sumber berita: KONTAN, NO 3347 THN 12, SENIN 4 MEI 2018

Sumber foto: KONTAN, NO 3347 THN 12, SENIN 4 MEI 2018

Antam Fokus di Proyek Pengolahan

PT Aneka Tambang Tbk menghidupkan lagi sejumlah proyek hilirisasi pertambangan bauksit hingga nikel, termasuk proyek CGA

Ika Puspitasari

JAKARTA. Demi mencari nilai tambah bisnis, PT Aneka Tambang Tbk mengawal sejumlah proyek hilirisasi pertambangan. Salah satu agenda strategis mereka adalah mengoperasikan kembali pabrik chemical grade alumnia (CGA) di Tayan, Kalimantan Barat pada 1 September 2018 mendatang.

Selanjutnya, Antam berharap pabrik CGA Tayan yang mengolah bauksit menjadi alumina tersebut bisa berproduksi kembali mulai November 2018. Hanya, perusdhaan berkode saham ANTM di Bur
sa Efek Indonesia itu tak secara spesifik membeberkan target volume produksi.

Perlu diketahui, hampir setahun pabrik CGA Tayan berhenti berproduksi. "Proyek ini kan, hampir setahun operasinya dihentikan, karena ada negosiasi juga yang harus dilakukan partner kami," terang Arie Prabowo Ariotedjo, Direktur Utama PT Aneka Tambang Tbk kepada KONTAN, Sabtu (2/5).

Untuk memuluskan niat, Aneka Tambang a tawa Antam menekan conditional share purchase agreement (CSPA) berupa pembelian 20% saham Showa Denko K.K (SDK) Jepang di PT Indonesia Chemi
cal Alumina. Indonesia Chemical merupakan perusahaan patungan antara Antam dan SDK yang mengelola pabrik CGA Tayan.

Penandatanganan CSPA terjadi pada 29 Mei 2018 lalu. Antam menargetkan transaksi pembelian 20% saham Indonesia Chemical terealisasi pada Agustus 2018. Kalau transaksi itu terwu,jud, Antam akan memiliki 100% saham Indonesia Chemical.

Sekadar kila$ balik, bisa dibilang Indonesia Chemical menempuh perjalanan bisnis yang tak mudah sejak awal berdiri. Informasi dalam laporan keuangan Antam per 31 Maret 2018 menyebutkan,
awalnya Antam, SDK, Straits Trading Amalgamated Resources Private Limited (STAR) dan Marubeni Corporation (Marubeni) mendirikan Indonesia Chemical pada 31 Maret 2006.

Menurut kesepakatan, estimasi biaya proyek CGA T ayan sekitar US$ 257 juta. Untuk

HHHMHBWBHHHMBMHMHMMHI

Antam

menargetkan
CGA Tayan mulai
berproduksi
November 2018.

 

memperoleh pendanaan dari kreditur, hingga 31 Desember 2007 Indonesia Chemical harus dapat memenuhi kondisi seperti jumlah biaya proyek tidak boleh melebihi US$ 450 juta.

Pada 31 Desember 2007, Indonesia Chemical gagal memenuhi beberapa persyaratan. Akibatnya, STAR dan Marubeni menarik ekuitas masing- masing pada 12 Agustus 2008 dan 30 Juli 2010. Pada 31 Agustus 2010, Indonesia Chemical diamandemen sehingga komposisi kepemilikan sahamnya menjadi 80% Antam dan 20% SDK. Adapun kontraksi pabrik CGA Tayan selesai pada tahun 2014.


Proyek-proyek lain

Proyek hilirisasi pertambangan Antam yang lain adalah pabrik feronikel di Halmahera Timur yang merupakan kongsi dengan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA). Sejauh ini, proses pembangunannya sudah mencapai 61%.

Pabrik feronikel di Halmahera Timur memiliki kapasitas produksi 13.500 ton nikel per tahun. "Diharapkan pada akhir

  • sudah selesai tahap konstruksi, kami berharap tahun
  • operasi," tutur Arie.

Proyek hilirisasi pertambangan lain yakni smelter gade alumina di Kalimantan Barat

alumina. Antam mengerjakan proyek tersebut bersama dengan induk usaha yakni PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum).

Ada pula rencana pembangunan smelter feronikel di Pulau Gag, Papua Barat. Manajemen Antam sedang dalam tahap mencari mitra bisnis. Saat ini, empat calon mitra sudah mengajukan diri. Tiga calon mitra asal Filipina dan satu asal China.

Sambil mengawal proyek hilirisasi pertambangan, Antam, mengejar produksi 2 ton emas dan penjualan 24 ton • emas tahun ini. "Untuk capex tahun 2018 sekitar Rp 3 triliun," pjar

menu
menu