Sumber berita: KOMPAS, NO 039 THN MINGGU 05 AGUSTUS 2018

Sumber foto: kompas.id

Aplikasi dan Transportasi

Aplikasi penunjang transportasi umum yang muncul beberapa tahun belakangan antara lain Trafi, Moovit, Ompreng.com, dan KRL Access. Aplikasi KRL Access mulai diperkenalkan di ponsel berbasis Android sejak Desember 2015. Adapun Trafi diperkenalkan di Indonesia pada Mei 2016. Sementara, Moovit masuk ke Indonesia pada November 2016.

Munculnya ide dari para kreator teknologi informasi untuk menciptakan aplikasi digital bertema transportasi umum, tidak lepas dari meningkatnya animo warga ibu kota memakai angkutan umum setidaknya tiga tahun terakhir.


Catatan PT Transportasi Jakarta, jumlah penumpang pada 2015 masih 102,9 juta. Tahun 2017, melonjak 40,7 persen menjadi 144,9 juta.

Hal yang sama juga terjadi pada kereta komuter. PT Kereta Commuter Indonesia mendata, jumlah penumpang KRL masih 257,5 juta tahun 2015, kemudian 2017 naik menjadi 351,8 juta.

Angkutan umum di ibu kota banyak dimanfaatkan warga sebagai alat transportasi ke tempat kerja dan sekolah. Hal tersebut diungkapkan separuh responden dalam jajak pendapat Kompas awal Juli lalu. Mereka sering menggunakan bus transjakarta, kereta komuter, bus, angkot, dan bajaj untuk berangkat ke kantor. Selain itu, 36 persen responden juga memanfaatkan transportasi publik ini menuju ke sekolah.

Seiring waktu, angkutan umum mulai diandalkan untuk mobilitas ke tempat yang mempunyai jadwal kegiatan yang mengikat.

Pemanfataan Aplikasi
Besarnya animo warga ibu kota menggunakan transportasi umum, sejauh ini belum berbanding lurus dengan pemanfaatan aplikasi yang mendukung kemudahan akses sarana transportasi.

Trafi, Moovit, Ompreng.com, atau KRL Access belum banyak dikenal warga ibu kota. Separuh lebih responden mengaku tidak mengetahui adanya aplikasi ini.

Sebagian warga justru lebih familiar dengan aplikasi angkutan daring. Sementara, sebagian warga lain lebih banyak mengandalkan aplikasi Google Maps untuk bepergian ke suatu tempat. Aplikasi Google Maps memberikan informasi rute jalan yang harus dilewati jika berjalan kaki, menggunakan sepeda motor, atau mobil. Aplikasi ini juga mencantumkan rute angkutan umum. Informasi angkutan umum juga cukup informatif seperti jenis, nomer, hingga rute angkutan umum.

Meski demikian, sekitar 46 persen responden mulai mengenal aplikasi digital ini. Hanya saja, baru sekitar 18 persen dari responden mengaku menggunakan aplikasi ini. Sebagian besar merupakan pengguna KRL (27,1 persen), disusul pengguna ojek daring (25,7 persen), bus transjakarta (17,1 persen), dan bus kota (8,6 persen).

Penggunaan aplikasi transportasi yang rendah, menurut catatan keluhan di playstore, terkait dengan informasi yang jarang diperbaharui. Contohnya, minimnya data stasiun atau halte, perubahan jadwal keberangkatan, hingga perubahan rute angkutan umum. Selain itu, aplikasi digital ini tidak dilengkapi fitur pembayaran daring seperti di aplikasi angkutan daring.

Meski belum banyak diketahui, ketertarikan akan aplikasi transportasi umum ini cukup tinggi. Separuh lebih yang belum kenal, tertarik menggunakan aplikasi ini.

Kehadiran aplikasi ini memberikan banyak kemudahan. KRL Access memberikan informasi posisi kereta, jadwal perjalanan KRL, hingga pengaduan penumpang. Trafi dan Moovit mengintegrasikan informasi sejumlah moda transportasi. Pengguna Trafi dan Moovit dimudahkan menentukan angkutan apa saja yang paling efektif untuk mencapai tujuan. Di dalamnya juga ada informasi estimasi waktu perjalanan, lokasi transit, hingga tarif yang harus dibayar.

Keberadaan aplikasi inipun dinilai bermanfaat bagi mayoritas responden (91,3 persen).

Kehadiran aplikasi digital transportasi menjadi bukti nyata bahwa kini menggunakan transportasi publik lebih mudah dan nyaman. Hal ini dapat menjadi momentum tepat untuk semakin menggaungkan budaya bertransportasi umum di ibu kota.

menu
menu