Sumber berita: REPUBLIKA, NO 141 THN 26, SENIN 4 JUNI 2018

Sumber foto: REPUBLIKA, NO 141 THN 26, SENIN 4 JUNI 2018

Asbisindo Targetkan 50 BPRS Baru

Masyarakat masih perlu sosialisasi dan edukasi layanan perbankan syariah, terutama BPRS.

BANTUL — Dengan berkembangnya ekonomi syariah, termasuk di dalamnya industri halal, pertumbuhan Bank Pembiayaan Rakyat (BPR) Syariah juga ikut tumbuh. Asosiasi Perbankan Syariah Indonesia (Asbisindo) menargetkan, ada 50 BPR Syariah baru dalam dua tahun mendatang.

Ketua Kompartemen BPR Syariah Asbisindo Cahyo Kartiko mengatakan, data OJK 2017 menunjukkan perkembangan BPR Syariah mencapai 17 persen dengan aset akhir tahun sebesar Rp 10,5 triliun. Karenanya, ia optimistis menargetkan pengembangan sampai 2020 mendatang.

“Kami berharap, nanti di akhir tahun 2020 bertambah minimal 50 BPRS baru dari saat ini 167 BPRS,” kata Cahyo yang ditemui di sela-sela Tasyakuran Hari BPR Syariah di Grand Dafam Roban Yogyakarta, akhir pekan lalu.

Pertambahan itu, baik yang berasal dari pendirian BPRS baru maupun BPR konvensional yang dikonversi menjadi BPR Syariah. Tapi, Cahyo mengakui, jika dibandingkan dengan BPR konvensional, tentu BPR Syariah tetap masih relatif kecil. Pangsa pasarnya kurang lebih baru sembilan persen dari pangsa

 

pasar BPR keseluruhan.

Selain itu, ia merasa, masyarakat luas belum terlalu akrab dengan keberadaan BPR Syariah, khususnya sebagai institusi perbankan. Sebagian besar masyarakat Indonesia masih akrab dengan bank-bank konvensional saja.

“Persoalan utamanya, proses literasi dan edukasi bank-bank syariah ke masyarakat belum maksimal. Yang jelas, keunggulan bank-bank syariah harus disampaikan ke masyarakat,” ujar Cahyo.

Karenanya, cukup wajar bila jarak antara aset BPR Syariah dengan konvensional masih relatif jauh. BPR konvensional sendiri asetnya sudah lebih dari Rp 100 triliun, sementara BPR Sya
riah baru Rp 10,5 triliun.

Meski begitu, pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia relatif lebih tinggi dibandingkan perbankan konvensional. Tidak heran, prospek yang makin baik itu banyak menarik minat investor.

“Mereka tertarik mendirikan atau memegang saham BPR konvensional yang ingin mengonversi ke syariah,” ujar Cahyo.

Untuk itu, ia berpendapat, model bisnis BPR Syariah sudah harus berbeda dengan bank atau BPR konvensional. Kompetensi sumber daya insani harus pula ditingkatkan, selain memperkuat permodalan.

Cahyo pun melihat, tata kelola dan
manajemen risiko harus sudah diperbaiki. Menurut Cahyo, jika langkah- langkah itu dapat dilaksanakan dengan baik, target tambahan BPR Syariah baru sampai 2020 bukan tidak mungkin tercapai.

Mengawali Tasyakuran Hari BPR Syariah Indonesia, Kepala Departemen Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ahmad Sukro menekankan dorongan OJK untuk pengembangan perbankan syariah nasional, termasuk BPR Syariah. Apalagi, peluang industri ini sangat terbuka di Indonesia yang didukung pesatnya kemajuan industri halal di Indonesia maupun dunia.

Namun, Sukro merasa masih ada yang harus diperhatikan pelaku perbankan syariah. Sebab, walau sudah berumur lebih dari 20 tahun di Indonesia, masyarakat masih harus terus dikenalkan dengan layanan keuangan syariah.

“Masyarakat harus terus diberi sosialisasi dan edukasi tentang bank syariah,” kata Sukro.

Hari BPRS

Kompartemen BPR Syariah Asbisindo telah menetapkan 17 Ramadhan sebagai Hari BPR Syariah Indonesia. Hal itu dilakukan dalam upaya meningkatkan pencapaian tujuan dan operasional Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.

Ketua Kompartemen BPRS Asbisindo Cahyo Kartiko mengatakan, penetapan Hari BPR Syariah dilakukan saat Rapat Keija Nasional (Rakernas) Kompartemen BPRS Asbisindo pada Desember 2017 di Bandung. Penentuan itu didasarkan saat terbentuknya Asbisindo.

Asosiasi Bank Syariah Indonesia sendiri digagas lima BPRS pada 31 Maret 1992 di Bandung, bertepatan pula dengan 17 Ramadhan 1412 Hijriyah,” kata Cahyo.

Tasyakuran Hari BPR Syariah Indonesia dihadiri perwakilan tiap Dewan Pengurus Wilayah Asbisindo seluruh Indonesia dan pengurus DPP Kompartemen BPRS Asbisindo. Tasyakuran ini juga dihadiri Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY.

Ketua Panitia Tasyakuran dan Direktur BPRS Cahaya Hidup, Taufan, menuturkan, tasyakuran turut meluncurkan resmi Hari BPRS Indonesia. DPP Asbisindo turut memberikan penghargaan kepada tokoh-tokoh atas peijuang- an mengembangkan ekonomi syariah di Indonesia.

Penghargaan diberikan untuk almarhum Waris Sucipta dan almarhum Tri Hari Wijayanto. Mereka dinilai berjasa mengembangkan BPRS maupun organisasi Asbisindo. Waris Sucipta pernah menjabat sebagai Direksi BPRS Margi Rizki Bahagia dan Komisaris di beberapa BPRS Yogyakarta.

Sedangkan, Tri Hari Wijayanto pernah menjabat Direksi BPRS Bakti Makmur Indah Surabaya dan sangat aktif dalam kepengurusan DPP Asbisindo. Selain pemberian penghargaan pada 3 Juni 2018, akan dilakukan ziarah ke makam almarhum Waris Sucipta.

“Kami juga berziarah ke makam Panglima Jenderal Sudirman untuk menguatkan semangat kebangsaan segenap pejuang ekonomi syariah,” ujar Taufan.

■ ed: fuji pratiwi

 

menu
menu