Sumber berita: KOMPAS. N0 41 THN-54 SELASA 07 AGUSTUS 2018

Sumber foto: gatra.com | Ketua PP Muhammadiyah Hajriyanto Y Thohari, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Presiden Joko Widodo, dan Menteri Sekretaris Negara Pratikno (kiri ke kanan) berbincang sebelum acara pertemuan Presiden Joko Widodo dengan PP Muhammadiyah dan Ikataij Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Istana Negara, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (6/8 2018). Dalam kesempatan itu, Muhammadiyah menyampaikan enam masukan bagi Nawacita ke-2.

Bangun Kedewasaan Politik

Modal ekonomi dan sosial budaya bangsa jangan sampai rusak karena kontestasi politik. Ulama dan institusi agama merupakan dasar kekuatan moral bangsa.

JAKARTA, KOMPAS- Kedewasaan dalam berpolitik mesti dibangun oleh semua pihak. Jangan sampai kontestasi meraih kekuasaan menghancurkan modal ekonomi sosial dan budaya yang sudah dimiliki bangsa Indonesia.

”Tentu politik mengalir, setiap kekuatan dan person politik memerlukan dukungan berbagai basis sosial dan agama. Tapi, kalau boleh Muhammadiyah mengajak bahwa pada seluruh institusi agama dan keagamaan serta ulama dan keulamaan tetap menjadi basis bagi kekuatan moral yang mengarahkan bangsa ini lebih luhur,” tutur Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir, Senin (6/8/2018), di Kompleks Istana Kepresidenan

Menurut Haedar, banyak ulama yang jernih memainkan peran moral dan kebangsaan. Kekuatan agama dan kemasyarakatan ini bisa membangun kedewasaan berpolitik.

Sebagai bagian dari menjaga harapan bangsa, PP Muhammadiyah memberikan masukan untuk kerja Presiden Joko Widodo ke depan. Saat mendampingi peserta Muktamar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) XVIII bertemu Presiden di Istana Negara, kemarin siang, Haedar memberikan enam poin usulan untuk kerja Presiden Jokowi ke depan.

Enam usulan

Usulan itu, pertama, menjadikan nilai-nilai agama sebagai nilai luhur kehidupan berbangsa bernegara. ”Ini perwujudan sila Ketuhanan Yang Maha Esa, yang membawa bangsa ini mempunyai nilai-nilai utama yang luhur, beradab, damai, toleran, dan berkemajuan,” tutur Haedar.

Kedua, Pancasila terus diteguhkan sebagai landasan seluruh warga bangsa dan pengelolaan negara. Seluruh aparat pemerintahan dan warga negara semestinya menggunakan Pancasila sebagai dasar pikir, dasar moral, dan orientasi dalam bertindak.

Usulan ketiga terkait kebijakan ekonomi yang berkeadilan sosial untuk mengatasi kesenjangan sosial. Hal ini, menurut Haedar, sesungguhnya sudah disebut Presiden Joko Widodo sebagai kebijakan ekonomi baru yang berbasis pada keadilan sosial untuk mengatasi kesenjangan dan mewujudkan pemerataan.

Usulan berikutnya menegakkan dan mewujudkan kedaulatan bangsa dan negara sesuai amanat konstitusi. Adapun masukan kelima berkaitan dengan penguatan daya saing sumber daya manusia Indonesia untuk berkompetisi di ranah global.

Terakhir, meningkatkan peran Indonesia dalam dunia Islam. Hal ini, menurut Haedar, sudah dirintis Presiden Joko Widodo. Namun, Indonesia perlu lebih proaktif untuk menyelesaikan masalah di Timur Tengah dan menciptakan politik bebas aktif serta menjadi kekuatan baru sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia.

Masukan ini, menurut Haedar, akan lebih bermanfaat ketimbang hanya menyodorkan sosok calon wakil presiden. ”Muhammadiyah selalu mendukung proses politik yang sehat, positif, dan demokratis. Muhammadiyah tetap dalam posisi sebagai ormas dan dakwah, tetapi kami memberikan masukan jika pemerintahan ini diberi peluang lagi oleh rakyat. Nanti kalau kami bertemu (calon) yang lain, kami juga beri masukan,” tuturnya.

Rekomendasi

Saat bertemu dengan Presiden, disampaikan pula rekomendasi Muktamar IMM XVIII yang berlangsung di Malang, 1-5 Agustus lalu. ”Rekomendasi muktamar adalah menjadikan Pancasila sebagai sukma bangsa dan pemerintahan, menjaga stabilitas sosial dalam iklim politik ke depan, menyelamatkan generasi muda dari radikalisme dan konten-konten tak baik di media sosial, serta tegas menindak konten-konten di medsos yang tidak mengindahkan aturan,” tutur Ketua Umum IMM Najih Prasetyo.

Dalam sesi yang tertutup untuk wartawan, menurut Haedar, salah seorang mahasiswa sempat menanyakan bagaimana perjalanan Jokowi dari sebagai warga negara kemudian menjadi presiden. ”Beliau menjawab mengalir saja, saya bukan orang elite, tetapi tidak ingin menyerah pada keadaan dan tantangan.

Jadi, selalu melipatgandakan ikhtiar. Kalau orang belajar 8 jam, dia 16 jam. Kalau orang nilainya 10, dia berusaha mencapai 20.

Ini penting untuk anak-anak muda karena tokoh bangsa berbagi dan memberikan motivasi. Hidup itu tidak instan. Menjadi apa pun tidak boleh menerabas, tetapi harus berjuang dan ini harus jadi etos,” tutur Haedar.

Oleh karena itu, Haedar berharap para kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah selain religius juga mandiri dan cerdas berilmu serta memiliki kegigihan berjuang dan mempunyai peran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

menu
menu