Sumber berita: REPUBLIK, NO 144 THN 26, KAMIS 7 JUNI 2018

Sumber foto: REPUBLIK, NO 144 THN 26, KAMIS 7 JUNI 2018

Bank Dunia Sebut Rupiah Masih Kuat

AHMAD FIKRI NOOR

Rupiah berpeluang terus menguat pada pekan ini.

JAKARTA — Bank Dunia menilai, fluktuasi rupiah dalam sebulan terakhir tak perlu dikhawatirkan. Nilai tukar rupiah diyakini tak akan merosot tajam karena Indonesia memiliki kerangka makro ekonomi yang baik.

Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia Rodrigo A Chaves mengatakan, kebijakan fiskal Indonesia masih terkelola dengan baik. Selain itu, Indonesia memiliki peringkat kredit yang lebih baik dibandingkan banyak negara berkembang. "Jadi, menurut kami, pergerakan nilai tukar mata uang dalam jangka pendek tidak perlu dikhawatirkan," ujar Rodrigo di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (6/6).

Meski begitu, Pemerintah Indonesia dinilai harus tetap melakukan reformasi struktural. Menurutnya, ada banyak sekali peluang dan juga keperluan untuk terus melanjutkan

reformasi dan terus melakukan upaya meningkatkan pertumbuhan dan pemerataan.

Terkait dengan kebijakan moneter yang dilakukan Bank Indonesia, Bank Dunia menilai telah berjalan dengan baik. Sebab, bank sentral menjaga suku bunga riil di wilayah positif dan mampu mempertahankan ekspektasi inflasi.

Belum lama ini, meskipun inflasi stabil, BI menaikkan suku bunga sebanyak dua kali dengan total 50 basis poin untuk memberi sinyal bagi komitmennya terhadap stabilitas. Cadangan devisa yang masih besar dan adanya perjanjian pertukaran bilateral, memungkinkan BI untuk mempertahankan nilai tukar rupiah. Walaupun, kata dia, BI telah menjalankan kebijakan yang selayaknya dengan tidak menargetkan tingkat tertentu untuk nilai mata uang.

Bank Dunia juga menyebutkan, nilai tukar rupiah secara efektif tetap 5,3 persen lebih kuat daripada nilai pada Januari-2014 menyusul akibat yang berkepanjangan dari apresiasi riil yang terjadi pasca-Taper Tantrum. Taper Tantrum adalah istilah yang dipakai untuk merujuk lonjakan imbal hasil

2013 yang disebabkan oleh pengurangan jumlah uang yang masuk ke dalam sistem ekonomi secara bertahap oleh bank sentral AS.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sempat menembus level Rp 14 ribu per dolar AS. Tapi, dalam sepuluh hari terakhir, rupiah menguat menjauhi Rp 14 ribu. Berdasarkan kurs tengah BI, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Rabu (6/6) mencapai Rp 13.875 per dolar AS, menguat dibandingkan hari sebelumnya Rp 13.887 per dolar AS.

Terkait pertumbuhan ekonomi, Bank Dunia menurunkan proyeksinya. Ekonomi Indonesia diproyeksi tumbuh 5,2 persen pada tahun ini. Angka itu lebih rendah dari proyeksi sebelumnya yang sebesar 5,3 persen.

"Seiring dengan proyeksi pertumbuhan perekonomian global yang melambat dan arus perdagangan menurun dari level tertingginya baru- baru ini, pertumbuhan PDB Indonesia diproyeksikan mencapai 5,2 persen pada 2018," kata Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Indonesia Frede- rico Gil Sander.

Bank Dunia memperkirakan, konsumsi rumah tangga akan sedikit meningkat. Sementara, pertumbuhan

obligasi negara AS pada

investasi diproyeksikan tetap tinggi karena dorongan tingginya harga komoditas yang terus berlanjut.

Analis Monex Investindo Futures Putu Agus Pransuamitra mengatakan, penguatan rupiah masih dipengaruhi faktor eksternal, yaitu kemungkinan terjadinya perang dagang yang semakin meluas. Putu menuturkan, sebelumnya isu perang dagang hanya teijadi antara AS dengan Cina. Tapi, kini kemungkinan juga teijadi antara AS dengan Meksiko dan Kanada yang menyebabkan dolar AS tertekan.

Selain itu, lanjut Putu, pelaku pasar juga masih menunggu .pengumuman kebijakan moneter The Fed, pekan depan, untuk melihat proyeksi berapa kali lagi suku bunga akan dinaikkan pada tahun ini. Sementara, dari dalam negeri, dua kali kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia serta data inflasi yang masih terjaga menjadi sentimen positif bagi rupiah.

Menurut Putu, rupiah berkesempatan mengalami apresiasi lebih jauh pada pekan ini dibandingkan level saat ini. "Ada peluang menguat lebih jauh di pekan ini, karena kemungkinan The Fed tidak akan terlalu agresif.” ■ antara ed: satria kartika yudha

menu
menu