Sumber berita: REPUBLIKA, NO 142 THN 26, SENIN 5 JUNI 2018

Sumber foto: REPUBLIKA, NO 142 THN 26, SENIN 5 JUNI 2018

Bentrok Suporter Dikecam

  • ERIC ISKANDARSJAH

'Sebenarnya apa yang diributkan?'

BANTUL — Penguras Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) sangat menyesalkan terjadinya kerusuhan suporter yang pecah di Bantul, Yogyakarta, Ahad (3/6) lalu. PSSI pun mengecam kericuhan yang melibatkan suporter Persebaya Surabaya, Bonek, dan Persija Jakarta, the Jak Mania, itu.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) PSSI Ratu Tisha Destria mengatakan, bentrok antarsuporter seharusnya tidak teijadi.-Selain terganggunya keamanan dan keselamatan jiwa, kerusuhan juga menyebabkan jadwaliiga 1 be- rantakan. Akibat kerusuhan tersebut, laga Persija kontra Persebaya pada pekan ke-12 Liga 1 harus ditunda -Sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

“Sangat disayangkan, sikap lepas kendali yang merugikan. Sebenarnya apa yang diributkan?” kata Ratu Tisha, di Jakarta. Senin (4/6).

Ratu Tisha menyatakan, PSSI

menunggu laporan resmi mengenai kronologi kerusuhan di Bantul. Setelah itu, PSSI berharap sikap tegas dapat diambil oleh PT Liga Indonesia Bara (LIB) dan kepolisian agar kejadian serupa tidak terulang.

Ratu Tisha pun mengajak seluruh suporter di Indonesia untuk bersatu serta melupakan semua perbedaan dan masalah yang ada. Peraih gelar Master FIFA ini mengatakan, masyarakat seharusnya bisa menyamakan visi untuk menyukseskan Asian Games 2018 yang akan dilaksanakan di Indonesia mulai 18 Agustus mendatang.

“Kami sedang fokus meng-| imbau kepada semua suporter harus bersatu mendukung timnas di Asian Games 2018. Kita harus sama-sama menyukseskan, jangan malah ribut," ujar Ratu Tisha.

'Anggota DPRD Bantul. Setiva, mengecam bentrokan berdarah yang teijadi pada bulan Ramadhan 1439 Hijriyah ini. Menurut Setiva, masyarakat Bantul sangat dirugikan oleh aksi yang dilakukan oleh para suporter Persija dan Persebaya yang sebetulnya bukan warga setempat.

Ia pun meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul menim
bang ulang terkait kebijakan meminjamkan Stadion Sultan Agung (SSA) ke klub lain. Menurut Setiya, kerusakan parah di SSA dan sekitarnya menjadi kerugian besar untuk masyarakat Bantul.

“Kenyamanan masyarakat Bantul seharusnya menjadi prioritas saat pemkab melakukan pertimbangan dalam pemberian izin penggunaan SSA. Ke depan, harus ada evaluasi,” ujar Setiya.

Kerusuhan di Bantul pecah sejak beberapa jam sebelum pertandingan Persija kontra Persebaya digelar. Kedua kelompok pendukung memang dikenal memiliki hubungan yang buruk di panggung suporter sepak bola Indonesia.

Selain adanya kerusakan di stadion, pertikaian Bonek dengan the Jak Mania juga menyebabkan beberapa orang dari kedua kelompok suporter luka-luka. Suasana di Bantul pun dikabarkan sempat mencekam.

Namun, kepolisian setempat telah memastikan situasi- di Bantul telah kembali kondusif. Kapolres Bantul, AKBP Sahat M Hasibuan, menegaskan, pascabentrok, wilayah Bantul sudah steril dari keberadaan
suporter Persija dan Persebaya. Menurut Sahat, seluruh suporter yang menyebabkan keamanan di Bantul tidak kondusif itu telah diarahkan untuk pergi.

"Subuh pukul 01.00 WIB (Senin 4 Juni) dapat dipastikan bahwa wilayah Yogyakarta, khususnya Bantul, sudah ‘bersih’," kata Sahat di Bantul, Senin.

Sahat mengatakan, meletupnya bentrok fisik yang teijadi di Bantul berawal dari sikap tak dewasa dari Bonek dan the Jak. Sebelum laga dimulai, kata Sahat, aksi saling ejek teijadi antarpendukung kedua tim. Tak terima dengan ejekan yang didengar, kedua kubu mulai melakukan aksi pelemparan hingga akhirnya teijadi bentrokan besar.

Perwira melati dua ini tak mau kepolisian disalahkan terkait teija- dinya kerusuhan tersebut. Sahat menegaskan, jumlah personel dan koordinasi ketika mengamankan laga Persija vs Persebaya sudah sangat maksimal.

“Pengamanan dari kami sebenarnya sudah siap, tapi mereka ini saling ejek dan terpancing, lalu terjadilah kekisruhan,” ujar Sahat.

■ antara ed: gilang akbar prambadi

menu
menu