Sumber berita: REPUBLIKA, NO 142 THN 26, SENIN 5 JUNI 2018

Sumber foto: REPUBLIKA, NO 142 THN 26, SENIN 5 JUNI 2018

Berburu Lailatul Qadar

  • FUJI E PERMANA, MUHYIDDIN

Rasulullah SAW mengencangkan ikat pinggang berfokus beribadah pada akhir Ramadhan.

JAKARTA — Di antara keistimewaan Ra~ M

madhan adalah keberadaan Lailatul Qadar. Rasulullah SAW menyatakan, mereka yang mendapatkan Lailatul Qadar sama dengan mendapatkan pahala ibadah selama seribu bulan.

Tak terasa, 10 hari terakhir Ramadhan mulai Selasa (5/6). Pada waktu ini, keberkahan dan kebaikan disebar dengan amat berlimpah, serta akan diturunkan Lailatul Qadar.

Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Tengku Zulkarnain memaparkan ciri-ciri keberadaan Lailatul Qadar tersebut. Di antaranya, pertama, Lailatul Qadar turun pada malam-malam ganjil dalam 10 hari terakhir Ramadhan.

Dia melanjutkan ciri yang kedua, pada awal malam Lailatul Qadar pada waktu antara Maghrib’dan Isya turun hujan. Namun, hanya rintik-rintik hujan seperti gerimis. "(Ciri) yang ketiga, malam itu terasa syahdu, beribadah terasa khusyuk dan nikmat," kata Zulkarnain kepada Republika, Senin (4/6).

Dia menjelaskan, ciri datangnya Lailatul Qadar yang keempat, setelah malam Lailatul Qadar, keesokan harinya matahari terasa tidak begitu menyengat. Artinya cuacanya teduh. Bagi orang yang mendapatkan Lailatul Qadar, kehidupannya akan berubah.

Zulkarnain menerangkan, orang yang mendapatkan berkah Lailatul Qadar mendapatkan pahala yang setara dengan ibadah selama 83 tahun atau selama 1.000 bulan. "Orang yang dapat pahala ibadah 83 tahun, itu akan otomatis membekas dalam jiwa dan raganya sehingga dia berubah," ujarnya.

Qadar, Zulkarnain memberikan teladan Rasulullah menghadapi 10 hari terakhir Ramadhan. Dia mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim balnya di 10 hari terakhir Ramadhan ini Rasulullah mengencangkan ikat pinggangnya untuk meningkatkan ibadah dan amal saleh.

Rasulullah meningkatkan ibadahnya dengan melakukan iktikaf di masjid. "Sepuluh hari terakhir Ramadhan, Rasulullah iktikaf di masjid, tidak pulang ke rumah,” kata dia.

Zulkarnain menerangkan, saat melakukan iktikaf, Rasulullah makan, minum, dan tidur di masjid. Jadi, di sepuluh hari terakhir Ramadhan, setiap waktu penuh dengan aktivitas ibadah.

Dia mengutip riwayat bahwa Rasulullah juga mengencangkan ikat pinggang saat iktikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Mengencangkan ikat pinggang artinya Rasulullah tidak mencampuri istri-istrinya, Rasulullah meningkatkan ibadahnya serta berfokus pada ibadahnya. "Jadi (ibadahnya) tidak dilalaikan sedikit pun oleh hal-hal yang lain," ujarnya.

Menurut Zulkarnain, 10 hari terakhir Ramadhan merupakan puncak ibadah selama Ramadhan. Itu sebabnya di 10 hari terakhir Ramadhan, Rasulullah meningkatkan ibadahnya. Artinya, di 10 hari terakhir Ramadhan sudah mendekati finis atau akhir Ramadhan.

Maka, kata dia, umat Islam harus sungguh-sungguh melaksanakan ibadah untuk mencapai garis finis dengan sebaik-baiknya. Rasulullah juga mengisyaratkan, di 10 hari terakhir Ramadhan ibadahnya semakin semangat.

"(Saat melakukan iktikaf) kita merasakan kebesaran Allah SWT, kita meninggalkan anak dan istri di rumah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, lebih mencintai Allah SWT daripada segenap isi dunia ini," kata dia.

Ketua Umum Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Prof Jimly Asshi- diqqie menjelaskan, selama Ramadhan sejatinya memang harus mengencangkan ikat pinggang dalam arti mengendalikan diri dari lapar dan dahaga. Namun, menurut dia, pada saat 10 hari terakhir Ramadhan harus lebih

Terkait bagaimana cara berburu Lailatuldikencangkan ikat pinggang itu sehingga bisa memperoleh Lailatul Qadar.

"Kendali dirinya harus semakin dibikin paripurna sehingga kita betul-betul ketemu (Lailatul Qadar)," ujar dia, Senin.

Dia menuturkan, mengencangkan ikat pinggang itu merupakan bahasa simbolis seperti yang dikatakan Imam Ghazali bahwa kualitas diri itu terbagi menjadi tiga tingkatan. Pertama yaitu tingkatan fisik jasmaniah, seperti mengendalikan diri dari lapar dan dahaga serta tidak melakukan hubungan seksual bagi suami-istri yang menjalankan ibadah puasa. 'Itu tingkatan pertama dari kendali diri, dari mengencangkan ikat pinggang," ucapnya.

Tingkatan kedua, lanjut dia, yaitu mengencangkan ikat pinggang dengan mengendalikan pancaindra, seperti penglihatan, pendengaran, penciuman, dan semua yang berhubungan dengan pancaindra lainnya. Pada tingkatan ini, kata dia, kita hanya tertuju kepada Allah.

Sedangkan, pengencangan ikat pinggang yang ketiga yaitu diharuskan mengontrol hati dan pikiran dari hal-hal yang dilarang Allah SWT. Jadi, makin tinggi tingkat pengendalian diri itu, makin tinggi tingkat spiritualitas puasa. “Sehingga pemaknaan ikat pinggang itu jangan hanya dipahami dalam arti fisik seperti tingkatan pertama," katanya.

Dia menambahkan, hadis fi'li (perbuatan) ataupun qauli (perkataan) telah menerangkan bahwa 10 hari terakhir Ramadhan itu masa yang sangat penting di samping 10 hari pertama dan kedua Ramadhan. Pada waktu ini, terbukanya pintu-pintu rahmat dan pintu surga serta tertutupnya pintu neraka. "Maka sangat disayangkan kalau kita tidak berhasil menggapai Lailatul Qadar," ujarnya.

Kendati demikian, menurut dia, tidak ada yang mengetahui dengan pasti kapan waktu turunnya Lailatul Qadar. Sebagian pendapat menyatakan peristiwa itu terjadi pada 25 "Ramadhan yang bertepatan Jumat. “Tapi kan itu di luar pengetahuan manusia secara pasti. Jadi, kita hanya bisa berikhtiar saja," kata mantan ketua Mahkamah Konstitusi ini.

■ ed: nashi h nashrullah

menu
menu