Sumber berita: KOMPAS, NO 025THN 54, MINGGU 22 JULI 2018

Sumber foto: kompasiana.com

Berjualan Makanan Tanpa Warung

Tidak punya biaya untuk mendirikan warung, padahal hasrat menyalurkan hobi memasak menggebu-gebu? Bagi sebagian orang, ada pilihan berjualan tanpa memiliki warung.

Apa jadinya jika bumbu pa- rape dicampurkan pada ayam?
Ide itu direalisasikan Muha- mad Zahwa Arsha atau Arzel. Parape adalah bumbu untuk masakan ikan khas Makassar, Sulawesi Selatan. Ikan berbumbu antara lain bawang merah, asam, dan merica itu lantas dibakar.

Hmmm... terbayang sedapnya Bagi yang ingin mencicipi menu itu, tetapi tidak tahu cara memasaknya atau enggan repot-repot memasaknya, bisa memesan kepada Arzel. Ayam Parape Daeng Pa’ja bisa dipesan lewat platform dalam jaringan. Pengemudi ojek yang bekerja sama dengan platfom daring siap mengantar ke lokasi pemesan.

Sebelum menawarkan ayam parape 'di platform daring, Arzel lebih dulu memasarkan masakan itu kepada teman-teman sekantornya. Respons yang diperoleh positif.
Kini, setiap hari, Arzel rata-rata menerima pesanan 10-20 porsi. Pada akhir pekan, pesanan bisa naik menjadi 40-60 porsi.

Menu yang disediakan berupa ayam campur nasi, paket parape ayam suwir, dan paket setengah ekor ayam. Masakan dibuat setelah ada pesanan. Dengan demikian, Arzel tak perlu menyediakan meja dan kursi untuk pemesan makanan.

"Sampai sekarang usaha ini masih bersifat sampingan dan kami terbantu platform daring untuk promosi, pemesanan, dan ongkos yang lebih efisien,” ujar Arzel yang masih jadi pekeija kantoran.

Beijualan tanpa warung juga dilakoni Irma Wati Siregar (36) sejak setahun lalu. Irma terjun ke bisnis kuliner yang penjualannya secara daring dengan target pasar mahasiswa.

Berbendera "Dapur Neng Raya”, Irma melalui pendaftaran di platform daring. Tak sampai sepekan, menu makanannya sudah bisa ditemui di platfrom itu. Mengusung menu andalan pempek dan lumpia kornet, Irma memasak sendiri makanan itu di rumahnya yang berlokasi tak jauh dari kampus Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat.

"Kalau sampai buka warung atau kedai akan merepotkan karena harus mengurus dua anak di rumah. Cara ini lebih praktis. Urusan rumah tangga tidak terbengkalai, penghasilan tambahan juga didapat,” ujarnya.

Pengalaman berbeda dialami Flaviana Sutarmi (63). Berawal dari kegemaran anak-anaknya memesan makanan lewat platform daring, Sutarmi tak mau kalah untuk mendaftarkan diri ke platform daring. Menu andalannya soto, dengan nama Teras Hijau Daun.

Kendati sudah jadi penjual, tak jarang Sutarmi meminta anak-anaknya memesan makanan sejenis dari penjual lain. Tujuannya membandingkan harga dan rasa makanan.

Beijualan setelah mempelajari pemasaran digital dilakukan Gilang Margi Nugroho, pemilik usaha kuliner Kepiting Nyinyir yang beroperasi sejak Oktober 2016. Gilang sudah lima tahun menjadi penjual kembali (reseller) secara daring berbagai macam produk Dari pengalaman- nyh teijun pada pemasaran digital, Gilang berpikir untuk berbisnis kuliner.

"Aku mempelajari, unggahan makanan yang populer di media sosial adalah olahan daging dan makanan laut. Aku tanya ke teman-teman bloger makanan, mereka membenarkannya Aku memilih makanan berbahan dasar hasil laut,” cerita Gilang.
Risetnya tak berhenti di situ. Gilang juga menentukan hasil laut yang cocok untuk segmen perempuan pekeija berusia 24 tahun ke atas. Akhirnya, kepiting ditetapkan sebagai bahan makanan yang memenuhi semua persyaratan itu.

Gilang yang tidak jago masak meminta ibunya memasak berbagai makanan berbahan dasar utama kepiting dan beberapa hasil laut. Modal awalnya Rp 3 juta, yang Rp 2 juta di antaranya untuk uji coba memasak. Masakan buatan ibunya itu dihidangkan gratis bagi teman-teman karibnya. Dengan catatan, mereka harus mengunggah foto masakan itu di laman medsos. Dalam waktu dua hari, Kepiting Nyinyir mendapat respons- positif di medsos. Bisnis Kepiting Nyinyir dimulai.

Kepiting Nyinyir memberdayakan ibu-ibu di sekitar tempat tinggal Gilang. Satu orang rekannya juga dilibatkan untuk ikut mengelola usaha. Kini, sebanyak 33 perempuan di sekitar tempat tinggal Gilang membantu memasak kepiting.

Penjualan Kepiting Nyinyir dilakukan melalui platform daring. "Aku dan rekanku sampai sekarang tetap tidak membuka restoran. Kami sudah membuka dua gerai Kepiting Nyinyir, yakni di Bintaro dan Duren Sawit. Kedua gerai hanya melayani pesanan untuk dibawa pulang,” katanya

Saat ini, pesanan per hari rata-rata 100-200 kotak, yang melonjak pada akhir pekan. "Aku kumpulkan semua testimoni konsumen, lalu aku unggah di medsos sehingga kedekatan terjalin,” tambah Gilang.

Memperluas pasar
Chief Commercial Expansion PT Go-Jek Indonesia Catherine Hindra S mengklaim, Go-Food adalah layanan pesan antar makanan terbesar di luar China. Saat ini, lebih dari 200.000 mitra pedagang kuliner bergabung dengan Go-Food, yang 80 persen di antaranya masuk kategori usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Dengan bergabung di platform daring, menurut Catherine, UMKM bisa memperluas akses pasar dan meningkatkan efisiensi. Sebab, pelaku usaha tidak perlu memiliki armada pesan-an- tar sendiri. Manfaat lain bagi

UMKM atau pengusaha dapur rumahan adalah bisa memiliki usaha kuliner tanpa perlu punya warung atau restoran.

"Hal terpenting, penanda usaha mereka jelas, sehingga mitra pengemudi kami bisa dengan mudah menemukan lokasi pengambilan makanan kuliner,” ujar Catherine.
Mengutip riset Go-Jek bersama Lembaga Demografi Universitas Indonesia yang dilakukan di sembilan kota, sekitar 80 persen pedagang yang menjadi reponden bergabung dengan Go-Jek untuk meningkatkan kepercayaan pelanggan. Sekitar 76 persen pedagang merupakan pengusaha baru yang belum pernah memulai usaha sebelumnya.

Salah satu cara meningkatkan penjualan kuliner mitra adalah dengan menggelar Go-Food Festival. Dengan memanfaatkan analisis data raksasa, bisa diketahui kuliner apa yang cocok dan banyak dinikmati masyarakat sekitar lokasi festival.
(MEDIANA/ARIS PRASETYO)

menu
menu