Sumber berita: KOMPAS. N0 48 THN-54 RABU 15 AGUSTUS 2018

Sumber foto: Jawa Pos.com

Bintang Terang Para Mantan Ajudan

POLRI

Menjadi pemimpin satuan kewilayahan atau satuan kerja merupakan dambaan setiap perwira Kepolisian Negara RI. Namun, mendapatkan tugas khusus, terutama sebagai ajudan presiden atau wakil presiden, adalah impian.

Meskipun tugas menjadi ajudan presiden atau wapres bukan dalam jabatan struktural Polri, perwira menengah (pamen) Polri yang pernah menerima penugasan itu hampir pasti akan memiliki karier cerah di masa mendatang. Setidaknya mereka akan "pecah bintang” atau mendapatkan promosi sebagai perwira tinggi (pati) Polri.

Terbaru, surat telegram Polri bernomor ST/2014 A/III/ KEP./2018 menempatkan mantan ajudan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Brigadir Jenderal (Pol) Teddy Minahasa Putra, sebagai Kepala Kepolisian Daerah Banten. Teddy bertugas sebagai ajudan Kalla pada 2014-2017. Setelah Teddy dipromosikan sebagai staf ahli Kalla sejak Maret-Agustus 2017, posisi ajudan Kalla ditempati Komisaris Besar (Kombes) Awal Chairuddin.

Penunjukan Teddy sebagai Kepala Polda Banten yang menggantikan Brigjen (Pol) Listyo Sigit Prabowo terbilang menarik. Sebab, ketika ditunjuk sebagai pemimpin Polda Banten, Oktober 2016, Sigit tengah menjadi ajudan Presiden Joko Widodo yang bertugas sejak akhir 2014.

Sigit punya hubungan cukup lama dengan Jokowi. Ketika Jokowi menjadi Wali Kota Solo, Jawa Tengah, Sigit bertugas sebagai Kepala Kepolisian Resor Kota Solo pada medio 2011-2012.

Ketika Sigit dipromosikan sebagai Kepala Subdirektorat II Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Februari 2012, Jokowi sempat pula menghadiri upacara perpisahannya yang berlangsung di Markas Polresta Solo. Kini, setelah memimpin Polda Banten, Sigit mendapatkan promosi untuk mengisi jabatan bintang dua, yaitu Kepala Divisi Pro- pam Polri.

Pergantian pimpinan Polda Banten dari Sigit ke Teddy membuat pucuk pimpinan polda itu dalam dua periode terakhir dipegang oleh pati Polri yang memiliki pengalaman bertugas sebagai ajudan presiden/wapres.

Ketika berbicara terkait penunjukan Kombes Johnny Edizon Isir yang menggantikan Sigit sebagai ajudan presiden, beberapa waktu lalu, Kepala Polri Jenderal (Pol) Tito Kamavian menyatakan, amanah sebagai ajudan presiden/ wapres tidak bisa didapatkan oleh seluruh pamen Polri.

"Jadi ajudan adalah orang yang terpilih dalam semua hal. Kesehatan, jasmani, psikologi, kecerdasan, dan yang paling susah memerlukan kecocokan chemistry,” ujar Tito.

Prestasi
Tugas sebagai ajudan presiden/wapres telah membawa empat perwira Polri sebagai kepala Polri. Mereka adalah Jenderal (Purn) Kunarto yang menjabat pada 1991-1993, lalu Jenderal (Purn) Dibyo Widodo yang memimpin Polri pada 1996-1998, Jenderal (Purn) Sutanto pada 2005-2008, dan Jenderal (Purn) Sutarman pada 2013-2015.

Kunarto, Dibyo, dan Sutanto adalah mantan ajudan presiden ke-2 RI, Soeharto. Ada
pun Sutarman pernah menjadi ajudan presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Selain mereka, terdapat pula Kepala Badan Intelijen Negara Jenderal (Purn) Budi Gunawan yang menjadi ajudan presiden kelima RI, Megawati Soekamoputri.

Sementara itu, para mantan ajudan yang kini masih aktif di antaranya Inspektur Pengawasan Umum Polri Komisaris Jenderal (Komjen) Putut Eko Bayuseno yang pernah menjadi ajudan presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono, pada 2004-2009. Wakil Kepala Polri Komjen Syafruddin juga pernah menjadi ajudan Kalla di periode pertama sebagai wapres.

Mantan ajudan Yudhoyono pada periode kedua, yaitu Inspektur Jenderal Rycko Amelza Dahniel, kini menjabat Gubernur Akademi Kepolisian.

Pengamat kepolisian Universitas Indonesia, Bambang Widodo Umar, menyatakan, penunjukan pamen Polri sebagai ajudan presiden/wapres melalui proses seleksi terbuka.

"Menjadi ajudan presiden dianggap sebagai jabatan karier yang tinggi bagi pamen sehingga perlu diberikan promosi jabatan yang lebih tinggi ketika selesai melaksanakan tugas itu,” kata Bambang.

Akhirnya para perwira berprestasi, yang telah memiliki rekam jejak baik dalam membantu tugas presiden/wapres, diharapkan mampu meningkatkan kualitas kinerja dan pelayanan Polri kepada masyarakat di masa mendatang. Hal itu demi mewujudkan Polri yang profesional, modem, dan tepercaya. (MUHAMMAD IKHSAN MAHAR)

 

menu
menu