Sumber berita: KOMPAS, NO 025THN 54, MINGGU 22 JULI 2018

Sumber foto: jatim.tribunnews.com

Bisnis Kotor Terus Terjadi

Sel mewah dan napi yang tak ada di sel lagi lagi ditemukan, kali ini di Lapas Sukamiskin, Bandung. Ini mengisyaratkan bisnis kotor atau kongkalikong terus terjadi dalam lapas.

JAKARTA, KOMPAS - Bisnis kotor atau kongkalikong antara tahanan dan petugas di lembaga pemasyarakatan bukan hal baru di Indonesia. Namun, masalah ini belum juga berhasil diatasi oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

’’Keseriusan Kementerian Hukum dan HAM untuk melakukan perbaikan secara mendasar menjadi keniscayaan. Dalam kasus ini, kami sudah tidak bisa hanya menyalahkan oknum. Hal ini karena ketika KPK masuk ke Lapas Sukamiskin, ada sejumlah sel dengan fasilitas berlebihan dan berbeda dengan standar sel lainnya,” tutur Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Saut Situmo- rang di Gedung KPK, Jakarta, Sabtu (21/7/2018).

Pada Jumat hingga Sabtu kemarin, tim KPK datang ke Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat. Hal itu guna menindaklanjuti laporan yang masuk sejak April 2018 terkait dugaan jual beli fasilitas kamar, izin, dan sejumlah keistimewaan lain pada pihak tertentu di lapas yang banyak dihuni narapidana (napi) perkara korupsi' itu.

Selanjutnya, KPK menangkap dan menetapkan Kepala Lapas Sukamiskin Wahid Husen bersama stafnya, Hendry Saputra, sebagai tersangka.

Wahid, yang baru memimpin Lapas Sukamiskin pada Maret 2018, diduga menerima suap Rp 47,7 juta, 410 dollar Amerika Serikat, serta dua mobil, yakni
Mitsubishi Triton dan Mitsubishi Pajero.

Suap itu diduga berasal dari terpidana korupsi perkara pengadaan alat satelit monitoring di Badan Keamanan Laut, Fahmi Darmawansyah, dan napi pidana umum, Andri Rahmat. Keduanya pun ditangkap dan kembali dijadikan tersangka. Istri Fahmi, yaitu Inneke Koesherawaty, juga turut dibawa KPK dengan status sebagai saksi.
Berdasarkan temuan penyidik KPK yang ditampilkan melalui video, sel milik Fahmi telah direnovasi sehingga seperti sebuah kamar apartemen.

Di sel itu ada lemari, kasur pegas, penyejuk ruangan, lemari es, televisi layar datar, microwave, wastafel, pemanas air, dan kamar mandi pribadi. Selaia itu, juga ditemukan uang Rp 139,3 juta.

Sementara di sel Andri ditemukan uang Rp 92,9 juta dan 1.000 dollar AS, serta dokumen pembelian dan pengiriman mobil Mitsubishi Triton.

Sebelumnya ”sel mewah” juga pernah ditemukan. Awal 2018, salah satu sel terpidana perkara narkoba di Lapas Banda Aceh diketahui punya fasilitas seperti sel Fahmi. Hal serupa ditemukan di Lapas Cipinang pada 2017, persisnya di sel milik Haryanto Chandra, terpidana perkara pencucian uang.

Pada 2010, Artalyta Suryani, terpidana kasus suap, juga diketahui menghuni sel yang mewah di Rumah Tahanan Wanita Pondok Bambu, Jakarta Timur.

Wakil Ketua KPK Laode M Syarif menyampaikan, ada tarif untuk memperoleh sel yang kemudian bisa direnovasi, yaitu Rp 200 juta-Rp 500 juta.

Tidak ada di sel
Dalam operasinya di Lapas Sukamiskin pada Jumat dan Sabtu lalu, penyidik KPK juga mendatangi sel milik bekas Bupati Bangkalan, Fuad Amin; adik Atut Chosiyah, yakni Tubagus Chaeri Wardana; dan bekas anggota DPR, Charles Jones Mesang. Namun, saat itu Fuad dan Chaeri tak ada di selnya karena disebut sedang berobat. Sel keduanya lalu disegel.

Saut mengingatkan pihak lapas agar tak main-main dalam memberikan izin, termasuk menyalahgunakan fasilitas berobat.

Secara terpisah, Komisioner Ombudsman RI, Ninik Rahayu, menyampaikan, persoalan ini sudah menjadi masalah klasik yang belum juga terselesaikan. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari pengawasan yang lemah dan dugaan ada kongkalikong di internal yang harus segera diatasi.

Kemenkumham menunjuk Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kementerian Hukum dan HAM Jabar Alfi Jahrin Kiemas menjadi Pelaksana Harian Lapas Sukamiskin menggantikan Wahid Husen. (IAN/SEM/E18)

menu
menu