Sumber berita: REPUBLIKA, NO 141 THN 26, SENIN 4 JUNI 2018

Sumber foto: REPUBLIKA, NO 141 THN 26, SENIN 4 JUNI 2018

BNI Syariah IPO2019

  • BINTI SHOLIKAH

IPO BNI Syariah untuk memperkuat modal dan daya saing.

JAKARTA — BNI Syariah berencana melaksanakan penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) pada 2019. Hal itu didasari pertimbangan peningkatan dava saing dan penguatan modal.

Direktur Utama BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo mengatakan, pertumbuhan anorganik tersebut didasari pentingnya mendapatkan

akses ke pasar modal untuk pendanaan di masa depan. Selain dapat meningkatkan posisi kompetitif, BNI Syariah menyakini, IPO juga meningkatkan transparansi dan akuntabilitas perusahaan.

Secara internal, moral dan ikatan hubungan karyawan akan meningkat diiringi rasa kebanggaan bekerja di perusahaan yang telah go public. "BNI Syariah secara internal telah menyiapkan diri dengan dukungan dari pemegang saham untuk mengkaji kemungkinan IPO di waktu yang tepat," kata Firman, saat dihubungi Republika, Ahad (3/6):

Firman menyatakan, akan segera mengumumkan lebih lanjut mengenai rencana IPO tersebut. Hal itu rencananya dilakukan setelah Direksi BNI Syariah berkoordinasi dengan
pemegang saham dan pemangku kepentingan yang terlibat.

Direktur Bisnis BNI Syariah Dhi- as Widhiyati mengatakan, ada beberapa opsi pertumbuhan anorganik telah menjadi pertimbangan BNI Syariah, termasuk IPO tersebut. Sebagai tindak lanjut dari rencana IPO tersebut, direksi BNI Syariah sudah mulai berdiskusi dengan pemegang saham. "Harapan kami, hal tersebut dapat direalisasikan tahun depan," jelas Dhias.

Presiden Direktur Karim Consulting Indonesia Adiwarman Karim menyatakan, 2019 menjadi tahun yang tepat bagi BNI Syariah untuk

tahun depan, kondisi pasar modal di

Indonesia telah membaik dibandingkan tahun ini.

Karim Consulting juga menduga, gonjang-ganjing kurs dolar AS mencapai titik keseimbangan baru pada 2019. BNI Syariah juga menujukkan kinerja ini luar biasa karena dalam waktu singkat berhasil meningkatkan aset hingga hampir Rp 40 triliun saat ini dengan non performing financing (NPF) relatif kecil. "Sehingga, saya duga, langkah yang diambil BNI Syariah memang akan IPO tahun 2019," terang Adiwarman.

Dalam laporan keuangan rutin BNI Syariah sendiri tercatat, pada kuartal pertama 2018 BNI Syariah membukukan laba bersih sebesar Rp 94,48 miliar. Nilai itu naik 21,69 (yoy) persen dari Maret 2017 yang sebesar Rp 77,64 miliar.

 

Aset BNI Syariah sampai Maret 2018 tercatat sebesar Rp 38,54 triliun atau naik 29,07 persen (yoy) dari Maret 2017. Pertumbuhan aset tersebut lebih tinggi dari pertumbuhan industri bank umum syariah (BUS) per Februari 2018 sebesar 7,32 persen (yoy).

Dari sisi bisnis, BNI Syariah telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 23,75 triliun atau naik 11,70 persen (yoy). Komposisi pembiayaan per Maret 2018 paling besar disumbang oleh segmen konsumer sebesar Rp 12,19 triliun dengan porsi 51,3 persen, diikuti segmen kecil dan menengah sebesar Rp 5,16 triliun (21,7 persen).

mikro Rp 1,43 triliun (6,0 persen), dan Hasanah Card Rp 380,47 miliar (1,6 persen).

Kualitas pembiayaan yang tercermin dari rasio pembiayaan bermasalah atau NPF tercatat di level 3,18 persen. Rasio itu di bawah rata-rata NPF industri yang mencapai 5,21 persen.

Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) BNI Syariah per Maret 2018 tercatat mencapai Rp 32,95 triliun atau naik 27,66 persen (yoy). Total nasabah BNI Syariah sebanyak 2,6 juta.

Tahun ini, dua bank umum syariah (BUS) telah melaksanakan IPO, yakni BRI Syariah dan BTPN Syariah. Sementara itu, Bank Syariah Mandiri (Mandiri Syariah) juga menyatakan bakal melaksanakan IPO pada 2019.

 

Bagi BNI Syariah, IPO bukan menjadi interaksi pertama dengan bursa efek. Pada Mei 2015 lalu BNI Syariah sudah menjajal pasar modal dengan menerbitkan Sukuk Mudha- rabah I BNI Syariah. Saat itu, BNI Syariah melepas sukuk untuk menjaring dana sebesar Rp 500 miliar dengan tenor tiga tahun.

Sukuk tersebut sudah jatuh tempo pada Mei 2018 dan dibayarkan perseroan menggunakan dana sendiri, tidak melalui pembiayaan kembali melalui surat utang baru (refinancing).

Dalam Rencana Induk Aristektur Keuangan Syariah Indonesia (Masterplan AKSI) di bagian perbankan syariah, salah satu rekomendasi yang diberikan bagi perbankan syariah adalah memfasilitasi pertumbuhan, baik organik maupun percepatan pertumbuhan.

Dalam poin percepatan pertumbuhan, opsi menggabungkan bank- bank umum syariah milik BUMN, konversi BUMN bank konvensional menjadi bank syariah, dan mendorong bank konvensioal swasta menjadi bank syariah dengan memberi insentif kepada pemegang saham ada di dalamnya.

Di sana juga tercatat, akan ideal untuk memiliki empat hingga enam bank syariah hasil konversi dalam lima tahun. Dalam skenario, perkiraan yang realistis pangsa pasar untuk perbankan syariah akan mencapai 40,4 persen adalah pada 2024.

■ ed: fuji pratiwi

menu
menu