Sumber berita: KOMPAS, NO 021 THN 54, RABU 18 JULI 2018

Sumber foto: Metrotvnews.com

Bulog Diusulkan Impor Gula

Margin impor gula mentah bisa jadi kompensasi kerugian terkait tugas menyerap gula petani. Realisasi impor gula mentah semester I 2018 mencapai 1,5 juta ton dari 1,8 juta ton persetujuan bagi 11 perusahaan.

JAKARTA, KOMPAS - Menteri BUMN mengusulkan agar pemerintah menugaskan Perum Bulog untuk mengimpor gula mentah, selain menyerap gula petani. Dengan demikian, Bulog punya stok yang cukup untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan gula, baik di tingkat konsumen maupun produsen atau petani.
.
Selain itu, margin impor gula mentah (raw sugar) juga jadi kompensasi bagi Bulog ketika rugi saat menyerap dan menjual gula petani. ’’Menteri BUMN usul agar Bulog diberi tugas atau kewenangan mengimpor gula mentah dalam rangka menjaga stabilitas harga dan ketersediaan gula,” kata Deputi Bidang Usaha Industri Agro Kementerian BUMN Wahyu Kuncoro di Jakarta, Selasa (17/7/2018).

Menurut Wahyu, dana cadangan stabilisasi harga pangan (CSHP) yang menggunakan anggaran negara terbatas untuk mengompensasi kerugian Bulog dalam menyerap gula petani.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke N.urwan menambahkan, Bulog bisa saja mendapat kewenangan mengimpor gula mentah jika mendapat penugasan yang diputuskan dalam rapat terbatas Kementerian Koqrdinator Perekonomian.

Selama ini Bulog mendapat penugasan untuk mengimpor beras dan daging beku. Keuntungan dari impor beras dan daging beku bisa juga jadi kompensasi jika Bulog rugi saat menyerap dan menjual gula petani.
Oke menambahkan, pada semester 1-2018, persetujuan impor gula mentah yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan 1,8 juta ton dengan realisasi impor kurang lebih 1,5 juta ton. Persetujuan impor gula mentah diberikan kepada 11 perusahaan produsen gula rafinasi.

Diincar India
Terkait gula, India mengincar Indonesia sebagai pasar, Kepastian kualitas dan konsistensi produksi menjadi jaminan. Namun, India minta kelonggaran agar bisa mengekspor gula rafinasi.

’’Kami mencari kesempatan untuk mengekspor gula ke Indonesia. Harapannya, kami dapat mencatat nilai perdagangan menjadi 50 miliar dollar Amerika Serikat,” kata Duta Besar India untuk Indonesia Pradeep Kumar Rawat saat ditemui setelah forum perdagangan gula di Jakarta, Selasa.

■ Dalam pemaparannya, Managing Director National Federation of Cooperative Sugar Factories Ltd New Delhi Prakash Na- iknavare mengatakan, produksi gula di India saat ini mencapai 32,2 juta ton.
Surplusnya diperkirakan sebesar 9,45 juta ton pada 2018 dan 11,45 juta ton pada 2019.

Prakash menilai Indonesia merupakan negara pengimpor gula terbesar kedua Dia berharap bisa mengekspor gula dengan tingkat Icumsa (International Commission for Uniform Methods of Sugar Analysis) 600-800 satuan atau setara dengan gula rafinasi.

Menanggapi hal itu, Oke Nurwan mengatakan, impor gula yang diizinkan masuk ke Indonesia hanya gula mentah atau setara dengan 1.200 satuan Icumsa. ’’Kami ingin gula mentah itu diproses di Indonesia,” ujarnya

Hingga kini, 95 persen impor gula nasional berasal dari Australia dan Thailand. Ketua Umum Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia Rachmad Hariotomo akgp mempertimbangkan tawaran dari India

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Rush Abdulah berpendapat, impor gula dari India dapat dipertimbangkan sebagai salah satu alternatif. ’’Namun, yang penting ialah pemerintah dapat mengawasi peredaran gula rafinasi yang diolah dari gula mentah itu. Pendataan jumlah gula yang masuk, diproses, dan beredar perlu diperketat,” tuturnya. (FER/JUD)

 

menu
menu