Sumber berita: KOMPAS. N0 48 THN-54 SELASA 14 AGUSTUS 2018

Sumber foto: Kompas.id

Data Penyaluran Kian Terkontrol dengan Digitalisasi

BAHAN BAKAR MINYAK

JAKARTA, KOMPAS - Data penyaluran bahan bakar minyak yang dijual di stasiun pengisian bahan bakar umum kian terkontrol lewat pemantauan secara digital. Bekerja sama dengan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk atau Telkom, PT Pertamina (Persero) akan memasang sensor pencatat data penyaluran tersebut.

Pemantauan ini dinilai penting untuk mengetahui realisasi penyaluran bahan bakar minyak bersubsidi. Kerja sama itu tertuang dalam penandatanganan nota kesepahaman antara Pertamina, Telkom, dan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), Senin (13/8/2018), di Jakarta.

Menurut rencana, digitalisasi pada SPBU tersebut akan diterapkan pada 5.518 SPBU dari 7.415 SPBU di seluruh Indonesia. Para pihak tersebut menargetkan pemasangan sensor digital pada SPBU bisa rampung tahun ini.

’’Tujuannya untuk pendataan (realisasi penyaluran) BBM yang lebih akurat dan pengendalian, baik BBM bersubsidi maupun yang nonsubsidi, dapat terlaksana dengan baik,” ujar anggota Komite BPH Migas, Saryono Ha-, diwidjoyo.

Menurut Saryono, selama ini data realisasi penjualan BBM di SPBU tercatat secara manual. Adapun pemeriksaan dan pengawasan oleh BPH Migas dilakukan dengan cara uji petik pada SPBU tertentu. Lewat pemasangan alat sensor digital pada SPBU, kata Saryono, pencatatan akan lebih akurat sehingga data yang diperoleh lebih dapat dipercaya.

Sementara itu, Senior Vice President Corporare Shared Service Pertamina Jeffrey Tjahja Indra mengatakan, alasan kenapa rencana pemasangan alat sensor digital baru terealisasi lantaran program ini membutuhkan kesiapan matang, baik dalam hal sumber daya, teknologi, maupun investasi. Dengan digitalisasi pada SPBU, kata Jeffrey, setiap liter BBM yang keluar dari mulut selang (nozzle) akan tercatat secara digital.

’’Data yang tercatat dari setiap SPBU itu akan diolah di pusat pengolahan data. Hasilnya bisa dijadikan bahan analisis oleh BPH Migas dan pemerintah. Ini sangat membantu dalam hal pengawasan maupun pengendalian distribusi BBM di lapangan,” ucap Jeffrey.

Direktur Enterprise dan Business Service Telkom Dian Rach- mawan menambahkan, secara teknis alat sensor digital tersebut akan dipasang pada nozzle, tangki timbun BBM di SPBU, dan dispenser. Pihaknya juga menyiapkan platform aplikasi yang berkemampuan mengolah data dan akan meneruskannya ke pusat pengolahan data

’’Mengenai berapa investasi yang dibutuhkan dan siapa saja yang akan menanggung (investasi) masih akan dibahas dalam pertemuan selanjutnya,” kata Dian.

Menurut Dian, secara teknologi, rencana digitalisasi tersebut bisa direalisasikan. Pihaknya cukup siap menjalankan program digitalisasi SPBU tersebut. Apa lagi, jaringan telekomunikasi Telkom sudah mampu menjangkau sebagian besar wilayah Indonesia.

Data dari BPH Migas di 2017 menyebutkan, realisasi penyaluran BBM jenis solar dan minyak tanah 15,039 juta kiloliter, premium 7,045 juta kiloliter, dan BBM umum (pertalite, pertamax, dan sejenisnya) mencapai 55,4 juta kiloliter. Dari semua jenis BBM tersebut, solar dan minyak tanah disubsidi lewat mekanisme APBN.

Sementara itu, alokasi premium yang harus disediakan Pertamina tahun ini 11,8 juta kiloliter, naik dari semula 7,5 juta kiloliter. Keputusan ini dampak dari revisi peraturan tentang penyediaan dan pendistribusian BBM. (APO)

Data-Penyaluran-Kian

 

menu
menu