Sumber berita: REPUBLIKA, NO 141 THN 26, SENIN 4 JUNI 2018

Sumber foto: REPUBLIKA, NO 141 THN 26, SENIN 4 JUNI 2018

Dawam dan Republika

  • A MAKMUR MAKKA

Pengurus The Habibie Center

P

ada 1967 saya bertemu M Dawam Rahardjo di Yogyakarta. Waktu itu, Gema Mahasiswa, majalah mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), diganti oleh pengasuh yang ditunjuk caretaker Dewan Mahasiswa UGM.

Dalam posisi saya sebagai pengurus Dewan Mahasiswa dan mungkin karena menjadi Ketua Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) Cabang Yogyakarta, saya menggantikan pendahulu saya Ichlasul Amal (Rektor UGM, Ketua Dewan Pers).

Waktu itu, caretaker Dewan Mahasiswa dipimpin presidum yang diwakili masing- masing organisasi ekstra universitas.

Dawam dari Fakultas Ekonomi dipilih menjadi pemimpin redaksi Majalah Gema versi baru. Sebetulnya, saya telah ditunjuk sebagai pemitnpin redaksi oleh Dewan Mahasiswa UGM dan permohonan Surat Izin Terbit ke Deppen Jakarta sudah disiapkan.

Tapi, pimpinan HMI Yogyakarta memasukkan nama Dawam. Saya yang pada waktu itu masih level kader tunduk pada keputusan pengurus dan akhirnya menjadi wakil pemimpin redaksi.

Dawam selalu datang memimpin rapat redaksi dan membicarakan kebijakan redaksi di sebuah bangunan kuno keraton pojok kanan Siti Hinggil.

Namun, ia tidak pernah ikut menyiapkan penerbitan di percetakan. Maka, saya dan kawan-kawan redaksi “bergelut” di percetakan setiap satu edisi akan terbit. Majalah ini dicetak di percetakan Radya Indira milik pemda yang terletak di Jalan Gondomanan.

Beberapa penerbitan bulanan, mingguan, dan harian dicetak di percetakan ini. Karena order padat dan karyawan percetakan yang tidak memadai, kami sebagai konsumen pun ikut turun tangan mengerjakan lay out. Perlu waktu dua pekan menyiapkan tata letak.

Setiap akan terbit dan naskah belum cukup untuk mengisi kolom, saya singgah menemui Dawam yang mondok di Asrama Mahasiswa Masjid Suhada Kota Baru.

“Baik, saya akan siapkan." Besoknya, naskah saya jemput lagi. Dalam setiap pembicaraan kami, Dawam akan berseri-seri wajahnya jika kami berbicara soal puisi.

 

Satu hari, kampus UGM dilanda demonstrasi melawan kebijakan Rektor Soeroso. HMI kontra rektor. Saya datang menemui Dawam dan mengatakan Majalah Gema harus memutuskan sikap sebagai pihak yang melawan rektor.

Dawam setuju dan mengatakan, dia yang akan menulis naskahnya. Majalah Gema milik mahasiswa UGM akhirnya menyatakan sikap antirektor pada edisinya yang terakhir.

Sejak itu, berakhirlah karier kami sebagai pengasuh Majalah Gema. Tiba masanya saya pindah ke Jakarta, saya bersilaturahim dengan beberapa kawan.

Saya, antara lain, bersilaturahim ke Dawam di tempat keijanya di Bank of America di sekitar Istana Negara. Saya kira, ini tempat keijanya yang pertama setelah pindah ke Jakarta.

Pada 1989 saya bertemu Dawam ketika saya mendampingi BJ Habibie menerima kunjungan Dawam, Imaduddin Abdulrahim, Syafei Anwar, dan Erick Salam cs, mahasiswa pemrakarsa simposium dan muktamar cendekiawan Muslim di Malang.

Mereka delegasi yang datang menemui Habibie untuk meyakinkan agar bersedia menjadi ketua umum ICMI yang akan diputuskan dalam muktamar tersebut.

Setelah ICMI terbentuk, sejumlah kalangan menghendaki agar dalam struktur ICMI, ketua umum didampingi seorang sekretaris jenderal dan calon sekjen tersebut adalah Dawam Rahardjo.

Pak Habibie yang telah diberikan hak penuh menjadi ketua formatur menyusun pengurus berpendapat lain. Karena, saat awal ICMI berdiri, ICMI penuh tantangan dan polemik, Habibie menempuh jalan praktis.

Ia memilih didampingi birokrat dan administrator berpengalaman untuk segera melaksanakan roda administrasi. Wardiman Djojonegoro yang menjadi deputi di BPPT dipilih sebagai sekretaris pelaksana.

Struktur organisasi dengan seorang sekjen tidak dipakai, gantinya adalah sekretaris pelaksana. Kalangan yang menghendaki Dawam menjadi sekjen kecewa.

Namun, Dawam hanya melampiaskan dengan menulis artikel bernada satire “Jika Saya Menjadi Sekjen ICMI”.

Posisi Dawam di ICMI akhirnya sebagai dewan pakar, jabatan terhormat dalam ke- pengurusan saat itu. Persoalan mengenai posisi sekjen dan sekretaris pelaksana di ICMI selesai.

Pada 1992 saya kembali intensif bertemu Dawam ketika harian Republika akan didirikan ICMI. Saya waktu itu berada dalam seksi pefigurusn SIUPP dalam persiapan
penerbitan Republika. Rapat rutin diadakan di ruangan rapat Wardiman Djojonegoro, sekretaris pelaksana ICMI, dan koordinator persiapan penerbitan harian Republika.

Dawam duduk di bidang redaksi bersama, antara lain, Pami Hadi, Adi Sasono. Pada awalnya calon pemimpin redaksi yang mencuat di kalangan ICMI adalah Dawam dan dia menyatakan bersedia.

Namun, menurut Anif Punto Utomo dalam buku 17 Tahun Republika Melintas Zaman, dalam satu kesempatan tim koran yang dipimpin Wardiman berangkat dari BPPT menuju Deppen.

Setelah basa-basi, Harmoko berkomentar tentang pemimpin redaksi. "Saya rasa, Pak Dawam kok kurang cocok. Koran itu bukan hanya harus dipelototi dari pagi sampai malam, tapi juga ngurus sirkulasi, iklan. Pak Dawam membesarkan Ulumul Quran saja, nanti kita bantu," kata Harmoko.

Ucapan Harmoko itu isyarat Dawam tidak diizinkan menjadi pemimpin redaksi. Tidak dijelaskan alasan detailnya, tapi barangkali karena Dawam yang aktif di LSM dinilai terlalu kritis terhadap pemerintah.

Setelah Republika terbit dan saya menggantikan Pami Hadi menjadi pemimpin redaksi (1997) Dawan masih dalam posisi anggota Dewan Redaksi. Setiap rapat Dewan Redaksi pada Jumat, Dawam rajin hadir. Ia selalu memberikan pandangan kritis terhadap pemberitaan Republika.

Hal yang tidak saya lupakan, ketika ia mengatakan, "Tidak ada satu pun tulisan yang dipublikasikan di Republika bisa saya kliping.” Artinya, tidak ada berita dan artikel Republika yang menarik baginya.

Dawan juga menulis Analisis Ekonomi sekali sepekan. Walaupun dalam kesibukannya, ia selalu membuat redaktur pelaksana gelisah karena selalu menyerahkan analisisnya lewat tenggat.

Walaupun tidak selamanya sepakat dengan pendirian Habibie dalam ICMI, hubungan Dawam dengan Habibie baik. Ia pernah membuat tulisan mengenai Habibie sebagai diaspora Bugis Makassar yang berhasil. Tulisan panjang lainnya yang sangat menarik mengenai “Strategi Pembangunan Habibie” dari pandangan seorang ekonom.

Ketika naskah itu saya minta agar kami muat kembali pada jurnal terbitan The Habibie Center, ia setuju. Saya katakan, kami akan sediakan imbalan yang pantas. Ia segera menjawab, “Baguslah, saya memang perlu uang sekarang." Kini, kawan kita M Dawam Rahardjo telah tiada. Selamat jalan kawan, kau hanya mendahului kami. ■

menu
menu