Sumber berita: KOMPAS. N0 48 THN-54 RABU 15 AGUSTUS 2018

Sumber foto: KOMPAS/PRIYOMBODO | Gambar valuta asing menghiasi tempat penukaran valas di pusat perbelanjaan di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, Sabtu (28/7/2018). Mata uang sejumlah negara di Asian termasuk Indonesia masih melemah akibat ketidakpastian keuangan global. Nilai tukar rupiah berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) pada Jumat

Daya Saing Batasi Industri Optimalkan Keuntungan

JAKARTA, KOMPAS–Pelemahan rupiah terhadap dollar AS berdampak positif bagi pelaku industri berorientasi ekspor, terutama yang kandungan lokalnya tinggi. Sebaliknya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang melemah akan memberikan dampak negatif bagi pelaku industri dan korporasi yang sangat bergantung pada impor.

Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate, Selasa (14/8/2018), sebesar Rp 14.625 per dollar AS. Nilai tukar ini merupakan yang terlemah pada tahun ini.

Di pasar tunai, mengutip laman Bloomberg, Selasa malam, nilai tukar rupiah berkisar Rp 14.579-Rp 14.630 per dollar AS.

Sekretaris Jenderal Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia, Abdul Sobur, menyampaikan, daya saing industri dalam negeri menjadi salah satu pembatas dalam mengoptimalkan potensi keuntungan dari pelemahan rupiah.

”Pengusaha berorientasi ekspor dengan kandungan lokal tinggi mendapat keuntungan dari selisih nilai tukar akibat pelemahan rupiah terhadap dollar AS,” kata Abdul Sobur.

Daya saing yang kalah dari negara lain itu membuat upaya meningkatkan volume ekspor menjadi tidak mudah. Padahal, peningkatan volume ekspor akan menambah devisa bagi negara.

Di sektor tambang, perusahaan yang mengekspor hasilnya justru diuntungkan dengan pelemahan rupiah.

Kepala Komunikasi Korporat PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum, Rendi A Witular, mengatakan, tidak ada dampak signifikan atas pelemahan rupiah terhadap dollar AS bagi perusahaan. PT Bukit Asam Tbk, anak usaha Inalum, justru diuntungkan, sebab sekitar 45-50 persen pendapatan Bukit Asam didapat dari ekspor batubara.

”Kami tidak punya pinjaman atau kewajiban lain dalam dollar AS. Demikian pula komponen pembiayaan perusahaan dalam mata uang dollar AS terbilang kecil,” kata Rendi.

Laba bersih Bukit Asam naik dari Rp 1,72 triliun pada semster I-2017 menjadi Rp 2,58 triliun pada semester I-2018. Harga batubara yang tinggi berkontribusi pada peningkatan laba itu.

Di sektor migas, PT Pertamina (Persero) menerapkan lindung nilai untuk transaksi yang menggunakan valuta asing (valas). Pertamina membutuhkan valas dalam jumlah besar untuk membeli minyak mentah serta bahan bakar minyak (BBM) dan elpiji.

”Transaksi jual beli minyak mentah dan BBM Pertamina terjadi rata-rata 1-3 bulan sebelumnya. Artinya, BBM yang dipakai hari ini adalah hasil kontrak pembelian 1-3 bulan lalu,” ujar Vice President Corporate Communication Pertamina Adiatma Sardjito.

Dalam Neraca Pembayaran Indonesia yang dirilis Bank Indonesia, impor minyak pada triwulan II-2018 sebesar 6,5 miliar dollar AS.

Sementara itu, Sekjen Indonesia National Air Carriers Association (Inaca) Tengku Burhanuddin mengatakan, nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dollar AS membuat maskapai layanan domestik babak belur. Sebab, pendapatan dalam rupiah, sedangkan kewajiban dalam dollar AS. “Kondisi semakin berat karena avtur ikut-ikutan naik karena avturnya diimpor menggunakan dollar AS,” katanya. (CAS/APO/ARN)

menu
menu