Sumber berita: KOMPAS, NO 023 THN 54, JUMAT 20 JULI 2018

Sumber foto: PressReader KOMPAS/RADITYA HELABUMI, Gubernur Bank Indonesia Perry Waijiyo (tengah) didampingi para Deputi Gubernur Bank Ind >nes:a menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia di Jakarta, Kamis (19/7/2018). Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan BI sebesar 5,25 persen.

Daya Tarik Diperkuat

Suku bunga acuan Bank Indonesia bertahan pada 5,25 persen, Suku bungs acuan sebesar itu dinilai sudah cukup kompetitif dan menarik bagi investor asing

JAKARTA, KOMPAS - Bank Indonesia terus berupaya memperkuat daya tarik investasi portofolio di Indonesia untuk m**ye’ stabilitas nilai tukar mpiah. Upaya itu dilakukan tidak hanya dengan menaikkan suku bunga acuan, tetapi juga memperkuat daya saing pasar keuangan Indonesia.

Rapat Dewan Gubernur BI, Kamis (19/7/2018), mempertahankan suku bunga acuan BI atau BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 5,25 persen. Kenaikan suku bunga acuan 100 basis poin atau 1 persen dalam dua bulan terakhir dinilai sudah cukup.
Gubernur BI Peny Waijiyo dalam konferensi pers di Jakarta, kemarin, mengatakan, suku bunga acuan itu sudah cukup kompetitif dan memberi ruang masuknya modal asing ke Indonesia Namun, BI tetap memantau kondisi global dan dalam negeri sebagai bahan evaluasi untuk menentukan kebijakan selanjutnya

’’Kami masih mewaspadai ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi dan pertumbuhan ekonomi dunia yang tidak merata. Risiko ketidakpastian terutama berasal dari meningkatnya perang dagang AS- China dan bank sentral AS yang akan menaikkan suku bunga acuannya dua kali lagi pada tahun ini,” katanya.

Menurut Perry, agar pasar keuangan Indonesia semakin menarik bagi investor asing, BI akan memperkuat sektor tersebut melalui instrumen suku bunga acuan. BI akan memperbaiki suku acuan overnight di pasar uang. Suku bunga acuan yang akan dinamakan Indonia itu tidak lagi berdasarkan kuotasi, tetapi transaksi. BI juga akan mereaktivasi Sertifikat Bank Indonesia (SBI) tenor 9 bulan dan 12 bulan.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhi negara menyampaikan, suku bunga acuan yang dipertahankan

dapat memberikan ruang bagi bank untuk menahan kenaikan suku bunga kredit Dengan demikian, pelaku usaha dapat mengompensasi kenaikan suku bunga kredit dalam batas wajar.

Namun, ada efek negatif kebijakan mempertahankan suku bunga, yakni rupiah masih rentan melemah pasca-kenaikan suku bunga bank sentral AS.

Kenaikan suku bunga acuan BI sebesar 50 basis poin beberapa waktu lalu ternyata belum mampu menurunkan imbai hasil surat berharga negara (SBX) secara signifikan. ’’Imbai has:. SBN IO tahun masih bertahan di Kisaran 7,8 persen dari bulan Mei yang sebesar 8,1 persen. Jadi, belum signifikan menaikkan daya tarik investor asing. Dalam satu bulan terakhir ini, aksi jual bersih investor asing Rp 4,5 triliun,” ujarnya.

Pertumbuhan ekonomi
Hasil Rapat Dewan Gubernur BI memastikan bahwa penting memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak untuk menjaga stabilitas dan implementasi reformasi struktural. Koordinasi ini dalam rangka menurunkan defisit transaksi berjalan. Sebab, pertumbuhan ekspor terindikasi tidak sekuat perkiraan semula akibat pengaruh harga komoditas global dan hambatan perdagangan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, neraca perdagangan pada Januari-Juni 2018 defisit 1,2 miliar dollar AS. BI berpandangan pertumbuhan ekspor bersih yang tidak sekuat sebelumnya itu memengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, ekspor mulai melambat, sedangkan impor melaju sehingga kontribusi ekspor bersih menurun terhadap pertumbuhan produk domestik bruto.

BI memperkirakan pelambatan kineija ekspor dapat menyebabkan pertumbuh an ekonomi pada akhir tahun berkisar 5,1 persen-5,2 persen. "”Untuk mengatasinya, ekspor perlu terus didorong dan impor perlu ditekan,” kata Mirza.

Sementara itu. Dana Moneter Internasional (IMF) tetap mem- pertahankan proyeksi perturn- j buhan ekonomi global pada 2018 dan 2019 sebesar 3,9 persen. IMF juga mengingatkan perang dagang AS-China akan mengurangi pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 0,5 persen pada 2020.

Untuk negara-negara berkembang, IMF memproyeksikan perekonomian akan menguat menjadi 4,9 persen pada 2018 dan 5,1 persen pada 2019. IMF menyarankan negara-negara berkembang untuk meningkatkan ketahanan ekonomi melalui bauran kebijakan fiskal dan moneter yang tepat. Hal itu ditopang reformasi struktural serta meningkatkan keija sama multilateral.

Dalam diskusi yang diselenggarakan Bank MUFG, Kamis, ekonom Bank Danamon Dian Ayu Yustina menyebutkan, perekonomian Indonesia diproyeksikan tumbuh 5)14 persen tahun ini. Menurut dia, sektor manufaktur perlu diperbaiki untuk menopang pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan menarik investasi. Sebab, sektor manufaktur memberikan nilai tambah, yakni menyerap tenaga keija dan berorientasi ekspor. Jika hanya ditopang komoditas, ketika harganya jatuh, pertumbuhan ekonomi langsung terpengaruh.
(HEN/NAEO)

menu
menu