Sumber berita: KOMPAS. N0 47 THN-54 SENIN 13 AGUSTUS 2018

Sumber foto: KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA Ilustrasi

Defisit Migas Butuh Solusi Terpadu

JAKARTA, KOMPAS — Defisit transaksi berjalan triwulan II-2018 akibat membengkaknya impor minyak dan gas bumi butuh solusi terpadu yang mencakup masalah hulu sampai hilir. Kebijakan kewajiban pencampuran biodiesel ke dalam solar bisa menjadi solusi meski perlu penghitungan kembali secara cermat. Defisit neraca minyak dan gas bumi triwulan II-2018 sebesar 2,7 miliar dollar AS dari total defisit transaksi berjalan sebesar 8 miliar dollar AS.

Berdasar catatan Bank Indonesia, impor migas yang tinggi pada periode tersebut disebabkan tingginya permintaan migas menjelang dan sesudah Idul Fitri 2018. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS juga berpengaruh terhadap peningkatan nilai impor migas. Sebagai negara net importir minyak, Indonesia lebih banyak mengimpor produk minyak ketimbang minyak mentah.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Adiatma Sardjito mengatakan, defisit transaksi berjalan sektor migas memerlukan solusi jangka panjang. Kebijakan pemerintah yang menyerahkan blok-blok migas hasil terminasi kepada Pertamina menjadi bagian solusi jangka panjang tersebut.

”Sebagai contoh adalah Blok Rokan di Riau yang mulai 2021 dikelola Pertamina. Dengan produksi minyak 200.000 barrel per hari, Pertamina bisa menghemat devisa sebanyak 80 miliar dollar AS selama 20 tahun (masa kelola Blok Rokan oleh Pertamina) karena impor minyak mentahnya berkurang,” kata Adiatma saat dihubungi, Minggu (12/8/2018), di Jakarta.

Strategi lain, lanjut Adiatma, ialah pembangunan kilang baru di dalam negeri. Namun, pembangunan kilang belum mampu mengurangi impor produk minyak mentah seiring terus naiknya konsumsi bahan bakar minyak (BBM) nasional di masa mendatang. Kilang baru hanya mengurangi impor produk kilang, yaitu BBM ataupun produk petrokimia.

Jangka pendek
Secara terpisah, pengajar di Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti, Jakarta, Pri Agung Rakhmanto, mengatakan, kebijakan kewajiban pencampuran biodiesel ke dalam solar (B20) sudah tepat sebagai solusi jangka pendek mengatasi defisit transaksi berjalan. Namun, perlu dihitung betul berapa kemampuan serapan biodiesel tahun ini untuk bisa mengurangi konsumsi solar.

”Angka yang lebih realistis ini perlu agar gambaran permasalahan yang sesungguhnya dan solusi mendasar yang diperlukan untuk mengatasinya tidak selalu reaktif seperti sekarang ini,” kata Pri Agung.

Pri Agung melanjutkan, Indonesia telah menjadi negara net importir minyak sejak 2004. Adapun defisit neraca transaksi migas terjadi mulai 2011. Dengan demikian, persoalan yang terakumulasi sejak lama tersebut perlu solusi jangka panjang, bukan solusi instan. Selain itu, juga perlu solusi terpadu dari hulu sampai hilir.

”Di hulu, butuh iklim investasi yang kondusif untuk mendongkrak eksplorasi menemukan cadangan minyak baru. Seiring hal itu, pembangunan kilang harus direalisasikan. Sementara di bagian hilir, kebijakan harga BBM yang rasional dan tidak politis mesti ditempuh,” ucap Pri Agung.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Rida Mulyana mengatakan, penghematan devisa dari penerapan B20 tahun ini sekitar 3,4 milliar dollar AS. Pemanfaatan B20 diperkirakan menghemat 4 juta kiloliter solar impor hingga akhir tahun ini.

”Jika pertumbuhan ekonomi terus membaik, penghematan impor bisa 6,2 juta kiloliter pada 2019,” kata Rida.

menu
menu