Sumber berita: KOMPAS, NO 041 THN-54 SELASA 07 AGUSTUS 2018

Sumber foto: beritamoneter.com

Desa Pembeli Pangan

PEREKONOMIAN

Wajah konsumsi desa berubah. Desa sebagai sumber pangan pokok semakin bergeser menjadi pembeli pangan pokok dan barang konsumsi. Minimarket ritel modern mulai masuk ke desa-desa. Warung-warung kecil di desa juga mulai menjajakan aneka pangan olahan industri.

Seiring dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informatika, tingkat konsumsi pulsa di desa juga meningkat Pengeluaran masyarakat desa semakin tinggi, tetapi kurang diimbangi dengan peningkatan penghasilan.

Laporan Akhir 2015 Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian menunjukkan perubahan pola konsumsi di desa Laporan tersebut berjudul ’’Pengaruh Urbanisasi terhadap Suksesi Sistem Pengelolaan Usaha Tani dan Implikasinya terhadap Keberlanjutan Swasembada Pangan”.

Hasil riset itu menyebutkan, konsumsi pangan sumber karbohidrat semakin mengarah ke makanan jadi. Sekitar 84 persen rumah tangga memilih makanan jadi karena faktor keterbatasan waktu untuk memasak sendiri di rumah. Mereka juga menyatakan berbagai ragam makanan jadi mudah didapat di warung-warung di desa. Dalam 10 tahun terakhir, tingkat kontribusi konsumsi pangan lokal makin rendah.

Kontribusi pangan lokal terhadap konsumsi masyarakat desa semakin turun karena daya tarik usaha di desa, terutama pertanian, terus.berkurang. Profesi sebagai petani kian ditinggalkan karena penghasilannya sudah tak menarik lagi. Lebih dari 70 persen petani berusia 40 tahun ke atas, bahkan yang berusia di atas 50 tahun lebih dari 40 persen.

Di sisi lain, alih fungsi lahan pertanian dan perkebuhan terus terjadi. Dalam 10 tahun terakhir, ada beberapa desa yang mengalami konversi lahan sawah lebih dari 100 hektar. Konversi itu umumnya terjadi karena pembangunan infrastruktur, kawasan permukiman, industri, dan prasarana perhubungan.

Tidak mengherankan jika inflasi akibat gejolak harga pangan kerap terjadi di desa. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pada Januari-Juli 2018, desa mengalami tiga kali inflasi dari kelompok bahan pangan, yaitu Januari 2018 sebesar 1,22 persen, Februari (0,43 persen), dan Juli (0,82 persen). Bahan pangan penyumbang inflasi berupa beras, telur ayam, daging ayam, cabai, dan bawang.

Masyarakat desa yang hidup di area produksi pangan sebenarnya memiliki akses yang lebih besar terhadap bahan pangan pokok Hal itu memudahkan mereka memenuhi kebutuhan pangan yang beragam dan seimbang. Mereka juga tidak perlu membeli dengan harga yang lebih tinggi atau lebih kurang sama dengan di perkotaan.

Namun, hal itu tidak terjadi karena perdagangan pangan telah dikuasai mekanisme pasar. Ruang desa untuk menyimpan dan mengolah produk pangan semakin sempit. Sebagian besar bahan pangan produksi desa dibawa ke luar desa tanpa memperhatikan kebutuhan warga.

Di desa-desa penghasil komoditas ekspor, lahan pangan telah berubah menjadi lahan perkebunan. Hal ini semakin membuat penduduk desa bergantung pacja bahan pangan dari luar daerah dan konsumsi olahan industri

Penghasilan penduduk di desa-desa tersebut juga bergantung pada mekanisme pasar global. Jika harga dan permintaan global baik dan meningkat, penghasilan mereka juga tinggi. Namun, sebaliknya, jika harga dan permintaan global turun, penghasilan mereka turun. Kenaikan harga pangan dan barang konsumsi dapat semakin menekan daya beli penduduk desa BPS mencatat, nilai tukar petani (NTP) hanya tumbuh 1,82 persen dari 100,31 pada semester 1-2017 menjadi 102,14 pada semester 1-2018. Khusus nilai tukar petani tanaman perkebunan rakyat (NTPR), pada Juli 2018 sebesar 97,01 atau di bawah batas ideal NTP yang sebesar 100. Jika NTP di bawah 100, petani mengalami defisit karena pengeluaran petani lebih besar ketimbang penghasilannya

Menjaga inflasi pangan pokok dan olahan sangat diperlukan untuk menekan angka kemiskinan. Hal itu tidak cukup dilakukan dengan operasi pasar, program padat karya, dan bantuan pangan nontunai. Upaya itu perlu diikuti dengan perlindungan harga di tingkat petani, peningkatan penghasilan masyarakat desa, dan akses pasar. (HENDRIYO WIDI)

menu
menu