Sumber berita: KOMPAS, NO 038 THN SABTU 04 AGUSTUS 2018

Sumber foto: KOMPAS TV

Devisa Belum Jadi Rupiah

Pemerintah sedang merumuskan insentif agar pengusaha mengonversikan devisa hasil ekspornya ke rupiah. Saat ini sekitar 85 persen devisa hasil ekspor masih berupa valas.

JAKARTA, KOMPAS Devisa hasil ekspor yang masuk ke bank domestik di Indonesia pada 2017 sebesar 129,634 miliar dollar AS. Namun, dari jumlah itu, hanya 15,5 persen atau 20,09 miliar dollar AS di antaranya yang dikonversikan ke rupiah. Kondisi itu dikhawatirkan menghambat stimulus pertumbuhan ekonomi.

”Itu (devisa hasil ekspor yang belum dikonversi ke rupiah) akan mengurangi dorongan ke pertumbuhan ekonomi. Kalau langsung ditukar ke rupiah, tahun ini juga dampaknya akan muncul ke pertumbuhan ekonomi,” ujar Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (3/8/2018).

Berdasarkan data Bank Indonesia, lebih dari 90 persen eksportir sudah membawa devisa hasil ekspor ke dalam negeri. Namun, dari total devisa, yang dikonversikan ke rupiah hanya sekitar 15 persen.

Pada April 2018, devisa hasil ekspor 11,822 miliar dollar AS. Dari jumlah itu, yang masuk ke bank domestik di dalam negeri 10,954 miliar dollar AS atau 92,7 persen di antaranya. Akan tetapi, yang dikonversikan ke rupiah hanya 15,1 persen dari yang masuk ke bank domestik.

Darmin mengatakan, sebagian besar devisa hasil ekspor berupa dollar AS yang disimpan dalam bentuk tabungan valas, deposito, dan giro. Pemerintah sedang merumuskan strategi agar pengusaha menarik devisa hasil ekspor ke dalam negeri dan mengubahnya ke rupiah.

Secara terpisah, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan, salah satu penyebab pengusaha ragu menarik devisa hasil ekspornya adalah 90 persen biaya untuk impor menggunakan dollar AS. Pengusaha khawatir merugi jika dollar AS dikonversi ke rupiah pada saat kondisi nilai tukar rupiah sedang bergejolak. Di sisi lain, aliran valas dari ekspor didominasi dollar AS dengan porsi 95 persen.

Dalam kesempatan itu, Darmin mengatakan, pengusaha tak perlu khawatir dengan nilai tukar rupiah yang fluktuatif. Sebab, Bank Indonesia tengah merumuskan skema tukar-menukar atau swap untuk tenor atau jangka waktu 6 bulan dan 12 bulan. Premi swap akan lebih rendah agar pengusaha tertarik memanfaatkannya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemerintah masih dalam tahap dengar pendapat dengan pelaku usaha agar devisa bisa masuk dan bertahan lama di dalam negeri. Penerimaan dari devisa hasil ekspor akan menambah cadangan devisa.

Cadangan devisa per akhir Juni 2018 sebesar 119,839 miliar dollar AS.

Sri Mulyani menambahkan, sejumlah negara menerapkan kebijakan yang cukup ketat untuk mengatur devisa hasil ekspor dan arus modal keluar. Untuk itu, usulan pemberian insentif atau penyusunan regulasi masih dipertimbangkan. Pemerintah memastikan akan terus menumbuhkan kepercayaan pengusaha dan membuat kebijakan tanpa menimbulkan kepanikan.

Melemah lagi

Rupiah kembali melemah ke posisi Rp 14.500-an per dollar AS meski dana asing mulai masuk ke Indonesia. Hal itu terjadi karena pelemahan yuan dan pembelian valas oleh korporasi di dalam negeri masih besar.

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) pada Jumat (3/8/2018), rupiah melemah ke posisi Rp 14.503 per dollar AS. Pelemahan itu terjadi setelah selama sepekan berada di kisaran Rp 14.400-Rp 14.490 per dollar AS.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia Nanang Hendarsyah kepada Kompas, Jumat, mengatakan, rupiah melemah karena terdampak pelemahan kembali yuan. Yuan melemah karena tekanan perang dagang AS-China yang meningkat.

”Besarnya pembelian valas oleh korporasi semakin menekan rupiah. Korporasi itu terutama importir yang bergerak di sektor minyak dan gas bumi, elektronik, alat berat, dan pesawat terbang,” ujarnya. (KRN/HEN)

menu
menu