Sumber berita: KOMPAS, NO 041 THN-54 SELASA 07 AGUSTUS 2018

Sumber foto: BreakingNews.co.id

Dorong Pertumbuhan Ekonomi

PEKAN BUDAYA ACEH

BANDA ACEH, KOMPAS - Pelaksanaan pesta budaya terbesar di Aceh, yakni Pekan Kebudayaan Aceh Ke-7, bukan tidak wujud merawat budaya, tetapi juga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Dengan jumlah peserta mencapai 35.000 orang, perputaran uang selama Pekan Kebudayaan Aceh diperkirakan besar.

Senin (6/8/2018) digelar pawai budaya dari 23 kabupaten/kota di Aceh. Pawai itu menampilkan seni dan budaya tradisional masing-masing, seperti pakaian adat, tarian, dan permainan tradisional. Tiga gajah jinak yang dihias dengan kain tradisional ikut memeriahkan pawai.

Ribuan warga memadati jalan protokol di depan Masjid Raya Baiturrahman menyaksikan pawai. Di hadapan panggung kebesaran, para kontingen menyuguhkan berbagai atraksi budaya.

Pembukaan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) dilakukan pada Minggu (5/8) malam di Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mewakili Presiden yang berhalangan hadir dan Pelaksana Tugas Gubernur Aceh Nova Iriansy9h memukul rapai sebagai tanda PKA resmi dimulai.

Stadion berkapasitas 45.000 orang itu dipenuhi warga. Hadirin disuguhi tarian kolosal melibatkan 1.100 penari yang menggambarkan sejarah perjalanan Aceh sejak masa sebelum masuk Islam, masa konflik, hingga kondisi terkini.

PKA yang berlangsung hingga 15 Agustus 2018 itu menampilkan berbagai atraksi seni, budaya, permainan tradisional, dan pameran produk lokal. Lalu, ada pertemuan pengusaha, seminar kebudayaan, anugerah kebudayaan, dan festival ku- liner tradisional. Kegiatan PKA ini tersebar di beberapa tempat, seperti Taman Sultanah Safiatuddin, Biang Padang, Museum Aceh, Taman Sari, Krueng Aceh, dan Universitas Syiah Kuala.

Nova mengatakan, PKA memberikan multiefek terhadap kegiatan ekonomi di Aceh. ’’Meski tidak langsung masuk ke kas daerah, efek positif akan langsung dirasakan warga Aceh,” ujar Nova.

Dengan anggaran Rp 23 miliar, Nova meyakini, keuntungan yang diperoleh daerah jauh lebih besar, terutama dalam membangun citra daerah kepada dunia luar karena menjadi ajang promosi wisata dan pengenalan potensi investasi.

Ribuan peserta dari 23 kabupaten/kota se-Aceh memadati Banda Aceh. Mereka menginap di hotel atau menyewa rumah warga. Selain itu, rumah makan, jasa transportasi, dan pusat suvenir juga akan mendapatkan pelanggan lebih banyak. ’’Hasil untuk daerah tidak instan. Yang kami dapatkan dari PKA Ke-7 adalah manfaat, bukan keuntungan. Kami menargetkan keuntungan jangka panjang,” ucap Nova.

Merawat budaya
PKA pertama kali digelar pada 1958 dan diselenggarakan empat tahun sekali. Saat pertama kali dibuka, PKA memberikan spirit yang luar biasa bagi warga Aceh yang saat itu baru saja terlepas dari suasana konflik Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (DI/ TU)- PKA menjadi ajang mempererat persatuan warga Aceh.

Muhadjir mengapresiasi pelaksanaan PKA yang menunjukkan konsistensi warga Aceh melestarikan budaya lokal sebagai identitas bangsa. ”Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Aceh sangat menghargai dan menjunjung tinggi budayanya,” katanya.

Pemerintah pusat serius merawat budaya ditandai dengan pengesahan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. ’’Artinya pemerintah telah memberikan perhatian sungguh-sungguh melindungi budaya lokal,” ujar Muhadjir. Pemerintah juga menganggarkan dana untuk pengembangan kebudayaan. (AIN)

 

menu
menu