Sumber berita: KOMPAS, NO 035 THN 54, SELASA 01 AGUSTUS 2018

Sumber foto: ANTARA FOTO/RENO ESNIR | Petugas merapihkan bendera peserta partai politik 2019 ruangan untuk pendaftaran caleg di Gedung KPU, Jakarta

Dunia Politik Menjadi Tujuan

Dunia politik menjadi tujuan akhir sejumlah penggiat gerakan mahasiswa. Memiliki pemikiran yang mendalam dan reflektif, menjadi tantangan bagi mereka.

JAKARTA, KOMPAS – Dunia politik menjadi tujuan selanjutnya sejumlah penggiat gerakan mahasiswa. Pengalaman dan jaringan yang dimiliki sebagai aktivis hingga adanya cita-cita atau figur tertentu yang ingin dicontoh, menjadi alasan mereka ingin berkarier di politik.

Pada saat yang sama, sejumlah mantan aktivis mahasiswa yang kini menjadi politisi juga mendorong para yuniornya yang serius berkarier di politik. Anggota DPR dari Fraksi PDI-P, Budiman Sudjatmiko, misalnya, intensif memberikan masukan kepada yuniornya jika ingin terpilih menjadi anggota legislatif saat pemilu. ”Banyak anak muda yang antusias berkarier di politik,” kata Budiman saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (31/7/2018).

Saat ini, Budiman mengaku tak khawatir pada kepedulian dan kecerdasan yuniornya. Namun, dia prihatin dengan kecenderungan mereka yang lebih berpikir praktis dan kurang mendalam. Ini membuat mereka kurang mampu berpikir reflektif dan imajinatif. ”Ini berdampak pada perkembangan bangsa pada masa mendatang,” ujarnya.

Kondisi ini, membuat Budiman juga mendorong para yuniornya untuk berpikir mendalam dan reflektif, saat berinteraksi dengan mereka.

Anggota DPR dari Partai Gerindra, Desmond J Mahesa, mengatakan, kecerdasan mahasiswa saat ini, tak perlu diragukan, Namun, ruang membangun daya kritis di kalangan mahasiswa amat terbatas.

Terkait hal itu, Desmond mengaku saat berinteraksi dengan sejumlah yuniornya, berusaha mendorong mereka berpikir lebih kritis dengan perspektif kebangsaan. Namun, tidak dalam konteks politik praktis.

Desmond juga menegaskan, tidak pernah mengajak yuniornya untuk terjun ke dunia politik atau bergabung dengan Gerindra. Namun, ia bersedia membantu membuka jaringan bagi aktivis mahasiswa yang ingin belajar berpolitik atau menginisiasi gerakan kemahasiswaan. ”Kami hanya ajarkan agar jika ke depan ingin berpolitik, mereka siap. Kami tidak mengajak berpihak ke kubu politik atau masuk ke partai tertentu,” kata Desmond.

Figur

Sejumlah alasan menjadi pendorong sejumlah penggiat gerakan mahasiswa terjun ke politik. Amirul Ashraf (22), Wakil Sekretaris Bidang Kajian Ilmu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bandung, misalnya, terdorong untuk menjadi politisi karena ingin mengikuti jejak tokoh HMI, seperti Jusuf Kalla dan Mahfud MD.

Guna mewujudkan cita-citanya menjadi politisi, Ghalib Al Idrus, aktivis mahasiswa Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, memutuskan masuk partai politik dan ikut kontestasi pada Pemilu 2019.

Meski sejumlah penggiat gerakan mahasiswa ingin menjadi politisi, banyak organisasi kemahasiswaan yang menegaskan, aktivitasnya bebas dari pengaruh parpol. Bebas dari pengaruh parpol ini, antara lain ditegaskan M Arief Virgy (22), Kepala Departemen Kajian dan Aksi Strategis Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Padjadjaran (BEM Unpad) terkait organisasinya.

Ia mengaku, saat ini organisasi, pimpinan, maupun anggota BEM Unpad tidak memiliki hubungan dengan partai politik mana pun. Anggota BEM saat harus menanggalkan atribut organisasi eksternal, dan bersatu dalam kepengurusan BEM. (APA/RTG/REN/WER/HAR/AGE)

menu
menu