Sumber berita: KOMPAS. N0 54 THN-54 SELASA 21 AGUSTUS 2018

Sumber foto: Kompas.id

Emas di Puncak Karier

Tekad Lindswell Kwok (26) untuk merebut medali emas Asian Games 2018 (erwujud sudah. Prestasi ini menggenapi semua pencapaiannya selama hampir 20 tahun bergelut di dunia wushu dalam suka dan duka. Setelah ini, ia berencana pensiun dan kembali bercengkerama dengan keluarga yang lama ditinggalkannya.

 

Dengan penuh ketenangan, Lindswell Kwok menaiki podium tertinggi wushu Asian Games 2018 setelah merebut emas di nomor peragaan jurus taijiquan dan taijijian. Ia tersenyum dan tampak sangat percaya diri. Inilah momen pembuktian bahwa ia adalah juara wushu yang paripurna

Emas Asian Games 2018 melengkapi deretan prestasi Lindswell di berbagai tingkatan kejuaraan wushu, mulai dari kelas nasional, Asia Tenggara, hingga dunia. ’’Saya lega, puas, dan senang dengan perolehan emas di Asian Games 2018. Hanya di ajang ini saya belum pernah mendapatkan emas sebelumnya,” ujar Lindswell seusai memastikan sebagai juara, Senin (20/8/2018), di JIExpo, Kemayoran, Jakarta.

Pada dua Asian Games sebelumnya, ratu wushu Indonesia itu gagal meraih emas. Di Asian Games 2010 Guangzhou, ia nyaris merebut emas. Sayang, saat membawakan jurus taijijian, ia sedikit goyang sehingga emas melayang. Bahkan, ia tak mendapat medali apa pun.

Empat tahun kemudian di Incheon, ia juga nyaris mendapat emas. Apa daya, di akhir pertandingan, ia kalah dari atlet China, Yu Mengmeng, dengan selisih nilai hanya 0,13. Ia pulang dengan kalungan medali perak.

’’Saya kecewa sekali karena saya ingin meraih medali emas. Meski begitu, ini menjadi pelajaran berharga buat saya. Ternyata, masih ada celah yang membuat nilai saya kurang,” kata Lindswell, kepada Kompas, ketika itu.

Kepada wartawan, ia pernah menyampaikan niatnya untuk mundur dari wushu karena kedua lututnya cedera Apalagi ia sudah beberapa kali menjadi juara dunia wushu dengan mengalahkan atlet China Namun, negara kembali memanggil Lindswell untuk memperkuat Indonesia saat menjadi tuan rumah Asian Games 2018.

Panggilan negara tak mungkin ditolak oleh Lindswell. Ia pun kembali menggembleng dirinya dengan berlatih keras. Ia terbang ke China, negeri asal olahraga wushu, dan berlatih di sana selama tiga bulan. Tujuannya hanya satu: mewujudkan tekadnya merebut emas Asian Games.

Hasil latihan itu ia pertontonkan di hadapan juri dan penonton di Hall B JIExpo, Kemayoran, termasuk Presiden Joko Widodo. Berbusana dengan nuansa merah-putih, ia tampil meyakinkan pada peragaan jurus pedang (taijijian). Gerakannya anggun, tetapi pada bagian tertentu tegas dan bertenaga

Penampilannya nyaris tanpa cacat sehingga juri memberikan nilai 9,75. Perolehan itu melengkapi nilai yang sudah diraih sehari sebelumnya pada nomor taijiquan, yaitu 9,75. Secara akumulatif, ia mencatat skor 19,50, tertinggi di antara 15 peserta dari negara-negara lain. Ia pun merebut medali emas. Perak direbut oleh atlet Hong Kong, Juanita Mok Uen Ying.

’’Target saya sudah terwujud,” ujar anak terakhir dari pasangan Nur Aini dan Kwok Eng Hin itu dengan rasa syukur.'

Lupakan masa muda
Deretan prestasi yang ditorehkan Lindswell merupakan hasil latihan keras selama hampir 20 tahun. Iwan Kwok (39), kakak kandung Lindswell, menceritakan, bungsu dari enam bersaudara itu belajar wushu sejak usia delapan tahun. Ia melatihnya setiap hari. Ketika kemampuan dan prestasinya mulai meningkat, Lindswell dilatih oleh pelatih profesional, termasuk pelatih dari China.

Keinginan Lindswell untuk belajar wushu amat kuat. Pada usia 12 tahun, saat duduk di kelas V SD, ia memutuskan untuk mengikuti jejak Iwan yang terlebih dahulu tinggal dan berlatih di Pedepokan Yayasan Kusuma Wushu Indonesia di Medan. ’’Sejak itu, dia sudah meninggalkan rumah,” kata Nur Aini, ibu Lindswell.

Sejak itu pula, dunia Lindswell seolah terbatas pada dinding pedepokan, pelatnas wushu, dan arena pertandingan. Ia mesti melupakan masa retnajanya. ’’Seluruh waktunya digunakan untuk berlatih. Ia berlatih setidaknya empat jam sehari. Malam hari, setelah latihan usai pukul 21.00, Lindswell meneruskan latihan seorang diri hingga pukul 23.00,” cerita Iwan yang memilih menjadi juri wushu hingga tingkat internasional.

Demi latihan wushu dan membela Merah Putih, ia juga rela pendidikannya tertunda. Ia belum melanjutkan kuliah sejak dikeluarkan dari Jurusan Psikologi Universitas Sumatera Utara. Universitas tidak bisa menerima kondisinya yang sulit menyesuaikan jadwal kuliah dengan latihan. Meski begitu, ia tak patah semangat. Tekadnya untuk menjadi ratu wushu dunia justru kian berkobar.

Ia terus berlatih, bahkan ketika kedua lututnya cedera. Ia menolak lututnya dioperasi. ’’Saya hanya berusaha untuk menyesuaikan diri dengan sakit yang kerap timbul akibat ■ berlatih. Makanya saya tidak pernah menggunakan obat apa pun. Termasuk ethyl chloride yang biasa digunakan teman-teman untuk menghilangkan rasa sakit,” tuturnya.

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Wushu Indonesia (PBWI) Ngatino mengatakan sudah mengenal Lindswell sejak memasuki pemusatan latihan nasional pada 2008. ”Dia anak yang sangat bertanggung jawab dan mandiri,” kata Ngatino.

Menurut dia, kedua sifat tersebut berpengaruh pada kedisiplinannya selama berlatih.
Kumpul dengan keluarga

Kini, setelah semua impiannya tercapai, Lindswell berpikir lagi soal pensiun. Buat dia, emas Asian Games- 2018 merupakan puncak kariernya sebagai atlet. ’’Saya sudah memaksa dan mempertahankan diri untuk tidak pensiun karena Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018. Jadi, sekarang sudah cukup,” ujar Lindswell.

Ia ingin mengistirahatkan diri terlebih dahulu sebelum meniti kembali masa depannya. Selain itu, ia rindu berkumpul lagi dengan keluarga yang telah ditinggalkan nyaris 20 tahun demi wushu. Ia rindu bercengkerama dengan orangtua dan kakak-kakaknya

Bagaimanapun, prestasi seorang atlet memang ada batasnya. Oleh karena itu, PBWI mesti menyiapkan ratu baru di cabang wushu. ’’Pengurus Besar harus bekerja keras untuk bisa mendapatkan dan mendadar calon pengganti Lindswell,” kata Novita, pelatih kepala wushu Indonesia untuk Asian Games, sekaligus Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PBWI.

Sampai saat ini, kata Susyana Tjhan, pelatih nomor taolu, ’’Belum ada satu pun atlet kita yang tingkat penampilannya mendekati Lindswell.”

 

 

menu
menu