Sumber berita: KOMPAS. N0 53 THN-54 SENIN 20 AGUSTUS 2018

Sumber foto: KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO| Presiden Joko Widodo mengalungkan medali emas kepada atlet taekwondo putri Indonesia, Defia Rosmaniar, setelah di final kelas individual pomsae wanita berhasil mengalahkan atlet taekwondo putri Iran di Balai Sidang, Senayan

Emas untuk Ayah

Mata Defia Rosmaniar berkaca-kaca seusai merebut medali emas yang pertama bagi Indonesia pada Asian Games 2018. Atlet taekwondo pada disiplin poomsae itu membuktikan semua duka, kegagalan, dan rasa sakit pasti terbayar lunas saat gelar juara sudah diraih.

“Medali emas ini saya persembahkan bagi almarhum ayah saya, bagi ibu, para pelatih, dan seluruh rakyat Indonesia,” kata Defia, sebelum menerima pengalungan medali emas.

Keberhasilan Defia merebut emas mengakhiri penantian taekwondo Indonesia selama 32 tahun pada ajang Asian Games. Sejak taekwondo dipertandingkan pada Asian Games Seoul 1986, Indonesia belum pernah merebut medali emas dan Defia mengakhiri dahaga itu.

Keberhasilan itu merupakan buah dari kerja keras dan aneka pengorbanan bagi gadis berusia 23 tahun itu. Sebelum Asian Games 2018, Defia menjalani pemusatan latihan di Korea Selatan sejak Maret 2018. Ia berlatih fisik dan teknik selama 6,5 jam sehari.

Di Negeri Gingsen itu, dia hanya berlatih bersama Muhammad Abdurrahman Wahyu yang berlaga pada nomor perseorangan putra. Ia sempat kesepian dan kangen pada makanan sehari-hari Defia sepanjang lima bulan terakhir.

Kepergian ayah membuat saya berjanji untuk membuat beliau bangga. Hal itu membuat saya berlatih lebih keras

Pada pertengahan April, Defia mendapat kabar duka saat ayahnya meninggal dunia. Ia hanya pulang selama tiga hari ke Bogor dan langsung kembali lagi ke Korsel untuk berlatih. “Kepergian ayah membuat saya berjanji untuk membuat beliau bangga. Hal itu membuat saya berlatih lebih keras,” kata Defia.

Ermanto, sang ayah, adalah inspirasi utama bagi Defia. Ermanto adalah sosok yang terus mendorong Defia mencapai prestasi tertinggi meskipun berbagai masalah merintangi Defia sejak remaja.

Mahasiswi Universitas Negeri Jakarta itu mulai serius berlatih taekwondo sejak kelas 1 SMP. Atas dorongan kakaknya, Defia menekuni taekwondo dan kemudian menjadi atlet daerah.

Semula, Defia berkiprah pada disiplin kyorugi atau pertarungan. Namun, latihan yang sangat keras membuat Defia menderita sakit hepatitis A.
Sang ibu meminta Defia agar berhenti berlatih karena sakitnya itu. Namun, Ermanto tetap mendukung Defia untuk kembali berlatih setelah sembuh dari sakitnya.

Sebagai kompromi dengan ibunya, Defia pindah haluan dari kyorugi menjadi poomsae atau jurus. Poomsae dinilai memiliki risiko yang lebih kecil karena tidak ada benturan tubuh dan latihan fisiknya lebih ringan.

Dengan restu dari ayahnya, Defia berlatih keras dan akhirnya dipanggil ke Pelatnas pada 2012 sebagai atlet yunior. Namun, Defia harus terpental saat jumlah atlet dipangkas dan dia kalah bersaing dengan atlet senior.

Membayar kepercayaan
Defia enggan untuk menyerah dan terus berprestasi di tingkat daerah dan nasional sehingga kembali dipanggil ke pelatnas pada 2013. Defia menjawab kepercayaan itu dengan meraih medali perak pada Islamic Solidarity Games 2013 dan medali perunggu SEA Games Myanmar 2013. Saat itu, Defia masih tampil pada nomor beregu putri dan pasangan.

Pada 2014, Defia meraih medali perunggu pada kejuaraan Dunia Taekwondo di Meksiko. Defia juga merebut medali emas pada Turnamen Chunceon Korea Terbuka 2015 dan Indonesia Terbuka 2015. Defia mulai mendapat kepercayaan untuk tampil pada nomor perseorangan putri.

Untuk dapat tampil pada nomor perseorangan, seorang atlet poomsae harus membuktikan dirinya sangat menguasai jurus dan memiliki keseimbangan serta stamina yang prima. Defia mendapat kepercayaan itu setelah tampil bagus pada nomor pasangan dan tim.

Namun, roda nasib kembali turun ke bawah bagi Defia. Dia kalah bersaing pada seleksi untuk SEA Games Singapura 2015 sehingga sempat keluar dari pelatnas. Defia tidak mau menyerah dengan kondisi itu. Dia berlatih lebih keras dan kembali ke pelatnas pada 2016.

Atlet yang pernah berlatih di dojang Polwil Bogor itu kembali membuktikan dirinya layak kembali ke pelatnas dengan merebut medali emas pada turnamen Taekwondo World Hanmadang 2016 Korea dan Bankimon Open Korea 2016. Defia juga merebut medali perak pada Kejuaraan Taekwondo Asia di Manila, pada tahun yang sama

Prestasi demi prestasi yang ditorehkan Defia membuat Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) melihat ada bakat besar dalam diri Defia. Pada saat yang sama, PBTI sedang menyusun rencana jangka menengah untuk menuju ke Asian Games 2018.

Kami melihat Defia adalah atlet yang memiliki karakter yang kuat. Dia bisa jatuh, tetapi selalu bangkit lagi dan menjadi lebih baik

“Kami melihat Defia adalah atlet yang memiliki karakter yang kuat. Dia bisa jatuh, tetapi selalu bangkit lagi dan menjadi lebih baik. Oleh karena itu, Pak Marciano Norman (ketua umum PBTI) setuju saat Defia dipilih untuk dipersiapkan menuju ke Asian Games 2018,” kata Zulkifli Tanjung, Ketua Harian PBTI.

PBTI mulai menyusun pelatnas jangka menengah dengan dan tanpa bantuan dana dari pemerintah. Atlet-atlet terbaik dipilih dan dilatih secara intensif. Defia menjadi bagian dari program itu dan terus menjalani hari-harinya di pelatnas taekwondo di Cibubur.

Kuliahnya sering terganggu karena harus menjalani latihan intensif dan pertandingan di berbagai negara. Defia juga jarang berkumpul dengan keluarganya karena harus berlatih. Sudah tiga kali Lebaran Defia tidak bisa berkumpul dengan keluarga. Semuanya demi latihan.

“Pengorbanan Defia untuk menjadi juara sangat besar. Dia mengorbankan kesenangan masa remaja dengan tidak bermain bersama teman-temannya. Dia juga sering melewatkan Lebaran bersama keluarganya,” kata Rahmi Kurnia, Manajer Tim Taekwondo Indonesia.

Pelatih tim Indonesia asal Korsel Shin Seung Jung mengatakan, selama di pelatnas, Defia memiliki karakter yang sangat positif. Dia memiliki kemauan kuat untuk melatih gerakkannya sampai sempurna.

Jika melakukan kesalahan dan diingatkan oleh pelatih, dia mau menerima nasihat dan mengingatnya, lalu melakukan perbaikan terus menerus. Defia juga dinilai sangat percaya diri dan tidak pernah takut dengan apapun.

“Karakternya sangat positif. Itu yang membedakan dia dengan atlet yang lain. Itu yang membuatnya mencapai prestasi tertinggi,” kata Shin.

Karakter yang kuat dan semangat pantang menyerah membantunya meraih emas pada Kejuaraan Asia, Mei lalu. Di semifinal, dia sempat menempati posisi keenam, tetapi di final dia menjadi juara.

Ini lapanganku, ini rumahku. Saya harus bisa lebih baik dari (lawan-lawan) lainnya yang adalah tamu di sini

Hal itu terulang lagi pada Asian Games 2018 ini. Pada semifinal, poin Defia tertinggal dari atlet Korsel Yun Jihye pada jurus pertama. Namun, Defia mampu membalik keadaan dan unggul dengan skor yang meyakinkan.

Kemenangan itu menjadi modalnya untuk merebut kemenangan di final. Kemenangan yang membuat Presiden Indonesia Joko Widodo berdiri dan bertepuk tangan sambil tersenyum lebar.

“Ini lapanganku, ini rumahku. Saya harus bisa lebih baik dari (lawan-lawan) lainnya yang adalah tamu di sini. Itulah yang selalu saya pikirkan (sebelum pertandingan),” kata Defia. (JON)

menu
menu