Sumber berita: KOMPAS, NO 039 THN MINGGU 05 AGUSTUS 2018

Sumber foto: AFP/JOHANNES EISELE Greysia Polii (belakang) dan Apriyani Rahayu | berjuang keras mengembalikan bola saat menghadapi Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara (Jepang) pada semifinal Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis di Nanjing, China, Sabtu (4/8/2018). Greysia/Apriyani menyerah pada ganda putri Jepang itu dan Indonesia pulang tanpa gelar dari Kejuaraan Dunia.

Fokus ke Asian Games

JAKARTA, KOMPAS Setelah selalu mendapat gelar juara pada tiga dari empat penyelenggaraan terakhir, tahun ini hasil terbaik yang diperoleh Indonesia adalah semifinal. Itu dicapai ganda putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu.

Tampil pada laga empat besar, Sabtu (4/8/2018), satu-satunya wakil Indonesia di semifinal itu kalah dari pasangan Jepang, Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara, 12-21, 21-23. Tim Merah Putih pun pulang tanpa gelar juara setelah mendapat gelar dari ganda campuran, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, pada 2017 dan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan (ganda putra) pada 2015. Kejuaraan Dunia tidak digelar pada 2016 karena pada tahun tersebut digelar Olimpiade di Rio de Janeiro, Brasil.

Kedua pasangan itu juga menyumbangkan gelar pada Kejuaraan Dunia 2013 setelah Indonesia tak mendapat medali pada tiga penyelenggaraan sebelumnya, yakni 2011, 2010, dan 2009.

”Kami minta maaf karena bermain tidak seperti ekspektasi masyarakat Indonesia, pengurus PBSI, pelatih, bahkan ekspektasi kami sendiri. Kami coba untuk introspeksi kekurangan. Jadi juara memang harus melewati banyak tahap,” kata Greysia dalam laman resmi PP PBSI.

Setelah tampil gemilang menyingkirkan unggulan pertama yang juga juara bertahan, Chen Qingchen/Jia Yifan (China), pada perempat final, Greysia/Apriyani kesulitan dalam menghadapi kecepatan dan kekuatan pukulan Matsumoto/Nagahara. Ganda Jepang berperingkat kesembilan dunia itu juga selalu sigap dalam bertahan. Smes Apriyani atau Greysia beberapa kali dikembalikan ke area lapangan kosong. Mereka pun bisa meraih poin meski dalam posisi bertahan.

Kekalahan Greysia/Apriyani dari Matsumoto/Nagahara memastikan Jepang berhak atas gelar juara ganda putri. Di final, Minggu, Matsumoto/Nagahara akan bertemu rekan senegara, Yuki Fukushima/Sayaka Hirota. Dalam semifinal sesama pemain Jepang, Fukushima/Hirota menang atas Shiho Tanaka/Koharu Yonemoto, 21-19, 21-15.

Jepang pun menghentikan dominasi China pada ganda putri. Dari 23 kali penyelenggaraan Kejuaraan Dunia sejak 1977, China 20 kali menjuarai ganda putri. Hanya pada 1977, 1980, dan 1995, gelar ganda putri masing-masing, didapat pemain Jepang, Inggris, dan Korea Selatan.

Jepang juga berkesempatan meraih gelar juara untuk pertama kalinya pada tunggal dan ganda putra. Kento Momota akan melawan Shi Yuqi (China) pada final tunggal putra, sedangkan Takeshi Kamura/Keigo Sonoda berhadapan dengan salah satu ganda China, Zhang Nan/Liu Cheng atau Li Junhui/Liu Yuchen, yang bertemu pada semifinal, Sabtu malam.

Final senegara juga terjadi pada ganda campuran. Dua pasangan tuan rumah akan berebut gelar juara, yaitu Zheng Siwei/Huang Yaqiong melawan Wang Yilyu/Huang Dongping.

Perbaiki kekurangan

Indonesia sebenarnya menargetkan minimal satu gelar juara. Meski PP PBSI tak menyebutkan nomor tertentu, harapan terbesar ada pada ganda putra, terutama melalui pasangan nomor satu dunia, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon. Namun, Kevin/Marcus tersingkir pada perempat final, sama seperti 2017, karena kalah dari Kamura/Sonoda (Jepang).

Seusai kekalahan pada perempat final, Marcus pun berharap bisa memperoleh hasil lebih baik pada Asian Games. Perebutan tujuh medali emas bulu tangkis akan berlangsung di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, 19-28 Agustus.

Pelatih ganda putra pelatnas bulu tangkis Herry Iman Pierngadi yakin Kevin/Marcus akan bangkit saat tampil di Asian Games. Bersama Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, mereka akan tampil pada kategori beregu dan perorangan.

Dalam sisa dua pekan menjelang Asian Games, program latihan akan difokuskan pada kekurangan mereka, seperti yang terlihat saat tampil dalam Kejuaraan Dunia. Dikatakan Herry, dia akan meningkatkan kualitas serangan Kevin/Marcus.

”Otot tangan harus lebih dikuatkan, latihan smes diperbanyak,” kata Herry menjelaskan fokus latihan yang akan dijalani oleh juara All England tersebut.

Sementara itu, untuk Fajar/Alfian yang tersingkir pada babak ketiga, pelatih akan fokus pada kekuatan tangan serta pertahanan. Mereka kalah dalam adu pukulan cepat dan datar saat melawan Kamura/Sonoda.

Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PP PBSI Susy Susanti mengatakan, dalam sisa waktu dua pekan, faktor penting yang harus dilakukan atlet adalah menjaga stamina dan menyusun strategi berdasarkan analisis lawan yang akan dihadapi.

”Pematangan akurasi pukulan dan adaptasi penguasaan lapangan di Istora juga penting dilakukan. Program di sisa waktu ini akan dijalankan sesuai program yang sudah disusun masing-masing pelatih,” kata peraih emas tunggal putri Olimpiade Barcelona 1992.

Susy juga mengatakan, meski Indonesia gagal meraih gelar dalam Kejuaraan Dunia, ini bukan berarti menjadi gambaran hasil di Asian Games. Susy pun membandingkan hasil dalam Indonesia Terbuka di Jakarta, 3-8 Juli, dan Kejuaraan Dunia.

”Di Indonesia Terbuka, China sama sekali tidak membawa gelar, tetapi mereka mendominasi Kejuaraan Dunia. Setiap pertandingan pasti berbeda kondisi,
situasi, dan performa setiap atlet. Persaingan pasti ketat, tetapi hasil dalam Kejuaraan Dunia belum tentu menjadi gambaran hasil di Asian Games,” lanjut Susy.

Selain memperbaiki kekurangan teknis, PBSI juga mempersiapkan kondisi nyaman bagi atlet. Dikatakan Susy, tim bulu tangkis untuk Asian Games direncanakan tak akan menginap di Wisma Atlet, Kemayoran, karena terlalu jauh dengan Istora. ”Kami sudah meminta izin untuk tinggal di Hotel Century Park,” kata Susy. (IYA)

menu
menu