Sumber berita: KOMPAS, NO 041 THN-54 SELASA 07 AGUSTUS 2018

Sumber foto: Jitunews.com

Fokus Masih pada Domestik

EKSPOR-IMPOR

JAKARTA, KOMPAS - Produk yang diekspor masih belum seluruhnya dari produk industri manufaktur yang pertumbuhannya tinggi. Hal itu mengindikasikan industri yang tumbuh tinggi tersebut masih fokus pada pemenuhan kebutuhan domestik.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip Kompas, Senin (6/8/2018), pada Januari-Juni 2018, sekitar 74,67 persen barang yang diimpor berupa bahan baku/penolong. Adapun barang modal sekitar 16,14 persen dan barang konsumsi sekitar 9,19 persen dari total barang yang diimpor.

Kondisi ini berbeda dengan Januari-Juni 2017, yakni 75,63 persen berupa bahan baku/penolong, 15,07 persen berupa barang modal, dan 9,3 persen berupa barang konsumsi.

Ekonom senior Center on Reform of Economics (CORE) Ina Primiana mengatakan, industri besar dan sedang yang konsisten tumbuh setiap tahun adalah industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki (18,87 persen); mesin dan perlengkapan (18,48 persen); pakaian jadi (17,05 pesen), alat angkutan (14,44 persen); dan ma- kanan-minuman (13,93 persen). Namun, porsi terbesar industri tersebut masih untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Oleh karena itu, industri-industri yang tumbuh tinggi perlu ditingkatkan daya saingnya. Setelah itu, didorong untuk meningkatkan ekspor sehingga menambah cadangan devisa.

’’Apalagi industri yang tumbuh tinggi itu masih mengandalkan bahan baku impor. Pemerintah perlu mengoneksikan industri- industri tersebut dengan industri menengah kecil (IMK) yang dapat menyubtitusi bahan baku impor,” ujarnya

Menurut Ina, IMK yang tidak tumbuh sebenarnya beririsan dengan industri besar Sedang (IBS) yang tumbuh tinggi. IMK yang tidak tumbuh itu antara lain industri mesin dan perlengkapan (-22,83 persen), kendaraan bermotor (-10,47 persen), dan alat angkutan (-6,13 persen).

’’Selain ditingkatkan sebagai industri substitusi bahan baku impor, kapasitas dan kualitas IMK dapat ditingkatkan nilai tambahnya dengan masuk ke dalam rantai IBS terkait,” ujar Ina.

Neraca perdagangan Indonesia pada Januari-Juni 2018 juga defisit 1,02 miliar dollar AS. Defisit terjadi terutama karena peningkatan impor migas dan barang modal untuk pembangunan infrastruktur.

Kondisi defisit itu juga dipengaruhi nilai tukar rupiah yang sejak 6 Februari 2018 bergerak fluktuatif, mulai dari Rp 13.500 hingga kini Rp 14.000-Rp 14.500 per dollar AS.

Menteri Perdagangan Enggar- tiasto Lukita kepada Kompas, Jumat (3/8), mengatakan, Ke- menterian Perdagangan berupaya mengendalikan impor. Importir diminta membuat perencanaan impor selama setahun sesuai kebutuhan.

Importir yang telah diminta itu antara lain di sektor hortikultura, tekstil, minuman beralkohol, dan gula rafinasi. Nantinya, importir lain akan diminta melakukan hal yang sama.

’’Kami juga meminta mereka mengurangi impor dan mengatur jadwal memasukkan barang impor itu,” kata Enggartiasto. (HEN/KRN/CAS)

 

menu
menu