Sumber berita: KOMPAS. N0 42 THN-54 RABU 08 AGUSTUS 2018

Sumber foto: Tribunnews

Fokus Memacu Ekspor

Pelemahan rupiah bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan ekspor. Namun, produk ekspor mesti berdaya saing.

 

JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah berupaya menggairahkan ekspor melalui berbagai stimulus fiskal, termasuk meniadakan pungutan perpajakan bagi industri pengolahan bertujuan ekspor. Pengusaha mesti ikut menopang peningkatan ekspor itu dengan cara memperluas pasar dan mendi- versifikasi produk.

Pada Januari-Juni 2018 neraca perdagangan defisit 1,02 miliar dollar AS. Kondisi ini turut memicu defisit transaksi beijalan yang per triwulan 1-2018 sebesar 5,542 miliar dollar AS atau 2,5 persen produk domestik bruto.

’’Saat ini pemerintah fokus memacu ekspor dan menarik investasi yang bisa mengurangi ketergantungan impor,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam pertemuan dengan eksportir bertema ’’Fasilitas Fiskal untuk Peningkatan Ekspor Nasional”, di Jakarta, Selasa (7/8/2018).

Jika kondisi ini tidak segera diantisipasi, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS akan terus tertekan.

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), Selasa, nilai tukar rupiah Rp 14.485 per dollar AS. Adapun per akhir Juli 2018, cadangan devisa Indonesia 118,312 miliar dollar AS.

Berbagai stimulus fiskal telah diterbitkan pemerintah untuk mendorong eksportir dan memikat investor. Dari aspek pajak dan bea cukai, tersedia insentif berupa percepatan fasilitas, pelayanan, dan uang kembali. Pemerintah juga menerbitkan skema kemudahan fiskal kawasan berikat dan kemudahan impor tujuan ekspor bagi industri pengolahan barang bertujuan ekspor.

Menurut Sri Mulyani, stimulus fiskal akan sia-sia jika eksportir tidak cermat membaca peluang di tengah ketidakpastian global. Momentum perang dagang antara Amerika Serikat dan China bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan ekspor. Eksportir dapat mengidentifikasi barang- barang yang dikenai bea masuk tinggi oleh kedua negara, kemudian produk dalam negeri menggantikan pusar itu.

"Gunakan pelemahan rupiah sebagai kesempatan menambah ekspor. Tentu diiringi perbaikan daya saing,” katanya.

Bernilai tambah
Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengatakan, permasalahan utama ekspor indonesia tak hanya akibat ketidakpastian global dan perang dagang AS-China. Ekspor

Indonesia selama ini ditopang komoditas, antara lain karet dan minyak sawit mentah.

’’Solusinya, mesti meningkatkan ekspor barang-barang bernilai tambah tinggi,” kata Oke.

Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan saat berkunjung ke Kompas, Selasa, menyampaikan, pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF)-Bank Dunia akan, meningkatkan citra Indonesia di kancah internasional. Dalam pertemuan itu, akan dideklarasikan Bali Inisiatif tentang Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

IMF-Bank Dunia juga akan meluncurkan indeks sumber daya manusia. Indeks itu akan menjadi acuan pembangunan sumber daya manusia secara berkelanjutan untuk mencapai SDGs seluruh negara

"Indonesia juga akan menawarkan investasi melalui pembiayaan swasta dan industri jasa keuangan {blended finance). Misalnya di sektor pengelolaan sampah dan air bersih serta kereta ringan di Medan, Bandung, dan Surabaya,” ujarnya.

Indonesia, lanjut Luhut, juga akan mempromosikan pariwisata Bali dan sejumlah daerah sekitarnya Hal itu akan mendorong pendapatan devisa negara, haik secara jangka pendek maupun jangka panjang.

Secara terpisah, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi mengimbau para mitranya, seperti operator bus, truk dan angkutan barang, serta kapal penyeberangan untuk menggunakan bio solar lebih banyak. Diharapkan, penggunaan biosolar atau biodiesel dapat menghemat devisa. (KRN/HEN/ARN)

 

menu
menu