Sumber berita: KONTAN, NO 3347 THN 12, SENIN 4 MEI 2018

Sumber foto: KONTAN, NO 3347 THN 12, SENIN 4 MEI 2018

Gapki Jajaki Peningkatan Ekspor ke Afrika

JAKARTA. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawi) Indonesia (Gapki) sedang melakukan peryayakan pasar Afrika untuk penjualan minyak kelapa sawit )CPO) dan produk turunnya. Pasar yang tengah mereka incar: Tunisia dan Maroko. Rencananya, Gapki mengunjungi kedua negara tersebut setelah Lebaran nanti.

Togar Sitanggang, Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan dan Keberlanjutan Gapki, mengatakan, negara- negara di Benua Afrika mei\ja- di pasar menjanjikan untuk ekspor CPO dan produk turunnya. "Kami sedang kaji untuk mengekspor produk minyak sawit yang sudah diolah atau refined palm oil, seperti minyak goreng dalam bentuk kemasan dan jeriken," u,jamya akhir pekan lalu.

Mcnuru! Togar, potensi pusar ('P)) diui produk turunnya di Afrika saat ini masih cukup besar. Apalagi, dengan melihat populasi di benua hitam yang besar, kebutuhan terhadap minyak nabati juga besar. Bahkan, berdasarkan hasil riset Rabobank yang terbit Januari 2018 lalu, bakal terjadi peningkatan impor minyak nabati pada 2030 mendatang ke Afrika sebanyak 3,5 juta ton. Angka itu naik 33% dibandingkan dengan posisi saat ini sebanyak 10,6 juta ton impor minyak nabati.

Sementara berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang empat bulan pertama tahun ini, Indonesia melakukan ekspor produk olahan CPO senilai US$ 1,27 miliar. Jumlah ini melonjak signifikan, 77,8% dari periode

sunm tahun lalu dongan nilai

US$ 714,4 Juta.

IJnt.uk menyukseskan ekspor produk turunan CPO ke Afrika tersebut, Gapki meminta pemerintah menurunkan dana pungutan ekspor minyak goreng dalam kemasan, agar

Pada 2030,
permintaan
minyak nabati
Afrika mencapai
3,5 juta ton.

bisa memacu pengiriman produk olahan itu ke Afrika. "Kami juga melobi dan sudah meminta dari lama, supaya pungutan untuk minyak goreng kemasan mestinya lebih

rendah dari minyak bulk yang curah," ungkap Togar.

Memang, Suhut Sinagh, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GMNI), menambahkan, potensi pasar Afrika untuk industri minyak kelapa sawit dan produk turunannya masih sangat besar. Terlebih, untuk produk soft noodle dan produk turunan dari olein.

Soalnya, industri kelapa sawit di Afrika belum banyak terutama untuk produk soft noodle. "Mereka sangat memerlukannya juga untuk bahan-bahan kosmetik," kata Sahat. Dia bilang, Afrika Selatan, Mozambik, Kenya, dan Maroko telah membuka pintu impor produk olahan minyak sawit asal Indonesia.

Tane Hadiyantono

menu
menu