Sumber berita: KORAN SINDO, NO 4652 THN 12, SENIN 4 JUNI 2018

Sumber foto: KORAN SINDO, NO 4652 THN 12, SENIN 4 JUNI 2018

Gedung DPR Jadi Target Bom Teroris

Tiga Terduga Teroris Ditangkap di Unri, Polisi Sita Empat Bom Rakitan

Ketua DPR Bambang Soe- satyo (Bamsoet) pun meminta aparat kepolisian meningkatkan keamanan di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta. “Terkait keamanan DPR, saya akan meminta aparat kepolisian untuk terus waspada dan memperketat keamanan untuk menghindari masuknya pihak-pihak yang akan mengganggu keamanan,” katanya kemarin.

Menurut Bamsoet, Gedung DPRmerupakan rumah rakyat yang seharusnya aman dari ancaman teror bom. Karena itu, dia meminta ada pengawasan ketat dari aparat keamanan. “Saya berharap DPR terus menjadi tempat aman bagi siapa saja. Jangan sampai pelukart serta cium tangan dan kening kita kepada anak, istri, atau suami sa^t pergi ke DPR menjadi kenangan yang terakhir,” terangnya.

Bamsoetmengapresiasipe- nangkapan tiga terduga teroris yang merupakan alumni Unri di Gelanggang Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unri, Sabtu (2/6). Menurutnya, penangkapan itu dapat menjadi kekuatan aparat keamanan untuk menuntaskan aksi terorisme. “Ini salah satu bukti keseriusan negara dalam memberantas terorisme di Tanah Air,” pungkasnya.

Sebelum itu Mabes Polri mengungkapkan bahwa salah satu terduga teroris yang ditangkap di Unri berinisial MMZ memiliki niat ingin menghancurkan Gedung DPR dan DPRD Riau dengan bom buatannya. “Satu tersangka berinisial MMZ alias Zamzam
alias Jack dengan alamat KTP di Lubuk Sakat Sampian Raja, Kampar, Riau, bermaksud melakukan tindak pidana terorisme menggunakan bom atau bahan peledak dengan sasaran Gedung DPR RI dan DPRD,” ungkap Kadiv Humas Mabes Polri Irjen (Pol) Setyo Wasisto saat jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, kemarin.

Setyo melanjutkan, pada saat penangkapan MMZ, Polri mengamankan barang bukti berupa bom, anak panah berikut busurnya, video ISIS, dan beberapa buku tentang tata cara pembuatan bom.

“Pada saat ditangkap, para tersangka ditemukan bebera- pabarangbukti antara lain dua bom pipa yang sudah jadi, dua buah busur panah, dan delapan anak panah. Lalu, satu buah senapan angin, satu video dari ISIS, dan beberapa buku-buku. Buku ini ada tentang teknik survival, cara merakit bom, cara navigasi darat, atau ranj au darat,” lanjutnya.

Selain MMZ, petugas juga mengamankan dua orang temannya bernama Rio Bima dan Orandi Saputra yang kini masih berstatus sebagai saksi. “Yang satu sudah tersangka, sementara yang dua lainnya sampai sekarang masih saksi. Tersangka MMZ Alias Jack merupakan anggota kelompok JAD (Jamaah Ansharut Daulah),” ujarnya.

Mengenai alasan para terduga teroris melakukan peledakan bom di Gedung DPR dan DPRD Riau, polisi masih akan mendalaminya. “Penyidik belum melakukan pendalaman ke arah sana. Saat ini
ketiganya masih diperiksa intensif oleh pihak Densus. Tapi yang jelas, mereka akan melakukan aksi bom bunuh diri. Mengapa di Gedung DPR? Itu yang masih didalami,” ucap Ka- , polda Riau Irjen Pol Nandang.

Sebelumnya Densus 88 An- titeror memang melakukan penggerebekan di Kampus Unri yang berada di Kecamatan Tampan, Pekanbaru, Sabtu (2/6). Dalam penggerebekan itu petugas menangkap tiga terduga teroris dan menyita empat bom rakitan aktif, busur panah, senapan, dan bahan-bahan pembuat bom.

Alumni Unri mengapresiasi pengungkapan kasus terorisme oleh polisi itu. Namun, penggerebekan yang dilakukan Densus 88 dan Pol- resta Pekanbaru itu dinilai terlaluberlebihan.

“Saya nilai polisi terlalu berlebihan melakukan peng
gerebekan di kampus. Antara lain mengerahkan personel yang banyak dengan senjata lengkap. Bahkan, ada mobil tempur (rantis/kendaraan taktis) masuk kampus. Seolah- olah kampus sarang teroris. Di sana itu kampus, tidak semba- rangan polisi masuk, apalagi membawa senjata seperti itu,” ucap Yopi Pranoto, alumnus FISIP, Unri, kemarin.

Dia mengemukakan, untuk penangkapan, seharusnya polisi bisa melakukannya lebih santun sebab hal itu mempertaruhkan wibawa kampus.

“Saya yakin polisi bisa menangkap para pelaku di luar kampus sehingga tidak harus membawa-bawa banyak polisi bersenjata ke dalam kampus. Namun, saya tetap mendukung upaya pemberantasan terorisme oleh polisi,” ucapnya.

Hal senada diungkapkan Abdul Hapis, alumni FISIP,

Unri lainnya. Menurut dia, penggerebekan itu akan menjadi stigma negatif bagi masyarakat. Seharusnya polisi harus lebih arif untuk melakukan penangkapan di kampus.

“Saya yakin banyak pihak yang menyayangkan polisi membawa peralatan seperti itu. Itu memang terlalu berlebihan. Walau saya tidak begitu tahu standar operasional prosedur polisi seperti apa. Tapi yang jelas bahwa yang digerebek itu kampus, tidak sembarangan polisi membawa senjata-senjata ke dalam kampus (’ucapnya.

Terkait insiden itu, Hapis mengatakan, pihak rektorat dan para mahasiswa harus menjelaskan perihal penyergapan itu kepada warga agar nama baik kampus bisa pulih.

* mulaakmal/ sindonews/ okezon

menu
menu