Sumber berita: KOMPAS. N0 53 THN-54 SENIN 20 AGUSTUS 2018

Sumber foto: KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO | Kembang api memeriahkan pembukaan Asian Games 2018 di Gelora Bung Karno, Jakarta

Geliat Roh Baru GBK

Perhelatan Asian Games 2018 mengembuskan kembali “nyawa baru” bagi Gelora Bung Karno, salah satu karya monumental Presiden Soekarno.

Begitu Asian Games Federation menunjuk Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games IV 1962 pada saat penyelenggaraan Asian Games III tahun 1958 di Tokyo, Jepang, Presiden pertama RI Soekarno langsung berkomitmen, Indonesia harus membangun sebuah kompleks olah raga terpadu. Maka, dipilihlah kawasan seluas 280 hektar di daerah Senayan.

Soekarno merancang pembangunan gelanggang olah raga terpadu itu dengan sangat terkonsep. Waktu pembangunannya dimulai dengan memilih hari yang baik, tepat di hari wafatnya Pahlawan Nasional Pangeran Diponegoro sebagai simbol tekad bersama-sama seluruh bangsa untuk mewujudkan Indonesia Jaya.

Di tengah kompleks olah raga terpadu itu dibangun stadion utama berbentuk seperti gelang Candrakirana yang melingkar di pergelangan tangan tokoh pewayangan Bima. Di stadion yang diberi nama Gelora Bung Karno inilah upacara pembukaan Asian Games IV 1962 digelar dengan dihadiri lebih dari 110.000 orang.

Di hadapan ratusan ribu penonton dan atlet, Soekarno menegaskan bahwa Asian Games IV menjadi tonggak sejarah olahraga Indonesia. Di sinilah, semangat kebangsaan dan karakter bangsa dibangung bersama-sama.

Selain pembangunan Gelora Bung Karno, pada waktu yang sama dibangun pula Wisma Atlet, Semanggi, Hotel Indonesia, Sarinah, hingga Monumen Nasional.

Pada masa itu, Gelora Bung Karno dikenal sebagai gelanggang olah raga paling besar dan megah di Asia. Bahkan, ada pula yang menganggapnya sebagai kompleks olahraga paling terpadu di seluruh dunia.

Perubahan politik dalam negeri turut berimbas pada nasib Gelora Bung Karno. Setelah peristiwa 1965, nama Gelora Bung Karno sempat diubah menjadi Gelora Senayan, demikian pula nama yayasan yang menaunginya ganti nama dari Yayasan Gelora Bung Karno menjadi Yayasan Gelora Senayan.

Sejak 1966, Gelora Bung Karno harus mandiri secara finansial. Akibatnya, beberapa tahun kemudian pusat olahraga termegah se-Asia itu terus-menerus merugi. Neraca bulan November 1969 menunjukkan bahwa Gelora Bung Karno hutang Rp 25 juta dan piutangnya mencapai Rp 130 juta (Kompas, 4 Januari 1969).

Bangkit kembali
Kini, 56 tahun setelah Asian Games IV 1962, Indonesia kembali mendapat kepercayaan sebagai menjadi tuan rumah Asian Games XVIII 2018. Seperti Soekarno, Presiden ketujuh RI, Joko Widodo berupaya total menjamu dan melayani seluruh negara peserta Asian Games.

Sejak 2016, kawasan Gelora Bung Karno direnovasi menyeluruh, disesuaikan dari sisi budaya agar muncul spirit baru. Tanpa mengubah bentuk aslinya, kawasan olah raga yang memiliki 84 persen Kawasan Terbuka Hijau ini dipercantik untuk semakin mengakomodasi kebutuhan masa kini.

Senada dengan slogan Asian Games 2018 Energy of Asia, Stadion Utama Gelora Bung Karno dihiasi lampu-lampu LED. Stadion ini dilengkapi ruangan VVIP dengan kaca antipeluru di area Royal Box, fasilitas untuk difabel, rumput jenis Zoysia Matrella sesuai standar internasional, dan track atletik dengan sertifikat kelas 1.

Stadion berkonsep stadion pintar (smart stadium) ini dilengkapi panel surya, perangkat tata suara berkapasitas 80.000 watt, sistem keamanan dengan CCTV dan fitur pengenal wajah, dan drainase lapangan mudah kering lengkap dengan penyiram lapangan otomatis. Perhelatan Asian Games 2018 mengembuskan kembali “nyawa baru” bagi bangunan bersejarah Gelora Bung Karno. Hal ini hendaknya menjadi contoh revitalisasi bangunan-bangunan bersejarah lainnya.

menu
menu