Sumber berita: KOMPAS. N0 56 THN-54 JUMAT 24 AGUSTUS 2018

Sumber foto: Sport - Bisnis.com

Hadiah buat Sang Jabang Bayi

Kehamilan istri dan perkiraan sang jabang bayi yang akan lahir pada bulan September nanti memberikan motivasi sangat kuat kepada Khoiful Mukhib untuk tampil merebut emas di ajang Asian Games 2018. Dengan ketenangan, tetap fokus, serta optimisme yang tinggi, Mukhib berhasil mewujudkan tekadnya itu

 Rakaryan Sukaijaputra ”Ini berkah dari istri saya yang sedang hamil dan anak saya yang masih di dalam kandungan. Sejak awal saya juga bilang sama diri sendiri, harus bisa emas,” ungkap pebalap sepeda downhill asal Jepara itu.

Mukhib sesungguhnya bukanlah orang baru di dunia balap sepeda. Atlet kelahiran Jepara, 15 Desember 1990, itu sejak usia 8 tahun sudah menekuni sepeda BMX karena tertarik melihat aksi para pebalap sepeda BMX. Bersama beberapa teman, dia pun mempelajari sepeda BMX dengan memanfaatkan sirkuit BMX yang ada di kota kelahirannya. Setelah itu, ia mencoba kemampuannya di sejumlah kejuaraan.

Berawal dari kejuaraan-kejuaraan kecil yang dimenanginya, Mukhib kemudian semakin keranjingan untuk naik podium dan menerima piala

Bakat yang besar serta tekad yang kuat membuat Mukhib bisa mengoleksi sejumlah piala dari banyak kejuaraan yang diikutinya.

’’Saya cukup lama di BMX bersama Toni (Syarifudin). Toni sering mengikuti kejuaraan di Jepara dan saya juga suka ikut main di Solo. Tapi, karena ada tawaran yang lebih menarik, saya akhirnya pindah ke downhill. Meski begitu, saya masih sering bermain BMX,” papar Mukhib yang pernah mengalami patah tulang bahu saat berlatih BMX sekitar tahun 2007.

Dari balap sepeda BMX, Mukhib kemudian bertemu dengan Manajer 76 Team Rudy Purnomo saat berlangsung kejuaraan BMX di Jepara pada 2009. Melihat kemampuan Mukhib, Manajer 76 Team itu menawari Mukhib untuk bergabung dengan tim yang akan dikembangkan itu. Dengan fasilitas sepeda pinjaman dan berbagai dukungan lain, Mukhib bergabung di 76 Team hingga sekarang.

’’Waktu itu di tim saya belum ada pelatih, jadi saya belajar dari atlet lain. Saya pun mulai ikut kejuaraan-kejuaraan dan pernah menjadi juara nasional pada 2010. Waktu itu namanya UKDI, belum IDH (Indonesia Downhill),” ujar anak ketiga dari enam bersaudara itu.

Prestasi Mukhib di nomor downhill memang cukup mentereng. Dia menjadi juara nasional kelas elite pada IDH 2012 dan 2013, kemudian dia mengulangi lagi pada 2017. Akan tetapi, pada PON Jabar 2016, Mukhib dikalahkan oleh Popo Ario Sejati dalam perebutan medali emas.

Bersama Popo pulalah Mukhib kemudian mewakili Indonesia di Asian Games 2018. Catatan waktunya kalah dari Popo saat babak kualifikasi, tetapi Mukhib tetap tampil tenang dan kemudian merebut medali emas untuk Indonesia.

Meski sering jatuh saat berlatih downhill, Mukhib belum pernah mengalami cedera serius sehingga tidak ada trauma yang mengganggunya saat balapan. ’’Paling hanya lecet-lecet, keseleo, atau dislokasi, tapi tidak ada yang serius,” lanjut Mukhib yang hanya lulus SMP, tetapi kemudian mengikuti Paket C dan lulus pada 2015.

Prestasi internasional
Melihat pembawaan Mukhib yang sangat kalem, begitu juga gaya berbicaranya, orang mungkin akan ragu dengan kemampuan Mukhib dalam balapan downhill. Namun, justru dari pembawaan yang kalem itulah terpendam kekuatan Mukhib dalam mengontrol emosinya saat balapan.

’’Kalau soal skill rata-rata pebalap di Asia ini sama saja. Satu levellah. Yang akan membedakan adalah bagaimana kita bisa mengontrol emosi dan sangat fokus saat balapan. Di downhill ini fokus itu adalah segalanya. Kalau tidak bisa fokus, ya, bisa celaka,” papar Mukhib beberapa waktu lalu.

Setelah menikah dengan Hamida Nasihati pada Juli 2017, Mukhib semakin termotivasi untuk berprestasi di balap sepeda downhill. ’’Setelah Asian Games ini, saya harus berlatih lebih keras lagi karena ingin mengikuti berbagai kejuaraan internasional. Pada Kejuaraan Dunia di Australia 2017, saya berada di posisi ke-62. Tekad saya harus lebih bagus lagi dari itu,” ujar sang calon ayah itu.

Mukhib memang contoh atlet yang tidak cepat, puas. Meski akan menerima uang hadiah sedikitnya Rp 2,5 miliar, yaitu Rp 1,5 miliar dari pemerintah dan Rp 1 miliar dari PB ISSI, serta kesempatan untuk menjadi pegawai negeri, sang calpn ayah itu tidak terpukau dengan besarnya hadiah itu.

’’Saya sendiri belum tahu untuk apa, tapi yang pasti untuk anak. Kalau rumah, saya sudah punya, mungkin butuh renovasi saja. Tawaran untuk jadi pegawai negeri tentu akan saya terima karena dengan begitu saya bisa lebih fokus lagi untuk berlatih. Ditempatkan di instansi mana pun saya siap, asal saya boleh tetap berlatih dan ikut kejuaraan,” tutur Mukhib.

menu
menu