Sumber berita: KONTAN, NO 3350 THN 12, KAMIS 7 JUNI 2018

Sumber foto: KONTAN, NO 3350 THN 12, KAMIS 7 JUNI 2018

Harga Batubara Bisa Mencetak Rekor Lagi

Michelle Clysia Sabandar

JAKARTA. Otot batubara masih belum kendor juga. Harga komoditas energi ini masih bertahan di level tinggi. Pada perdagangan Selasa lalu (5/6), harga batubara Newcastle kontrak pengiriman Juli 2018 ditutup di US$ 109,60 per ton. Sehari sebelumnya, harga batubara bahkan mencapai US$ 109,80 per ton, yang merupakan rekor harga tertinggi.

Komoditas bahan bakar ini memang tengah diselimuti sentimen positif. Salah satunya, permintaan batubara saat ini memang tengah meningkat. "Hal ini dikarenakan cuaca panas, sehingga kebutuhan batubara bertambah," jelas Ibrahim, Direktur Utama Garuda Berjangka, kemarin.

Sejumlah daerah memang melaporkan suhu udara di awal musim panas tahun ini lebih tinggi ketimbang biasanya. Menurut Biro Meteorologi Australia, musim panas ta
hun ini mencetak rekor musim panas terpanas kedua di negara benua tersebut.

Lantaran cuaca yang sangat panas, kebutuhan listrik atau bahan bakar untuk pendingin juga meningkat. Hal ini mendorong permintaan batubara juga naik, terutama untuk memasok kebutuhan bahan bakar pembangkit listrik.

Impor China

Analis menilai harga batubara masih berpotensi menguat. Dalam waktu dekat, ada peluang harga batubara menembus US$ 110 per ton.

Fundamental batubara memang masih solid. International Energy Agency (IEA) juga memperkirakan permintaan batubara masih bakal meningkat setidaknya hingga 2022 mendatang. Antara saat ini hingga 2022 nanti, IEA memprediksi permintaan batubara rata-rata naik 3,2% per tahun.

Memang, AS saat ini sedang menggenjot produksi batuba
ra. Tetapi, China punya rencana memperbesar impor batubara dari AS untuk menurunkan defisit perdagangan antara AS dan China. "Kebijakan China termasuk yang akan menentukan harga batubara," kata, Wahyu Tribowo Laksono analis Central Capital Futures.

Cuma, pelaku pasar juga perlu mewaspadai perkembangan di Eropa. Asal tahu saja, Jerman berencana mengurangi penggunaan batubara di negara tersebut.

Kemarin, Kanselir Jerman Angela Merkel telah membentuk komisi untuk menyusun jadwal dan detail rencana pengurangan penggunaan batubara sebagai bahan bakar energi di Jerman. Hal ini merupakan bagian dari rencana Jerman terkait perbaikan iklim, yang ditargetkan bisa terwujud di 2030 nanti.

Komisi tersebut antara lain bertugas mencari cara bagaimana mengurangi pemakaian batubara tanpa mengganggu
pasokan listrik di negara tersebut. Selain itu, komisi juga bertugas menyediakan lapangan kerja baru bagi orang- orang yang bekerja di industri terkait batubara.

Toh, analis menilai dalam jangka pendek harga batubara masih akan naik. Ibrahim memprediksi hari ini harga batubara akan bergerak di rentang US$ 108,20-

US$ 110,30 per ton. Sedang sepekan ke depan harga akan bergerak antara US$ 106,20- US$ 110,10 per ton.

Prediksi analis Central Capital Futures Wahyu Tribowo Laksono lebih optimistis. Menurut hitungan dia, bila harga batubara mampu menembus resistance US$ 110 per ton, maka harga berpotensi me- • nguat hingga US$ 110,80 per ton. Bila level tersebut juga ditembus, harga bisa mencapai US$ 111,50 per ton. Sepekan ke depan, Wahyu memprediksi harga batubara bergerak di kisaran lebar, yakni US$ 105-US$ 113 per ton. ■

 

 

menu
menu