Sumber berita: INVESTOR DAILY, SELASA 5 JUNI 2018

Sumber foto: INVESTOR DAILY, SELASA 5 JUNI 2018

Harga BatuBara Juni Naik Jadi US$ 96,61/Ton

JAKARTA - Harga batu bara cembali merangkak naik pada >ertengahan tahun ini. Ber- iasarkan penetapan Harga 3atu Bara Acuan (HBA) Ke- nenterian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) periode [uni 2018, sebesar US$ 96,61/ ton. Harga tersebut naik 7,9% dibandingkan HBA pada Mei kemarin yang berada di level US$ 89,53/ton.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kem^nterian ESDM Agung Pribadi mengatakan harga patokan batu bara pada Juni ini lebih tinggi daripada HBA pada Mei kemarin. “Untuk Juni ini HBA ditetapkan US$96,61/ ton,” kata Agung di Jakarta, Senin (4/6).

HBA ditetapkan Kementerian ESDM berdasarkan index pasar intenasional. Ada 4 index yang
dipakai yakni Indonesia Coal Index (ICI), New Castle Global Coal (GC), New Castle Export Index (NEX), dan Platts59.

Juni 2017 Jui2017 Agustus 2017 September 2017 Oktober 2017 November 2017 Desember 20117 Januari 2018 Februari 2018 Maret 2018 April 2018 Mei 2018 Juni 2018

 

Adapun bobot masing-masing index sebesar 25% dalam formula HBA.

Agung menerangkan penyebab menguatnya harga batu bara disebabkan oleh Tiongkok yang membatasi produksi batu bara. Kondisi itu membuat permintaan batu bara alias impor Negeri Tirai Bambu melonjak. “Penyebab lainnya harga minyak dunia yang naik,” ujarnya.

Berdasarkan catatan Investor Daily, HBA mengalami fluktuasi selama paruh pertama 2018. Pada awal tahun kemarin HBA dibuka pada posisi US$ 95,54/ ton. Sebulan berselang HBA merangkak ke level US$ 100,69/ ton.

Kemudian pada Maret HBA ditetapkan US$101,89/ton yang melampaui rekor dua tahun lalu atau tepatnya di akhir 2016 sebesar US$ 101,69/ton. Hanya
saja pada April kemarin HBA melorot ke posisi US$ 94,75/ ton. Melemahnya harga terus teijadi hingga Mei dengan HBA ditetapkan sebesar US$ 89,53/ ton. Pasalnya Tiongkok mengeluarkan kebijakan membatasi impor batu bara.

Secara terpisah, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia menyebut fluktuasi harga emas hitam sudah diprediksi oleh pelaku usaha. Faktor utama pergerakan harga tersebut dipengaruhi oleh Tiongkok. Namun dia menyebut sulit memprediksi harga akan terus menguat hingga akhir tahun nanti.

‘Terus terang sulit diprediksi karena dominannya faktor-faktor eksternal. Bagi pengusaha tentu harapannya harga terus menguat,” ujarnya, (rap)

 

menu
menu