Sumber berita: KOMPAS, NO 006 THN 54, RABU 04 JULI 2018

Sumber foto: Viva.co.id

Harga Gas Diupayakan Turun

Perusahaan Gas Negara mengakuisisi Pertamina Gas. Harga gas diupayakan lebih rendah, tetapi kalangan usaha pesimistis. Mereka menagih janji.

JAKARTA, KOMPAS - PT Perusahaan Gas Negara Tbk atau PGN mengupayakan harga gas yang sampai ke konsumen menjadi lebih murah. Hal itu menyusul proses akuisisi PGN terhadap 51 persen saham PT Pertamina Gas atau Pertagas yang merupakan anak usaha PT Pertamina (Persero). Nilai akuisisi tersebut mencapai Rp 16,6 triliun.

Direktur Utama PGN Jobi Tri- ananda mengatakan, dengan diakuisisinya Pertagas oleh PGN,tidak akan ada lagi persaingan bisnis hilir pendistribusian dan penjualan gas antara Pertagas dan PGN. Begitu pula masalah- masalah pembangunan infrastruktur gas yang tumpang tindih. Dengan demikian, akuisisi diharapkan bisa menciptakan efisiensi.

’’Kami akan terapkan itu (penurunan harga gas). Kami lihat apakah dengan aturan yang ada, program itu (penurunan harga) bisa diwujudkan. Hari ini saya tidak beijanji menurunkan harga Kami perbaiki terlebih dulu mana yang jadi prioritas badan usaha dan pemerintah,” ujar Jobi saat mengumumkan nilai transaksi akuisisi Pertagas oleh PGN, Selasa (3/7/2018), di Jakarta.

Proses akuisisi ini merupakan bagian dari pembentukan perusahaan induk (holding) minyak dan gas bumi yang ditandai dengan penerbitan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2018 tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia ke Dalam Modal Saham Perseroan PT Pertamina Pertamina selaku perusahaan induk kini membawahkan PGN sebagai anak usaha.

Soal nilai akuisisi, Direktur Keuangan PGN Said Reza Pahlevi mengatakan, proses valuasi saham Pertagas melalui metode yang benar dan ada pembandingnya. Proses itu juga butuh waktu yang panjang. Dari dana yang dikeluarkan PGN untuk mengakuisisi Pertagas, tak semuanya berasal dari kas internal PGN.

Hanya sepertiga saja dari Rp 16,6 triliun itu yang diambil dari kas PGN.Sisanya atau dua pertiga dari eksternal (pinjaman),” ucap Reza

Sementara itu, Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (Iress) Marwan Batubara mengatakan, integrasi Pertagas ke PGN lewat cara akuisisi bukanlah langkah terbaik. Menurut dia, proses valuasi saham Pertagas harus dicermati lantaran berpotensi timbulnya praktik perburuan rente. Akuisisi yang butuh dana besar dikhawatirkan membebani keuangan Pertamina.

’’Apalagi, proses akuisisi dilangsungkan saat kondisi manajemen Pertamina belum solid, seperti dihapuskannya Direktorat Gas Pertamina dan posisi Dirut Utama Pertamina yang masih dijabat Pelaksana Tugas. Praktis proses ini didominasi oleh Ke- menterian BUMN yang dikhawatirkan ada kepentingan oknum tertentu di kementerian untuk mengambil aksi untung,” ujar Marwan.

Harga gas
Sementara itu, Wakil Ketua Komite Industri Hulu dan Petrokimia pada Kamar Dagang dan Industri Indonesia Achmad Wid- jaja, pesimistis harga gas bisa lebih murah dengan akuisisi itu." Kini kalangan industri pengguna gas kian terpukul dengan terus melemahnya rupiah terhadap dollar AS. Pasalnya, penghitungan harga gas masih mengacu pada dollar AS. Apalagi, mayoritas bahan baku olahan diimpor, yaitu sekitar 70 persen.

Pemerintah juga harus memikirkan integrasi industri hulu di bawah BUMN. Ia mengusulkan integrasi Pertamina dengan industri petrokimia dan pupuk yang disertai dengan perencanaan investasi jangka panjang. Cara ini dapat mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor.

Sektor industri pengguna gas masih menunggu janji pemerintah menurunkan harga gas. Janji itu tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2016 tentang Penetapan Harga Gas Bumi Panjangnya mata rantai niaga gas bumi disebut-sebut.(APO)

 

 

menu
menu