Sumber berita: KOMPAS, NO 006 THN 54, SELASA 3 JULY 2018

Sumber foto: KOMPAS: Mantan Bupati Kepulauan Sula, Maluku Utara, yang juga calon gubernur Maluku Utara, Ahmad Hidayat Mus ditahan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi, Senin (2/7/2018), seusai menjalani pemeriksaan sekitar sembilan jam. Sebelumnya, KPK menetapkan Ahmad Hidayat Mus dalam kasus dugaan korupsi proyek pembebasan lahan Bandara Bobong di Kabupaten Kepulauan Sula tahun anggaran 2009.

Hidayat Ditahan KPK

Calon Gubernur Maluku Utara Ahmad Hidayat Mus dan adiknya, Zainal Mus, ditahan setelah diperiksa delapan jam. Hidayat optimistis akan tetap dilantik Mendagri meski ditahan KPK.

JAKARTA, KOMPAS-Komisi Pemberantasan Korupsi menahan calon gubernur Maluku Utara Ahmad Hidayat Mus yang memenangi Pemilihan Gubernur Maluku Utara 2018 versi hasil hitung cepat. Dia ditahan bersama adiknya, Zainal Mus, mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sula, dalam kasus dugaan pengadaan fiktif terkait pembebasan lahan Bandara Bobong dalam APBD Kabupaten Kepulauan Sula 2009.

Hidayat dan Zainal sebelumnya hendak dimintai keterangan oleh penyidik Komisi Pemberantasan, Korupsi pada Senin (25/6/2018), tetapi tidak hadir dengan alasan sedang bersiap mengikuti Pemilihan Kepala Daerah Maluku Utara Keduanya datang ke Gedung KPK, Jakarta, Senin (2/7/2018), untuk diperiksa dan langsung ditahan seusai pemeriksaan selama delapan jam.

Juru Bicara KPK Febri Di- ansyah mengatakan, Hidayat dan Zainal ditahan secara terpisah selama 20 hari." Sesuai pasal 21 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi, baik alasan obyektif maupun subyektif, dan tersangka diduga melakukan tindak pidana korupsi telah terpenuhi. Berikutnya penyidikan akan berjalan sesuai mekanisme hukum acara yang ada,” ujar Febri.

Dalam kasus ini, Hidayat dan Zainal diduga merugikan negara Rp 3,4 miliar atas pengaduan lahan Bandara Bobong di Kabupaten Kepulauan Sula tahun 2009. Dari total Rp 3,4 miliar uang kas daerah, Rp 1,5 miliar ditransfer kepada Zainul sebagai pemegang surat kuasa yang menerima pembayaran pelepasan tanah dan Rp 850 juta diterima Hidayat melalpi pihak lain.

Kepada jurnalis sebelum masuk ke mobil tahanan KPK, Hidayat tetap merasa yakin akan dilantik meski statusnya kini resmi mendekam di tahanan KPK.
"Saya terima kasih kepada semua saudara-saudara yang sudah memilih Ahmad-Rivai. Kita sudah menang, pasti menang,” ujar Hidayat.

Adapun adiknya, Zainal, memilih bungkam saat keluar dari Gedung KPK.

Terkait hal ini, kuasa hukum Hidayat, Wa Ode Nur Zaenab, mengatakan,'KPK sudah bertindak terlalu jauh dalam kasus tersebut. Menurut Wa Ode, perkara pengadaan tanah yang melibatkan kliennya sudah pernah diuji melalui praperadilan dan dimenangi kliennya di Maluku Utara.
"Kedua, hasil audit BPK telah ada pemulihan keuangan negara dan ketika pemeriksaan pokok perkara untuk tersangka lain, sama sekali klien kami tidak disebutkan sebagai orang yang terlibat atau intervensi dan sebagai nya,” ujar Waode.

Kemendagri dan KPK
Secara terpisah, Ketua Komisi Pemilihan Umum Arief Budiman menuturkan, wewenang KPU hanya sampai pada penetapan kemenangan pasangan calon. Menurut dia, pelantikan Hidayat tergantung keputusan Kemente- rian Dalam Negeri dan KPK.

lakukan sebagaimana hasil pemilu. Bahwa nanti dia dilantik atau tidak, itu sudah bukan ke- wenangan KPU,” ujarnya.
Berdasarkan hasil rekapitulasi formulir C-l, pasangan Ahmad-Rivai meraup dukungan 31,95 persen disusul petahana Abdul Gani Kasuba-Al Yasin Ali 30,37 persen, kemudian Burhan Abdurahman-Ishak Jamaluddin 25,98 persen, dan terakhir Muhammad Kasuba-Madjid Husen 11,69 persen.

”Ini hanya sebatas informasi. Hasil resmi (nanti) melalui pleno,” ujar Ketua KPU Maluku Utara Syahrani Somadayo yang dihubungi dari Ambon, Maluku, Minggu (1/7/2018) siang.

Syahrani menuturkan, data dari formulir C-l yang diunggah sudah mencapai 99,4 persen. Data dalam formulir diambil dari hasil penghitungan suara di tempat pemungutan suara (TPS). Hasil perolehan suara Ahmad-Rivai yang cukup sigi- nifikan memancing perhatian.

Hidayat yang sudah menyandang status tersangka KPK masih bisa mendapatkan dukungan besar dibandingkan dengan petahana.
Dosen Sosiologi FISIP Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, Herman Usman, mengatakan, figur Hidayat menjadi faktor dominan dalam kemenangan itu. Hidayat menjabat Bupati Kepulauan Sula dua periode dan ikut Pilkada Maluku Utara tahun 2013, tetapi dikalahkan Abdul Gani Kasuba. Kini, Gani dikalahkan Hidayat.

Didukung keluarga
Hidayat juga didukung keluarga, yakni adiknya, Alien Mus, Ketua DPD Partai Golkar Maluku Utara sekaligus Ketua DPRD Maluku Utara, dan adiknya, Ali- ong Mus, Bupati Kepulauan Taliabu, tempat Hidayat meraup hampir 50 persen suara. Kemenangan Hidayat, kata Herman, juga karena masyarakat menganggapnya dermawan sehingga menutup mata dengan status tersangka KPK yang tengah disandangnya dalam pilkada.

menu
menu