Sumber berita: KOMPAS, NO 034 THN 54, SELASA 31 JULI 2018

Sumber foto: KOMPAS/RADITYA HELABUMI | Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (24/7/2018). IHSG masih bertahan di zona hijau. Mengakhiri sesi perdagangan kemarin IHSG ditutup menguat 0,27% atau 16,05 poin ke level 5.931,84. KOMPAS/RADITYA HELABUMI (RAD) 24-07-2018

IHSG Kembali Ke Posisi 6.000

JAKARTA, KOMPAS–Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG kembali menyentuh level 6.000 pada penutupan perdagangan Senin (30/7/2018). IHSG ditutup menguat 38,8 poin atau 0,648 persen pada level 6.027,936.

Penguatan ini terjadi seiring harapan positif investor terhadap data perekonomian nasional.

Terakhir kali IHSG di posisi 6.000-an pada 7 Juni 2018, yakni 6.106,7. Pada 8 Juni 2018, IHSG langsung anjlok ke posisi 5.993,63. Sepanjang Juni, IHSG terus bertahan di bawah 6.000. Bahkan, pada 3 Juli sempat ada di posisi 5.633,94.

Kemarin, terdapat 431.551 transaksi perdagangan, dengan 11,405 miliar lembar saham yang diperdagangkan senilai Rp 8,015 triliun. Kapitalisasi pasar saham senilai Rp 6.792 triliun.

Beberapa saat setelah dibuka, kemarin, IHSG sempat berbalik meninggalkan posisi 6.000-an, menyentuh 5.994,079. Namun, setelah itu menguat perlahan hingga posisi tertinggi pada penutupan perdagangan, yakni 6.027,936.

Dari seluruh saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), kemarin sebanyak 217 saham harganya menguat, sebanyak 172 saham melemah, dan 208 saham harganya stagnan.

Investor asing mencatatkan pembelian bersih senilai Rp 234,83 miliar di seluruh pasar. Mayoritas sektor saham menguat dengan kenaikan tertinggi terjadi pada sektor pertambangan sebesar 2,71 persen. Selanjutnya, disusul sektor aneka industri sebesar 1,50 persen.

Sementara, sektor saham yang melemah di antaranya sektor infrastruktur sebesar 0,21 persen.

Vice President Research Department PT Indosurya Bersinar Sekuritas, William Surya Wijaya, menilai, ekspektasi positif dari investor terhadap data inflasi Juli yang akan dirilis dalam waktu dekat menjadi salah satu faktor yang menopang IHSG.

“Investor meyakini Inflasi masih akan terkendali dan memberikan sentimen positif, yang dapat membuat pola gerak IHSG dalam kondisi stabil,” katanya.
Penantian terhadap rilis data perekonomian pada awal bulan Agustus juga dapat menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar saat ini.

Menurut William, kinerja emiten pada semester pertama yang juga membaik turut memberikan sentimen dalam pergerakan IHSG.

Sejak awal tahun, IHSG masih melemah 5,16 persen. Investor asing yang terus membukukan pembelian bersih secara harian, masih membukukan penjualan bersih sejak awal tahun, yakni Rp 48,907 triliun.

Analis senior CSA Research Institute, Reza Priyambada, mengatakan, hasil pertemuan petinggi Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, pada pekan ini, terkait rencana menaikkan suku bunga masih menjadi perhatian pasar.
“Investor berharap hasil pertemuan itu berdampak positif bagi ekonomi domestik sehingga bisa memberikan sentimen positif untuk bertahannya IHSG di area penguatan,” katanya.

Penguatan IHSG menjadi anomali di tengah lesunya pergerakan bursa regional. Indeks Nikkei Jepang sore kemarin turun 167,91 poin atau 0,74 persen ke level 22.544,84. Hal serupa terjadi pada indeks Hang Seng Hong Kong yang melemah 71,14 poin (0,25 persen) ke 28.733,13.

menu
menu