Sumber berita: KOMPAS, NO 310 THN 53, RABU 6 JUNI 2018

Sumber foto: KOMPAS, NO 310 THN 53, RABU 6 JUNI 2018

Indo-Pacom, dari Hollywood hingga Bollywood

Dalam 6,5 tahun terakhir, Amerika Serikat sudah dua kali mengubah fokus strategi mereka di Pasifik. Pemicu perubahan tetap sama, penguatan pengaruh China di kawasan.

Perubahan pertama diumumkan Barack Obama pada November 2011. Ia mengenalkan konsep Pacific Rebalance. Dalam serangkaian penjelasan pas- ca-pengumuman itu dinyatakan, AS akan semakin memperkuat kehadiran mereka di Samudra Pasifik. Bahkan, pada Juni 2012, Menteri Pertahanan AS Leon Panetta mengumumkan, 60 persen kapal perang AS akan ditempatkan di Samudra Pasifik paling lambat pada 2020.

Washington memandang Samudra Pasifik sebagai perairan vital bagi kepentingan AS dan kepentingan global, baik secara ekonomi maupun politik.

Kala'itu, Panetta dan sejumlah pejabat AS membantah dugaan bahwa doktrin itu untuk menghadang laju pengaruh China. Sejumlah pejabat AS hanya menyebut, kekuatan AS terlalu lemah di Pasifik. Padahal, hingga 2011, AS mempertahankan porsi 50:50 untuk penempatan arma-. da perang di selatar Samudra Atlantik dan Samudra Pasifik.

Yang jelas, sebelum AS mengumumkan doktrin itu, China semakin agresif di Pasifik. Dan ketika doktrin itu diumumkan, China sedang mereklamasi sejumlah gosong karang di Laut China Selatan. Kini, sebagian pulau reklamasi itu sudah dipakai dan China menempatkan aneka persenjataan di sana.

Di tengah perkembangan baru itu, AS mengumumkan perubahan strategi di Pasifik. Mulai 30 Mei 2018, Komando Pasifik (Pacom) berganti nama menjadi Komando Indo-Pasifik (In- do-Pacom). AS memperluas wi
layah operasi mereka. Perubahan itu diumumkan Menteri Pertahanan AS James Mattis di markas Komando Pasifik di Honolulu, Hawaii.

Sebelum perubahan itu, Pacom sudah menjadi satuan perang dengan wilayah operasi terluas di bumi sejak Perang Dunia II. Kini, perubahan nama membuat operasi satuan perang itu menjadi semakin luas.

"Komando ini terbentang dari Hollywood sampai Bollywood.

 

Dari tempat penguin sampai ke beruang kutub. Komando ini berperan penting bagi Strategi Pertahanan Nasional AS. Strategi itu mempertimbangkan tantangan-tantangan di Pasifik dan tanda komitmen AS pada Indo-Pasifik,” tutur Mattis.

Ia mengatakan, Indo-Pacom akan menjadi andalan untuk menjamin keterbukaan kawasan dan tidak dibatasi oleh negara tertentu. Dengan demikian, Indo-Pasifik tetap punya banyak
sabuk, banyak jalan.

Meski tidak langsung menyebut China, ungkapan Mattis jelas menyasar saingan AS itu. Sebab, China mempromosikan konsep One Belt One Road.

Dalam forum pertahanan di Singapura, Mattis menyoroti militerisasi China di Laut China Selatan. "Penempatan senjata-senjata itu berkaitan erat dengan tujuan intimidasi dan pemaksaan,” ujarnya.

Menanggapi itu, pejabat mi
liter China, Kolonel Zhao Xiao- zhuo, mengatakan, bukan hanya China yang membawa persenjataan ke Laut China Selatan. China mencatat, AS pernah mengirimkan rudal jelajah dan pemburu rudal ke sekitar Kepulauan Spratly. Langkah itu dinyatakan sebagai provokasi terhadap China dan pelanggaran hukum internasional.

Faktor India

Selain faktor China, Mattis juga mengatakan, kini India dan Samudra Hindia semakin penting. Berbagai kemajuan di perairan itu tidak bisa diabaikan. Hal itu menjadi bahan pertimbangan mengubah Pacom menjadi Indo-Pacom.

Beberapa tahun terakhir, AS memang lebih serius memperhatikan India Pada tahun 2016, AS-India sepakat saling memakai pangkalan militer masing-masing untuk perbaikan dan pembekalan ulang.

India juga importir utama produk senjata AS. Untuk itu, setidaknya dalam 10 tahun terakhir India menggelontorkan dana hingga 15 miliar dollar AS.

Ketua Sekolah Pertahanan Nasional Australian National University Rory Mecalf menyebut, Samudra Hindia berperan penting pada perdagangan global. Dalam makalah "China and The Indo-Pacific: Multipolarity, Solidarity, and Strategic Patience” ia menulis, konsep Indo-Pasifik amat tergantung pada China Konsep itu adalah pengakuan atas kebangkitan China di kawasan.

Namun, ia tidak menampik fakta bahwa Indo-Pasifik terlalu beragam untuk didominasi satu kekuatan. Karena itu, diperlukan kerja sama semua pihak untuk terus memajukan kawasan dan menjauhi konflik.

menu
menu