Sumber berita: KOMPAS, NO 038 THN SABTU 04 AGUSTUS 2018

Sumber foto: KOMPAS/PRAYOGI DWI SULISTYO | Air mancur tampak menghiasi Lapangan Banteng yang berlokasi di Sawah Besar, Jakarta Pusat, Rabu (25/7/2018). Lapangan Banteng diharapkan dapat menjadi tempat untuk berinteraksi warga DKI Jakarta.

Indonesia Berseru di Lapangan Banteng

Setelah digagas dan dirancang pada 2016, serta mulai dikerjakan pada 2017, Taman Lapangan Banteng hasil revitalisasi akhirnya diresmikan pada 25 Juli 2018 . Membentang anggun dengan desain menawan, lapangan ini tetap mempertahankan ikon yang menjadi fokusnya, yakni patung Monumen Pembebasan Irian Barat.

Membicarakan patung monumen, banyak cerita di balik itu yang belum diketahui umum. Yang semuanya (ternyata) memberikan nuansa pemikiran kebangsaan.

Rebut Irian Barat

Patung monumen ini didirikan untuk mensyukuri dan memperingati kembalinya Irian Barat ke pangkuan Indonesia, pada 1962, dari rengkuhan Belanda. Syahdan, Irian Barat menjadi jajahan Belanda sejak 1828, dan kala itu dinamai Nederlands Nieuw Guinea.

Setelah Indonesia merdeka pada 1945, Belanda ternyata tak mau mengembalikan Irian Barat. Alasannya, Belanda belum mengakui kemerdekaan Indonesia. Belanda baru mengakui kedaulatan Indonesia pada 1949. Anehnya, pengakuan kedaulatan itu tak disertai hasrat Belanda menyerahkan Irian Barat.

Presiden Soekarno terus-menerus mengusahakan agar Irian Barat kembali, tetapi tak kunjung berhasil. Sampai akhirnya ia ”marah” dan mengamanatkan Trikora (Tri Komando Rakyat) pada 19 Desember 1961. Isinya: Irian Barat harus direbut! Maka, konfrontasi militer Indonesia versus Belanda berlangsung. Pasukan Indonesia, yang dinamai Satuan Komando Mandala, dipimpin oleh Soeharto. Perjuangan ini sukses dan bendera Merah Putih berkibar di Irian Barat pada 31 Desember 1962.

Lalu, didirikanlah patung Monumen Pembebasan Irian Barat pada 1963. Soekarno memilih pematung Edhi Sunarso (1932- 2016) sebagai pelaksana.

Patung itu menggambarkan seorang lelaki yang tegap berotot dan bertelanjang dada sedang berteriak sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke udara. Di lengan figur tampak rantai belenggu yang baru saja putus. Mulut figur terbuka lebar, seolah meneriakkan kata: Merdekaaaa! ”Memang saya yang membangun patung monumen itu. Tapi, desainnya berasal dari Bung Karno sendiri,” kisah Edhi Sunarso.

Henk Ngantung (1921-1991), pelukis yang bertugas mendekorasi Jakarta lewat lembaga Panitia Negara, bercerita bahwa semula yang diminta merancang desainnya adalah dirinya. Namun, Soekarno terus mengoreksi. Henk—yang kelak jadi gubernur Jakarta 1964-1965— acap bertahan dengan desainnya. Sampai akhirnya sang presiden tidak sabar dan membuat sendiri sketsa bentuk patung monumen itu. Di sisi sketsa rekaannya, Soekarno menerakan catatan tulisan tangan: Sdr. Henk!Begini lho!

Henk menyempurnakan sketsa itu dalam bentuk drawing dan segera menyampaikan gambar tersebut kepada Edhi. Sambil menyerahkan, Henk tertawa seraya ”menggebrak” meja menirukan Soekarno: ”Saudara Ed! Begini lho!” Gambar Henk yang berangkat dari sketsa Soekarno itulah yang dibangun oleh Edhi.

Meski Soekarno meminta agar patung dibuat setinggi 8 meter dan menjulang di atas tumpuan (voetstuk) setinggi 17 meter, dalam pelaksanaannya patung menjadi 9 meter dengan tumpuan setinggi 20 meter. Dengan segala perubahannya, patung ini tampak gagah, kokoh, kekar, besar, ”hitam” dan sempurna.

Meski demikian, ada sejumlah pengamat sosial yang mempertanyakan: mengapa rambut figur patung itu tidak keriting seperti rambut orang Irian? Padahal, yang menjadi model adalah Johanes Abraham Dimara, pemuda Irian yang berpilin-pilin rambutnya. Hal itu mengemuka beberapa minggu setelah monumen diresmikan oleh Presiden Soekarno pada 17 Agustus 1963. Henk Ngantung dan pelukis Harijadi Sumadidjaja, lewat ceramahnya di Pasar Seni Ancol pada 17 Maret 1981, membuka persoalan itu ke hadapan publik. Pada puluhan tahun kemudian, ketika Indonesia memasuki era milenial, ihwal rambut patung dibicarakan lagi dalam sejumlah laman di Google.

Kisah keriting

Bahwa orang Irian berambut sangat keriting memang bisa dipelajari secara antropologis. Alkisah beratus tahun lalu pelaut Portugis, Don Jorge de Meneses, yang berlayar dari semenanjung Malaka untuk mencari rempah-rempah, menemukan sebuah pulau besar. Di pulau itu, ia bertemu dengan penduduk yang semuanya berambut keriting. Maka, pulau itu kemudian diberi nama ”Papua”, yang artinya ”orang berambut keriting”. Sementara wilayahnya disebut Ilhas Dos Papua, atau Pulau Papua.

Nama ini disandang sangat lama, sampai kemudian Alvado de Saavedra, pemimpin armada Spanyol, menggantinya dengan nama Isla del Oro, yang artinya ”Pulau Emas”. Pada 1828 datang orang-orang Belanda yang lantas mengganti nama pulau itu dengan Nederlands Nieuw Guinea. Namun, sebolak-baliknya nama, orang Irian tetaplah berambut keriting.

Akan tetapi, Edhi dan Soekarno bisa menepis kritik. Mereka berdua mengatakan bahwa yang membebaskan Irian Barat bukan cuma masyarakat Irian sendiri, tetapi juga orang-orang dari seluruh penjuru Indonesia, yang rambutnya sedikit ikal atau bahkan lurus. ”Ada Bung Warsito, ada Bung Manuhutu, ada Bung Sitorus, ada Bung A Zhong, ada Bung Wayan, ada Bung Atamimi, ada Bung Korompis di lapangan perjuangan itu. Semua ikut menumpahkan darah, bloed vergieten, di situ!” kata Soekarno, sebagaimana dituturkan Edhi.

Soekarno ingin mengatakan Lapangan Banteng itu adalah milik semua. Dan patung Monumen Pembebasan Irian Barat sebagai ikon yang menstimulasi kesadaran kebersamaan dalam perjuangan. Di luar urusan patung monumen, kita tahu Presiden Soeharto mengganti nama Irian Barat jadi Irian Jaya pada 1973. Dan Presiden Abdurrahman Wahid mengganti jadi Papua pada 1999. Alhasil, dari namanya saja, si rambut patung sudah terasa keriting.

Agus Dermawan T Pengamat Seni, Konsultan Koleksi Benda Seni Istana Presiden

menu
menu