Sumber berita: KOMPAS, NO 040 THN SENIN 06 AGUSTUS 2018

Sumber foto: Kompas.id

Industri Telekomunikasi Dinilai Stabil

Lembaga pemeringkat keuangan Fitch Rating menilai prospek industri telekomunikasi di Indonesia stabil. Laporan kinerja keuangan dan rencana aksi jadi sentimen positif saham emiten telekomunikasi semester IL 2018.

JAKARTA, KOMPAS - Dalam pernyataan resminya pada 31 Juli 2018, lembaga yang berpusat di New York dan London itu memberi peringkat AAA (stabil) kepada PT Telekomunikasi Selular, BBB (stabil) untuk PT XL Axiuta Tbk, dan BBB+ (stabil) kepada PT Indosat Tbk.

Peringkat itu menunjukkan kondisi atau kemampuan keuangan ketiganya cukup bagus dan stabil meski jumlah pelanggan dan pendapatan industri telekomunikasi (berdasarkan kinerja Telkomsel, XL Axiata, dan Indosat Ooredoo) turun 10 persen pada paruh pertama 2018 dibandingkan periode yang sama tahun 2017.

Kebijakan registrasi nomor prabayar dengan validasi nomor induk kependudukan dan kartu keluarga yang berlaku Mei 2018 akan membentuk kembali lanskap pasar telekomunikasi domestik. Kebijakan itu mengurangi tingkat perpindahan pelanggan ke operator berbeda {churn rate) dan mempercepat monetisasi layanan data internet dari paket kartu perdana menuju isi ulang bulanan.

Penurunan pendapatan akibat kebijakan registrasi dinilai bersifat jangka pendek. Ketiga operator dianggap memiliki belanja modal tinggi dengan rata-rata rasio diambil dari pendapatan sekitar 20 persen hingga akhir tahun 2018.

Komisioner Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia I Ketut yang dihubungi di Jakar
ta, Minggu (5/8/2018), mengatakan, konsekuensi dari registrasi nomor prabayar adalah jumlah pengguna sebenarnya bisa diketahui, bukan pelanggan semu. Operator bisa mulai menata diri untuk memperlakukan pelanggan yang sudah ada, seperti meningkatkan kualitas layanan isi ulang.

’’Kami sedang menyiapkan peraturan terkait penarifan layanan seluler, interkoneksi, hingga kewajiban penyediaan jaringan telekomunikasi berkualitas. Tujuannya menjaga kesehatan industri telekomunikasi,” kata Ketut.

Ketua Program Studi Sarjana Teknik Telekomunikasi di Institut Teknologi Bandung Ian Joseph Matheus Edward berpendapat, kebijakan registrasi lambat laun membiasakan masyarakat. Mereka diajak menjadi loyal dan bertanggung jawab terhadap nomornya Namun, pemerintah perlu menjelaskan kepada masyarakat siapa pihak bertanggung jawab terhadap penyimpanan nomor prabayar, NIK, dan KK pelanggan. Ini berkaitan dengan perlindungan data pribadi.

Saham dilirik
Investor melirik saham dari emiten telekomunikasi yang harganya mengalami penurunan sepanjang semester 1-2018. Laporan kineija keuangan dan rencana aksi perusahaan jadi sentimen positif pergerakan saham emiten telekomunikasi di paruh kedua 2018.

Sejak 1 Januari 2018 hingga 3 Agustus 2018, mayoritas saham emiten turun harganya. Harga saham PT Indosat Tbk (ISAT), misalnya, turun 30,4 persen sepanjang tahun. Sementara saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), induk PT Telkomsel, turun hingga 22,07 persen. Adapun saham PT XL Axiata Tbk (EXCL) turun 7,7 persen sepanjang tahun ini.

Analis Henan Putihrai Sekuritas Josscarios Jonathan berpendapat, investor pasar modal mulai melirik industri telekomunikasi setelah kineija positif emiten semester 1-2018. Sementara operator telekomunikasi mulai mengerek tarif layanan data yang berimbas pada kineija keuangan.

’’Sensitivitas pelanggan terhadap harga layanan data bisa dikatakan reda, kini emiten beralih ke upaya meningkatkan kualitas,” ujar Jonathan.

Selain menaikkan tarif, operator juga mulai memperkuat infrastruktur. Indosat, misalnya, meningkatkan jaringan 4G di luar Jawa memakai 80 persen belanja modal senilai Rp 8 triliun, sementara XL Axiata menganggarkan Rp 7 triliun untuk membangun infrastruktur 4G di lebih dari 400 kabupaten dan kecamatan.

Analis MNC Sekuritas Victoria Venny menilai, tak seluruh kinerja keuangan emiten telekomunikasi terdampak kebijakan registrasi. ’’Dampak re- gistasi beda-beda,” ujarnya.(MED/DIM)

 

menu
menu