Sumber berita: KOMPAS. N0 42 THN-54 RABU 08 AGUSTUS 2018

Sumber foto: sumateranews

Jaga Independensi Media

PEMILU 2019

SOLO, KOMPAS — Media memiliki peran signifikan menegakkan negara yang menjunjung demokrasi. Memasuki tahun politik jelang Pemilu 2019, media diharapkan menciptakan dan memelihara ruang publik media yang kondusif dan mencerahkan.

Hal itu mengemuka saat deklarasi "Media Bermartabat untuk Pemilu Berkualitas”, Senin (6/8/2018) malam, di Monumen Pers Nasional, Solo, Jawa Tengah. Hadir dalam deklarasi itu, antara lain, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara; pegiat Kaukus Media dan Pemilu, Agus Sudibyo; mantan Ketua Dewan Pers Atmakusumah Astraatma- dja dan Bagir Manan; Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo; Redaktur Senior Harian Kompas Ninok Leksono; serta Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

"Peran media sangat signifikan saat kita menegakkan negara yang berdemokrasi. Demokrasi yang berkualitas tentunya harus didukung oleh pers, oleh media yang berkualitas, yang profesional, dan beretika,” kata Rudiantara.

Media arus utama yang berplatform cetak dan elektronik, tambah Rudiantara, tak perlu diragukan lagi akan melahirkan karya-karya jurnalistik profesional dan menjunjung kode etik.

Namun, media sosial dan online non-arus utama cenderung tak terkontrol. "Jangan sampai yang namanya media online dan sosial dimanfaatkan untuk mengumbar informasi negatif, agitasi, dan hoaks,” katanya.

Agus menambahkan, mendekati Pemilu 2019, suhu politik semakin panas. Oleh karena itu, penting bagi pers, media, dan aktivis media sosial menciptakan serta memelihara ruang publik media yang kondusif dan mencerahkan. Situasi kondusif bukan ruang publik media yang penuh provokasi dan pecah belah. Untuk itu, Kaukus Media dan Pemilu mendeklarasikan gerakan "Media Bermartabat untuk Pemilu Berkualitas”.

Menurut Agus, gerakan ini ingin mengingatkan semua pihak tentang pentingnya menjaga kesantunan dan kepantasan bermedia, baik media massa maupun media sosial. Media massa dan sosial mesti jadi solusi mengatasi anomali demokrasi dan anomali pemilu, seperti intoleransi, politik uang, dan perpecahan masyarakat. Deklarasi yang sama akan digelar agar menjadi gerakan bersama.

Jangan diintervensi
Yosep Adi menyatakan, saat ini di Indonesia diperkirakan ada 47.000 media. Dari jumlah itu, 43.300 di antaranya media daring. Banyak media didirikan tanpa modal dan kompetensi jurnalistik. Bahkan, ada yang mengaku lembaga swadaya masyarakat dan ada yang mengaku-aku lembaga penegak hukum. "Terkait Pemilu 2019, Dewan Pers mendorong uji kompetensi wartawan. Dewan Pers sedang memverifikasi perusahaan-perusahaan pers. Saat ini, 2.200 media diverifikasi,” katanya

Pemilu 2019, ujar Yosep Adi, bukan tak mungkin diwarnai kegaduhan jika masyarakat pers tak ikut menjaga Untuk itu, jadi tu- , gas bersama pers dan pemimpin redaksi menjaga independensi news room agar jangan sampai diintervensi kepentingan politik dan pemilik. "Ini tantangan besar jelang Pemilu 2019,” katanya Sementara Atmakusumah mengatakan, kebebasan pers dan lainnya yang dialami bangsa Indonesia 20 tahun terakhir diperoleh lewat perjuangan panjang. Untuk itu, media harus semakin bermutu menyajikan informasi kepada publik agar tak ada alasan politik apa pun di masa depan mengembalikan tekanan terhadap kebebasan pers dan lainnya Ninok mengatakan, banyak kemajuan dicapai Indonesia, misalnya angka kemiskinan yang turun. "Meski demikian, masih banyak pekerjaan rumah harus dihadapi, di antaranya Revolusi Industri 4.0. Menghadapi hal itu dan Pemilu 2019, wartawan harus tetap menjunjung profesi jurnalistik menjadi sumber pencerahan bagi masyarakat dan bangsa Indonesia,” ujar Ninok. (RWN)

 

menu
menu