Sumber berita: KOMPAS, NO 006 THN 54, SELASA 3 JULY 2018

Sumber foto: KOMPAS: Ayang Utriza Yakin, tokoh muda Nahdlatul Ulama sekaligus peneliti di Research Institute of Religions, Spiritualities, Cultures, Societies Fakultas Teologi College Albert Descamps, Universite Catholique de Louvain, Belgia, membacakan Deklarasi Roma di Roma, Italia, Minggu (1/7/2018) malam waktu Italia atau Senin pagi waktu Indonesia. Deklarasi ini menyerukan kerukunan umat beragama di Indonesia.

Jaga Kemajemukan Bangsa

Indonesia menjadi salah satu harapan dunia merawat kerukunan dan keragaman antarumat beragama. Apabila Indonesia gagal, negara lain hanya tinggal menunggu waktu saia.

ROMA, KOMPAS - Perwakilan diaspora Indonesia dari 23 negara Eropa menyerukan Deklarasi Roma di Roma, Italia, Minggu (1/7/2018) malam waktu Italia atau Senin (2/7) dini hari waktu Indonesia. Mereka sepakat kemajemukan di Indonesia harus dipelihara, dijaga, dan dikembangkan bersama.

Deklarasi Roma merupakan kesepakatan dan komitmen bersama yang lahir dari acara Dialog Antaragama Masyarakat Indonesia di Eropa. Acara ini digelar Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Takhta Suci Vatikan, RO Juni-3 Juli 2017 di Roma. Pesertanya adalah 47 orang perwakilan masyarakat diaspora Indonesia.

"Indonesia kerap jadi acuan merawat kerukunan dan keragaman. Sampai saat ini, pengaruh Indonesia di dunia internasional, terutama Asia, sangat penting,” kata Dubes RI untuk Takhta Suci Vatikan Agus Sriyono.

Setidaknya ada delapan poin yang termaktub dalam deklarasi itu. Pertama, kemajemukan agama, suku, budaya, dan bahasa adalah anugerah Tuhan dan keniscayaan yang harus dipelihara, dijaga, dan dikembangkan bersama Kedua, Indonesia dalam bentuk NKRI yang dibangun atas dasar Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 adalah "rumah bersama” dalam semangat Bhin- neka Tunggal Ika.

Ketiga, tenggang rasa dalam kemajemukan menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab bersama. Kerukunan ini menjadi rujukan dunia internasional.

Keempat, kesungguhan hati dan keterbukaan sikap dalam semangat kebersamaan, gotong-royong, saling pengertian, penghargaan, dan persaudaraan hendak nya diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Hindari politisasi agama
Pada poin kelima, deklarasi ini menyerukan agar masyarakat Indonesia tidak menggunakan agama dan simbol keagamaan demi kekuasaan politik sementara.

Keenam, umat beragama diajak menampilkan wajah ramah dan terbuka dalam semangat persaudaraan, keimanan, dan kemanusiaan. Adapun pada poin ketujuh, peserta dialog mengingatkan, meski berbeda-beda agama, anak bangsa Indonesia terikat persaudaraan sebangsa dan setanah air.

Terakhir, di poin kedelapan, mereka juga mengajak masyarakat Indonesia di seluruh dunia membentuk komunitas-komunitas lintas agama yang terbuka agar bisa saling bekerja sama dalam kehidupan sehari-hari.

Perwakilan Wali Umat Buddha Indonesia Philip K Widjaja mengatakan, konflik bernuansa agama atau dinuansakan agama rentan terjadi. Perkembangan teknologi dan kurangnya kesadaran rawan menyulut potensi itu. Philip berharap, semua penganut agama saling mengerti, memahami, dan menyakini kebenaran tidak hanya berada di satu agama saja.

Mantan Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Abd A’la mengakui, rasa saling tidak percaya kerap menghambat kerukunan hidup antaragama. Oleh 'karena itu, dibutuhkan ketulusan untuk mengatasinya.

Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia Uung Sen- dana dan perwakilan Konferensi Waligereja Indonesia Mgr Sunar- ko OFM mengajak semua pihak merawat Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Sementara Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Pendeta Hen- riette T Hutabarat-Lebang mengatakan, pendidikan kemajemukan harus terus dilakukan guna menyadarkan realitas itu di kehidupan sehari-hari.

menu
menu