Sumber berita: KOMPAS. N0 55 THN-54 KAMIS 23 AGUSTUS 2018

Sumber foto: Kompas.id

Jalan Panjang Poncho Jadi Angkutan Massal Ramah Lingkungan

Keinginan Pemerintah Jepang untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan manusia yang tinggal di sekitarnya menjadi tantangan bagi industri otomotif di ’’Negara Matahari Terbit” itu. Pengembangan teknologi kendaraan komersial dan angkutan massal perkotaan pun mengubah bus yang semula menggunakan bahan bakar fosil menjadi bertenaga listrik atau bahan bakar hidrogen.

Salah satu contoh menarik dari pergeseran itu dibawa pabrikan kendaraan komersial asal Jepang, Hino, ke Gaikindo Indonesia International Auto Show 2018 di ICE BSD City, Tangerang, Banten, pekan lalu. Ketika para produsen kendaraan penumpang memamerkan mobil hibrida atau motor listrik, Hino memunculkan produk bus listrik bernama Poncho EV.

Tidak mudah bagi sebuah pabrikan otomotif untuk mengubah karakter produksinya, dari mesin dengan bahan bakar fosil ke energi terbarukan. Semua dihitung dengan cermat, mulai dari proses penelitian dan pengembangan hingga produksi massal.

Engineer Kepala Divisi EV, PHV Vehicle, dan Module Planning Hino Motors Ltd Tomonori Kosaka, yang ditemui di sela-sela perhelatan GIIAS, menjelaskan, dibandingkan produk mobil komersial lainnya, Hino adalah pabrikan yang paling dini untuk menginisiasi kendaraan listrik.

Memang kendaraan-kendaraan Hino belum sepenuhnya elektrik, tetapi masih menerapkan sistem hibrida. Poncho EV yang ditampilkan di GIIAS adalah bus produksi tahun 2012. ’’Sejak tahun awal 1990-an, kami sudah mulai melakukan riset dan pengembangan bus listrik,” kata Tomonori.

Perjalanan Hino untuk mengembangkan truk listrik, dikutip dari situs resmi perusahaan, cukup panjang. Tahun 1991, para insinyur Hino mengembangkan teknologi yang disebut hybrid inverter-controlled motor and retarder (HIMR) untuk bus berbahan bakar diesel.

Bergabungnya Hino ke dalam korporasi Toyota Motor Corporation tahun 2001 mendorong kembali penerapan teknologi hibrid. Tahun 2003 mereka meluncurkan Hino Dutro Hybrid.

Selama tiga tahun berikutnya, mereka melebarkan sayap untuk memperkenalkan teknologi hibrid pada produksi bus besar mereka dengan nama Hino Blue Ribbon City Hybrid, yang kemudian diberi nama Hino S’Ele- ga. Pada tahun 2006, bus hibrid untuk Australia pun diperkenalkan.

Di Asia, teknologi hibrid untuk truk, diperkenalkan tahun 2011 di Hong Kong oleh Hino. Setelah itu, menurut Tomonori, mereka mulai memfokuskan diri pada pengembangan teknologi motor listrik untuk kendaraan komersial atau full EV.

Poncho EV
Tomonori menjelaskan, Poncho EV yang ditampilkan di GIIAS adalah pengembangan dari dua generasi sebelumnya yang berbahan bakar diesel. Beberapa tahun sebelum memutuskan memodifikasinya menjadi bus berbahan bakar listrik secara penuh, mereka harus memikirkan desain kompartemen mesin, khususnya peletakan baterai, dan juga beberapa hal teknis lainnya, khususnya pada ruang pengemudi, untuk mengawasi masalah kelistrikan.

Prototipe Poncho EV akhirnya diperkenalkan kepada publik pada tahun 2011 sebelum akhirnya diuji coba di tiga kota di Jepang, yaitu Sumida, Hamura, dan Komatsu di Prefektur Ishikawa.

Pada awal kemunculannya, kapasitas baterai litium ion yang digunakan adalah 48 kWh dengan tenaga yang dihasilkan adalah 150 kW. Pengembangan lebih ■lanjut hingga tahun 2017, kapasitas baterai turun menjadi hanya 30 kWh, tetapi kemampuan menghasilkan tenaga meningkat menjadi 200 kW.

Menurut Tomonori, dengan pengembangan terbaru ini, mereka membutuhkan waktu untuk mengisi baterai hanya 30 menit. Pengisian itu bisa dilakukan apabila kondisi baterai tidak dalam kondisi kosong 100 persen. ’’Kalau yang kondisinya kosong seperti itu, baterai akan menghadapi kendala pengisian. Lebih baik tersisa 50 persen atau 20 persen sebelum melakukan pengisian ulang,” kata Tomonori.

Meski kemampuan menghasilkan tenaga meningkat, jarak tempuh saat baterai terisi 100 persen belum memuaskan. Menurut Tomonori, dengan kapasitas penuh, Poncho hanya mampu menempuh jarak sekitar 15 kilometer.

Jarak tersebut juga masih dipengaruhi cara mengemudi, kondisi-kondisi bus saat beroperasi (pemanas ruangan atau pendingin ruangan beroperasi atau tidak) hingga kondisi lalu lintas pada rute-rute yang dilewati.

Tomonori mengatakan, selama ini mereka mendapat pasokan baterai dari pihak ketiga. Hasil yang dinilai belum memuaskan membuat mereka berencana mengembangkan teknologi baterai sendiri yang dapat membuat Poncho beijalan lebih jauh. ’’Target kami, sekali pengisian, bisa menempuh jarak 120-150 kilometer,” kata Tomonori.

Tidak hanya masalah daya baterai yang akhirnya berkorelasi dengan jarak tempuh, masalah desain baterai juga kini menjadi salah satu hal yang terus diperbaiki oleh tim pengembangan.

Tomonori mengatakan, ukuran volume baterai yang besar dan diletakkan di bagian buritan memang sedikit banyak memengaruhi luas kabin bus. Mereka pun tengah memikirkan untuk mengembangkan baterai yang kecil sehingga tidak memengaruhi luas kabin.

Meski baterai menjadi salah satu tantangan besar bagi tim pengembangan Poncho, tim Hino sudah mulai mengembangkan Poncho Mini EV (minivan) dan light duty truck EV yang sudah diperkenalkan sejak tahun 2013.

Tomonori mengakui, baterai dan desain-desainnya tantangan bagi pihaknya untuk terus mengembangkan Poncho EV sehingga akhirnya bisa diproduksi massal nanti. Apalagi Pemerintah Jepang telah memutuskan mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 80 persen pada tahun 2050.

 

menu
menu