Sumber berita: KOMPAS, NO 006 THN 54, KAMIS 05 JULI 2018

Sumber foto: kompas.id

Jalan Tandus Membela Merah Putih

Seluruh tenaga dan kemampuan telah dicurahkan atlet dan pelatih senam trampolin dalam pemusatan latihan nasional Asian Games 2018. Namun, mereka belum menerima sedikit pun uang saku, fasilitas, dan perlengkapan bertanding setelah sebulan berlatih.

Atlet pelatnas trampolin asal Jabar, Yudha Tri Aditya (28), rela berhenti dari pekerjaan tetapnya sebagai pemain sirkus di arena hiburan di Bandung. Meski sudah dua tahun menyambung hidup dari arena hiburan itu, Yudha lebih memilih pelatnas.

’’Atasan saya tidak mengizinkan saya cuti. Dia meminta saya memilih pekerjaan atau membela Indonesia. Saya pilih Asian Games karena ini mimpi saya sejak kecil,” ucapnya.

Yudha berhenti dari pekerjaan April 2018, bersamaan dengan seleksi atlet trampolin. Ia terpilih mewakili pelatnas Asian Games bersama atlet lain, Calvin Ponco Ayaga (18) dan Dimas Sindhu Aji (22). Mereka dibimbing mantan atlet yang kini jadi pelatih, Lulu.

Hingga kini, Yudha menanggung beban dari pilihannya Sejak, pelatnas dimulai awal Juni, ia belum mendapat uang saku. Padahal, mantan pesenam artistik ini menaruh asa pada pelatnas.

Yudha punya tanggungan cicilan sepeda motor. Ia dan pasangannya juga berencana menikah tahun ini. Sempat tebersit, uang saku pelatnas digunakan untuk menyambung hidup dan sebagian bisa ditabung untuk

Dia meminta saya memilih pekerjaan atau membela Indonesia. Saya pilih Asian Games karena ini mimpi saya sejak kecil.
Yudha Tri Aditya pernikahan. Namun, itu semua masih sebatas angan.

Bantuan swasta
Sementara itu, pelatnas trampolin tetap dijalankan meski tanpa dana. Trampolin mendapatkan bantuan arena latihan dan akomodasi dari pihak swasta, yaitu Houbii Urban Adventure Park, Pondok Indah, Jakarta Selatan. Arena komersial itu memfasilitasi atlet pelatnas berlatih gratis. Selain itu, Houbii menyediakan hotel dan makanan.

"Untungnya ada Houbii. Kami sangat terbantu. Tetapi, bantuan itu belum cukup karena anak-anak butuh uang saku dan peralatan tanding,” ujar Lulu.
Setelah sebulan di Jakarta, kondisi keuangan Yudha, Calvin, dan Dimas kian menipis. Mereka perlu uang saku untuk memenuhi kebutuhan harian. Mereka butuh baju senam.

Saat ini mereka berlatih mengenakan baju dan celana pendek biasa Pelatnas trampolin yang baru dimulai Juni tergolong sangat te lat dibandingkan dengan cabang lain yang memulai sejak Maret. Hal itu karena trampolin baru April lalu resmi diputuskan akan dipertandingkan di Asian Games 2018.

Lamanya kepastian itu berpengaruh pada permintaan dana Pengurus Besar Persatuan Senam Indonesia (PB Persani) kepada Kemenpora. Proposal yang diajukan PB Persani, awal 2018, hanya untuk disiplin artistik dan ritmik. Dari pengajuan Rp 29 miliar, disetujui Rp 7,5 miliar.

Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi PB Persani Dian Arifin mengaku sudah mengajukan penambahan anggaran pada April setelah trampolin masuk Asian Games. Penambahan sekitar Rp 800 juta itu untuk uang saku atlet, pelatih lokal dan asing, peralatan tanding, serta akomodasi pada Juni-Oktober.
’’Sampai saat ini belum ada kabar dari Kemenpora Kasihan atlet berjuang setiap hari berlatih, tetapi tak mendapatkan haknya. Mestinya mereka mendapat hak yang sama dengan cabang lain,” kata Dian.

Deputi IV Kemenpora Mul- yana mengaku belum bisa membantu anggaran untuk trampolin. Anggaran yang ada saat ini sudah diarahkan untuk keperluan cabang memanggil pelatih asing dan kebutuhan cabang prioritas.

Mulyana menyarankan PB Persani mengalihkan dana dari artistik dan ritmik untuk trampolin. ’’Kalau mereka mau, tinggal buat proposal pengalihan dana,” ucapnya. (E08/KEL)

menu
menu