Sumber berita: KOMPAS, NO 023 THN 54, JUMAT 20 JULI 2018

Sumber foto: Tempo Foto - Tempo.co.id

Jokowi dan SBY Tidak Bahas Masalah Politik

Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla menjenguk presiden ke 6 RI yang juga Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. Tidak ada pembicaraan tentang politik dalam pertemuan itu.

JAKARTA, KOMPAS - Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla menjenguk presiden ke-6 RI yang juga Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono saat yang bersangkutan dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta. Meski berlangsung di tengah kuatnya lobi-lobi politik terkait Pemilu 2019, dalam pertemuan itu disebut tidak ada pembicaraan tentang politik.

’’Ya, tadi mengobrol tentang penyakit beliau (Yudhoyono). Tadi beliau menyampaikan katanya kecapaian,” kata Jokowi seusai membesuk Yudhoyono, Kamis (19/7/2018), di Jakarta.

Setelah dirawat tiga hari di RSPAD Gatot Soebroto karena kelelahan, kemarin sekitar pukul 18.00 Yudhoyono meninggalkan rumah sakit itu untuk dirawat jalan di rumah.
Saat masih dirawat di rumah sakit, kemarin sekitar pukul 10.00, Yudhoyono dijenguk Presiden Jokowi yang datang bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ibu Iriana, dan Ibu Mufidah. Pertemuan Jokowi, Kalla, dan Yudhoyono itu berlangsung selama sekitar 15 menit.

Juru bicara Wapres Kalla, Husain Abdullah, menambahkan, dalam kunjungan itu, Jokowi, Kalla, dan Yudhoyono hanya bicara seputar kesehatan. Mereka saling mendoakan agar selalu diberi kesehatan. ”Yang dibicarakan lebih banyak masalah kesehatan dan saling mendoakan,” ujarnya.

Kemarin, presiden ke-3 RI BJ Habibie juga menjenguk Yudhoyono di RSPAD.
Sebelumnya, pada Rabu lalu, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto juga menjenguk Yudhoyono. Dalam pertemuan itu, mereka tidak membahas politik. ’’Masa bicara politik di rumah sakit,” kata Prabowo (Kompas, 19/7/2017).

Koalisi
Koalisi partai politik pendu-, kung Presiden Jokowi di Pemilu 2019 berharap Partai Demokrat dapat bergabung dengan mereka. Hal serupa juga diinginkan oleh Partai Gerindra yang mengusung Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto sebagai capres.
Saat ini, ada enam partai peserta Pemilu 2019 yang berhak mengajukan capres/cawap- res di 2019 yang menyatakan mendukung Jokowi. Partai itu adalah PDI-P, Golkar, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Nasdem, dan Partai Hanura.

Jika Partai Demokrat juga bergabung dengan koalisi ini, menurut Wakil Sekjen Partai Golkar Sarmuji, peluang kemenangan Jokowi di Pemilu 2019 akan semakin besar.
Kans kemenangan Jokowi kian besar karena bergabungnya Demokrat akan mencegah lahirnya poros koalisi baru, di luar koalisi partai pengusung Jokowi dan Prabowo.

Menurut Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Arsul Sani, sejauh ini komunikasi antara partai pendukung Jokowi dengan Demokrat terjalin baik. Dia mencontohkan komunikasi antara Ketua Umum PPP Romahurmuziy dan Yudhoyono. Tak hanya itu, komunikasi antara Presiden Jokowi dan Yudhoyono juga terjalin baik.
”Ada pertemuan-pertemuan keduanya yang tidak terpubli- kasikan ke publik. Memang belum ada kata final, tetapi dari pertemuan itu ada sinyal positif,” tuturnya.

Sementara Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon mengatakan, bergabungnya Demokrat, kemudian Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai Amanat Nasional akan menjadi kekuatan besar dalam menghadapi Pilpres 2019.

Gerindra pun yakin koalisi ini bisa direalisasikan karena ada kesamaan kepentingan di antara keempat partai itu. Namun, untuk bisa merealisasikannya, komunikasi intens di antara keempat partai masih harus dilakukan. Salah satunya dalam membahas figur cawap- res pendamping Prabowo, yang bisa memperbesar peluang Prabowo untuk memenangkan Pemilu 2019.

Sebagai bagian dari upaya mewujudkan hal itu, Wakil Ketua Umum Gerindra Ahmad Sufmi Dasco mengatakan, pertemuan antara Prabowo dan Yudhoyono yang semula direncanakan pada Rabu lalu akan tetap digelar. ’’Kemungkinan pekan depan pertemuan bisa dilakukan,” ujar Sufmi.
(NTA/APA/AGE)

menu
menu