Sumber berita: KOMPAS, NO 033 THN 54, SENIN 30 JULI 2018

Sumber foto: FOTO-FOTO AGS, Kompas, INFOGRAFIK: ANDRI

KE MANAKAH TENIS INDONESIA?

Jumlah medali emas Indonesia dari cabang tenis pada Asian Games berada di peringkat kedua setelah bulu tangkis. Namun, setelah Asian Games Busan 2002 tenis Indonesia ”menghilang”.

Sejak cabang olahraga tenis dipertandingkan dalam Asian Games Tokyo 1958, petenis-petenis Indonesia telah menyumbangkan 15 emas, 6 perak, dan 21 perunggu. Hanya para atlet bulu tangkis yang menyumbangkan medali lebih banyak bagi Indonesia di Asian Games, yakni 26 emas, 25 perak, dan 40 perunggu.

Jooce Suwarimbo dan kawan-kawan mengawali tradisi medali tenis Indonesia saat tampil di Jakarta 1962. Adapun emas diawali petenis angkatan Lanny Kaligis di Bangkok 1966. Masing-masing satu emas, perak, dan perunggu dari Angelique Widjaja dan kawan-kawan di Busan 2002 mengakhiri tradisi medali itu. Di Doha 2006, Guangzhou 2010, dan Incheon 2014, tim tenis Indonesia pulang dengan tangan hampa meski pada setiap Asian Games, PP Pelti selalu menargetkan emas.

Tahun ini, petenis Indonesia berkesempatan besar dengan tampil di depan publik sendiri. Persaingan petenis Asia memperebutkan lima emas dari nomor-nomor individu akan berlangsung di Palembang, Sumatera Selatan, 19-25 Agustus.

Sebagai bagian dari persiapan menuju Asian Games, 10 petenis pelatnas Asian Games mengikuti sejumlah turnamen nasional dan internasional. Selama Juli, petenis-petenis putri mengikuti turnamen Federasi Tenis Internasional (ITF) di Solo dan Jakarta.

Aldila Sutjiadi menjuarai tunggal putri di Solo dan ganda putri di Jakarta. Adapun Beatrice Gumulya/Jessy Rompies, untuk pertama kali, maju ke semifinal turnamen Asosiasi Tenis Putri (WTA). Mereka tampil di WTA Nanchang, China. Pada turnamen ITF putra Seri I di Jakarta, ganda putra, Christopher ”Christo” Rungkat/Justin Barki, tampil di final.

Meski demikian, ini tak berarti Christo dan kawan-kawan akan mudah memperoleh medali. Turnamen yang digelar di Solo dan Jakarta adalah turnamen berhadiah total 15.000 dollar AS, yang merupakan level terendah dalam struktur turnamen ITF.

Pada tahun ini, Christo menjuarai ganda putra dua turnamen ATP Challenger di Dallas (AS) dan Busan (Korea Selatan). Namun, itu dilakukan dengan sesama petenis profesional dari negara lain, masing-masing Jeevan Nedunchezhiyan (India) dan Hsieh Cheng Peng (Taiwan). Christo juga mencapai posisi terbaik dalam peringkat dunia di kategori ganda. Berperingkat ke-108 dunia pada saat ini, dia pernah berada di urutan ke-96 pada Mei.

Perjalanan meraih medali akan semakin berat dengan hadirnya petenis-petenis yang berpengalaman menjuarai Grand Slam. Di putri ada Chan Yung Jan (Taiwan) yang terakhir kali menjuarai ganda putri AS Terbuka 2017 (bersama Martina Hingis). Di bagian putra, India menjadi tim terkuat dengan hadirnya Rohana Bopanna dan pemain senior Leander Paes (45 tahun). Paes punya catatan prestasi menjuarai semua Grand Slam di nomor ganda putra dan campuran.

Meski Chan, Bopanna, dan Paes akan tampil bukan dengan pasangan saat menjuarai Grand Slam, ketiganya telah teruji dalam persaingan level tinggi. Di nomor tunggal, persaingan akan dihadiri petenis putra Uzbekistan berperingkat ke-90 dunia, Denis Istomin (putra), dan petenis putri China berperingkat ke-30 dunia, Zhang Shuai.

Dengan persaingan tersebut, pelatih pun ”hanya” menyebut perunggu sebagai target tertinggi dari nomor ganda. ”Persaingan akan berat karena tenis putri Indonesia di bawah China, Taiwan, dan Jepang. Target kami adalah perunggu dari sektor putri,” kata pelatih pelatnas tenis putri Dedi Tedjamukti.

Aldila juga menyebut beratnya persaingan yang akan terjadi di Asian Games nanti. Berusaha untuk memenuhi target perunggu, dia punya target pribadi untuk mengasah kemampuan dengan melawan petenis-petenis Asia peringkat 200 besar dunia. Di tim putri Indonesia, Aldila yang menjadi petenis berperingkat tertinggi di nomor tunggal baru mencapai posisi ke-651.

Hanya ada Christo

Menghilangnya tenis Indonesia dari kancah Asia akhirnya kembali lagi pada persoalan minimnya petenis yang tampil dalam turnamen profesional. Indonesia hanya memiliki Christo, satu-satunya petenis yang mengikuti turnamen ATP Tour. Christo pula satu-satunya petenis Indonesia yang bisa menyumbangkan emas pada SEA Games terakhir di Kuala Lumpur 2017. Petenis berusia 28 tahun itu juga meraih perak di ganda campuran bersama Jessy.

”Seharusnya ada beberapa petenis yang tumbuh dan berprestasi bersama, tidak hanya mengandalkan satu petenis. Ini kembali pada persoalan dasar, motivasi petenis. Untuk mau mengembangkan diri dengan tampil di turnamen-turnamen internasional diperlukan motivasi, tidak hanya biaya,” kata Febi Widhiyanto, mantan petenis yang saat ini menjadi pelatih tim tenis putra Indonesia.

Hal sama pernah dikatakan Christo saat mengejar tiket babak kualifikasi ganda putra Wimbledon 2017. ”Saya mendapat pertanyaan tentang regenerasi saat tampil di Piala Davis 2012. Kalau petenis 1-4 tahun di bawah saya tidak punya gairah untuk berkompetisi di arena internasional, level permainan mereka akan turun. Dalam 10 tahun terakhir, kondisinya seperti itu. Padahal, saya juga mencoba jalan sendiri untuk bisa seperti ini,” ujar Christo.

Tanpa motivasi dan dedikasi untuk meningkatkan kemampuan, dengan menjalani tur di sejumlah turnamen, tidak akan ada petenis lain untuk menjadi rekan atau penerus Christo.

Jika tidak berubah, tenis Indonesia pun akan tetap tidak tampak di persaingan Asia, bahkan bisa menghilang dari Asia Tenggara.

menu
menu