Sumber berita: KOMPAS, NO 032 THN 54, Minggu 29 JULI 2018

Sumber foto: KOMPAS/ABDULLAH FIKRI ASHRI Musa (50) memangkas ilalang dan rerumputan untuk membuat sekat bakar di kaki Gunung Ciremai di Blok Pejaten, Desa Kaduela, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Senin (23/7/2018). Selain menyebabkan gagal panen padi, kekeringan juga mengancam lahan bukan sawah.

Kekeringan Meluas

MAKASSAR, KOMPAS Kementerian Pertanian menyatakan bahwa kekeringan sudah diantisipasi dengan berbagai fasilitas. Di sejumlah daerah perbatasan, warga dibantu bibit dan alat produksi agar bisa menanam berbagai komoditas pangan sehingga tidak harus melakukan impor.

Antisipasi kekeringan di sektor pertanian itu diklaim sudah dilakukan sejak tiga tahun lalu. ”Kami sudah normalisasi irigasi tersier dan sekunder. Pompa air ratusan ribu unit dibagi-bagi. Kekeringan ini hampir setiap tahun sehingga sudah kami siapkan sejak awal pemerintahan Jokowi-Kalla,” kata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Sabtu (28/7/2018), di Makassar, Sulawesi Selatan.

Amran mencontohkan, di Sulsel, perbaikan jaringan irigasi dilakukan untuk pengairan sawah hampir 400.000 hektar. Pembangunan tiga jaringan irigasi juga sedang dilakukan di Kota Palopo, Kabupaten Wajo, dan Kabupaten Jeneponto. Proyek itu menelan biaya Rp 2,5 triliun-Rp 3 triliun.

Gagal panen

Kendati pemerintah sudah mengantisipasi kekeringan, petani di sejumlah sentra pangan di Jawa, seperti Jawa Tengah dan Jawa Barat, dilanda gagal panen. Ribuan hektar sawah di Indramayu dan sekitarnya dilaporkan puso meski ada sanggahan soal luasan.

Petani di Indramayu menilai pemerintah pusat dan daerah gagal mengantisipasi kekeringan. Indikasinya, gejala kekeringan yang sudah dilaporkan bulan sebelumnya tidak mendapat respons (Kompas, 28/7/2018).

Di Jawa Tengah, lahan padi 2.185 hektar juga terdampak kekeringan. Dari jumlah itu, 164 hektar gagal panen dan lebih dari 2.000 hektar mengalami penurunan produktivitas.

Namun, Kementerian Pertanian menyatakan, produktivitas padi tahun ini aman. Luas cakupan kekeringan diperkirakan tidak mengganggu prediksi surplus
padi.

Di Serang, Banten, kekeringan yang sebelumnya hanya melanda Kecamatan Tirtayasa meluas hingga Carenang. Bantuan air sudah dikirim ke tiga desa di Tirtayasa dan Carenang.

Petugas Pusat Pengendalian Operasi dan Tim Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang Rudi Gunawan mengatakan, awalnya permintaan bantuan air hanya datang dari warga Desa Lontar, Alang-alang, dan Tengkurak di Kecamatan Tirtayasa.

Data BPBD Serang, bantuan itu sudah disalurkan sejak Senin hingga Kamis lalu. Kekeringan yang meluas menyebabkan permintaan bantuan air juga datang dari warga Desa Walikukun, Kecamatan Carenang. Bantuan disalurkan ke desa itu, Jumat.

Selain kekeringan, Kementerian Pertanian mengatakan, banjir juga diantisipasi setiap tahun, di antaranya dengan mengasuransikan lahan sawah. Saat ini, lebih dari 1 juta hektar lahan sawah di Indonesia diasuransikan untuk risiko banjir.

”Pembangunan dan perbaikan saluran irigasi tak hanya untuk mengantisipasi kekeringan, tetapi juga untuk mengelola air agar sawah tidak kebanjiran. Intinya, semua langkah antisipasi sudah dilakukan,” kata Amran.

(REN/IKI/EGI/BAY)

menu
menu