Sumber berita: KOMPAS. N0 44 THN-54 JUMAT 10 AGUSTUS 2018

Sumber foto: KOMPAS/PRADIPTA PANDU | Ketua Umum Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan saat memberikan sambutan dalam Rapat kerja nasional (Rakernas) PAN di Jakarta, Kamis (9/8/2018).

Kepada Prabowo PAN Berlabuh

Partai Amanat Nasional akhirnya memutuskan mengusung Prabowo Subianto pada Pemilihan Umum Presiden 2019. Keputusan untuk berlabuh ke koalisi pendukung Prabowo diputuskan dalam Rapat Kerja Nasional yang digelar di Jakarta, Kamis (9/8/2018), selang satu hari menjelang penutupan pendaftaran calon presiden-calon wakil presiden. Peserta Rakernas PAN 2018 juga memutuskan mengajukan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dan ustad Abdul Somad sebagai pendamping Prabowo.

Pilihan untuk kembali mengusung Prabowo pada Pemilu 2019 bukanlah keputusan instan. Partai Amanat Nasional (PAN) melewati waktu yang relatif panjang untuk berdiskusi dan berdialog, baik dengan kalangan internal maupun eksternal partai. Tidak hanya itu keputusan juga diambil setelah para petinggi PAN melakukan penjajakan dengan berbagai kekuatan politik serta bakal calon presiden.

Keputusan itu pun diambil setelah muncul tarik-menarik pendapat di internal partai. Untuk mengambil sikap dalam pilpres, PAN sampai menunda Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2018. Awalnya rakernas dengan agenda utama menetapkan capres-cawapres dijadwalkan tanggal 6-7 Agustus, tetapi diundur menjadi 9 Agustus.

Zulkifli dalam dialog Satu Meja The Forum bertajuk “PAN di Simpang Jalan?” di Kompas TV, Rabu (8/8/2018) malam, menegaskan, penundaan rakernas diputuskan karena alasan teknis. “Itu (penundaan rakernas) soal teknis saja,” tuturnya saat ditanya Pemimpin Redaksi Kompas Budiman Tanuredjo, yang memandu acara.

Acara ini juga menghadirkan pembicara lain, yakni salah satu pendiri dan mantan sekretaris jenderal PAN Faisal Basri, Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak, Direktur Pusat Studi Pemilu dan Partai Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia Reni Suwarso, Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Komaruddin Hidayat, dan Direktur Eksekutif Poltracking Hanta Yuda.

Zulkifli menjelaskan, waktu dua hari dimanfaatkan DPP PAN untuk bermusyawarah dengan para pengurus serta kader di daerah. Tujuannya agar kader parpol di seluruh daerah memahami pilihan-pilihan politik yang akan diambil dalam rakernas. Selain itu juga untuk memberikan pemahaman mengenai persoalan yang tengah dihadapi bangsa Indonesia.

Dualisme

Namun, banyak kalangan menduga penundaan dilakukan lantaran rumitnya PAN memposisikan diri dalam Pemilu 2019. PAN menjadi satu-satunya parpol pendukung pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla yang tak kunjung menentukan sikap, apakah akan kembali mengusung Jokowi atau kandidat lain dalam Pemilu 2019.

Kerumitan tentu tak terlepas dari dualisme sikap yang ditunjukkan elite PAN. Zulkifli relatif dekat dengan Presiden Jokowi karena dari tangan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat ini, PAN dibawa merapat ke barisan parpol pendukung pemerintah pada 2 September 2015. Sebelum akhirnya memutuskan mengusung Prabowo-Sandiaga dalam Pemilu 2019, Zulkifli juga sempat beberapa kali bertemu Jokowi. Bahkan, dua pekan terakhir setidaknya sudah dua kali Ketua Umum PAN bertemu Jokowi, yakni pada 24 Juli di Istana Kepresidenan Bogor dan pada 7 Agustus di Istana Kepresidenan Jakarta.

Sebaliknya Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais selalu berseberangan dengan pemerintah. Pendiri PAN itu, bahkan, kerap melontarkan kritikan keras terhadap pemerintah, terutama Presiden Jokowi. Tidak hanya itu, Amien juga lebih banyak menunjukkan kedekatannya dengan Prabowo, lawan politik Jokowi pada Pemilu 2014. Bahkan, Rabu (8/8/2018) malam, Amien empat kali menyambangi kediaman Prabowo di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan.

Hanta melihat PAN berhadapan dengan pilihan sulit dan dilematis. Jika memilih Jokowi, PAN hanya dijadikan sebagai pelengkap untuk menarik suara dari basis massa Islam modernis, santri perkotaan, dan kalangan Muhammadiyah. Sementara bila memilih Prabowo, kader PAN tidak akan menjadi prioritas untuk dijadikan sebagai cawapres.

Zulkifli juga mengakui, PAN dihadapkan pada pilihan yang sulit, sama halnya dengan parpol lainnya. Pada pilpres kali ini, parpol tidak leluasa memutuskan pilihan capres-cawapres karena terhalang syarat pengajuan capres menguasai minimal 20 persen kursi DPR. “Parpol terkunci dengan syarat 20 persen kursi DPR. Tampak sederhana, tapi sebenarnya tidak. Pilihan-pilihannya menjadi sangat terbatas,” tuturnya.

Pilihan untuk mengusung Prabowo-Sandiaga sebenarnya sudah diketahui sebelum rakernas dimulai. Saat dihubungi beberapa jam sebelum rakernas dibuka, Ketua Badan Pemenangan Pemilu DPP PAN Viva Yoga Mauladi sudah menegaskan bahwa PAN akan mengusung Prabowo sebagai capres. Keputusan itu diambil berdasarkan aspirasi dari pengurus dan kader PAN dari seluruh Indonesia.

“DPP telah melakukan penjaringan aspirasi ke daerah, dan hasilnya akan diputuskan nanti saat Rakernas, PAN mengusung Prabowo,” tutur Viva.

Faktor kedekatan

Kedekatan Prabowo dengan para tokoh agama menjadi salah satu pertimbangan PAN mengusung Prabowo. Selain itu ada pula faktor kedekatan Amien dengan Prabowo dalam pandangan politik tentang masa depan Indonesia.

Padahal, menurut Hanta, PAN akan lebih untung jika berkoalisi mendukung Jokowi. Selain bisa mendongkrak suara pemilu legislatif, PAN juga berpotensi mendapatkan kursi di kabinet jika Jokowi kembali terpilih.

Bagi Zulkifli, hal yang terpenting adalah menyelamatkan kursi PAN di DPR. Bagaimana agar partai yang lahir di masa reformasi itu lolos ambang batas parlemen sebesar 4 persen dari perolehan suara sah nasional.

Tentu saja dalam politik tidak ada makan siang gratis. Bagaimana pun, kata Harold D Lasswell, ilmuwan politik asal Amerika Serikat, politik adalah tentang siapa mendapat apa, kapan, dan bagaimana.

menu
menu