Sumber berita: KOMPAS, NO 016 THN 54, JUMAT 13 JULI 2018

Sumber foto: PressReader kompas, Para kru kapal Japan Coast Guard Tsugaru PLH-02 memberikan salam pada kapal Badan Keamanan (Bakamla) Laut KN Tanjung Datu 1101, Rabu (11/7/2018), di perairan utara Jakarta setelah mengadakan latihan bersama operasi laut.

Keringat bagi Diplomasi Maritim

Bakamla dan penjaga pantai Jepang menggelar latihan bersama operasi laut. Kegiatan ini amat penting untuk mempererat hubungan kedua lembaga.

Komandan kapal Japan Coast Guard Tsugaru PLH-02 Capt Suzuki Hi- rohisa dan Direktur Latihan Badan Keamanan Laut Eko Jo- kowiyono tampak berseri-seri seusai latihan bersama operasi laut, Rabu (11/7/2018). Keduanya sama-sama memberikan apresiasi kepada rekannya sambil berharap bahwa latihan yang digelar antara Bakamla dan penjaga pantai Jepang ini bisa terus dilakukan.

’’Saya ucapkan terima kasih kepada semua satuan yang terlibat. Luar biasa. Kita sudah berkeringat bersama,” kata Suzuki di tengah dermaga Jakarta International Container Terminal (JICT)-2 Tanjung Priok, Jakarta, setelah lebih dari tiga jam berlatih bersama. Menurut dia, lewat latihan ini, hubungan instansi maritim kedua negara semakin erat.

Latihan semacam ini adalah implementasi dari diplomasi maritim kontemporer. Skenario latihan dimulai dari formasi komunikasi yang dipimpin JCG Tsugaru PLH-02. Langkah selanjutnya, komando diambil alih KN Tanjung Datu yang memimpin formasi pencarian kapal terduga pembawa narkoba.

Formasi pengejaran dan penangkapan dilakukan oleh kapal milik Kesatuan Penjaga Laut dan Pantai KN Alugra, sementara pemeriksaan oleh KP Jalak milik Polri dan KP Hiu Macan Tutul 02 milik Kemen- terian Kelautan dan Perikanan. Di pengujung latihan juga diadakan formasi penyelamatan yang dipimpin KN Basudewa milik Basamas.

Kompleks
Suzuki dan Eko mengakui bahwa rangkaian latihan itu cukup kompleks. Apalagi dilakukan di perairan yang cukup padat, hanya beberapa kilometer dari pelabuhan Tanjung Priok. Namun, keduanya menyatakan puas dengan latihan bersama ini yang juga menandai 60 tahun hubungan keija sama In- donesia-Jepang. ’’Kita berharap,

dengan latihan ini, di kemudian hari bisa dibuat standar operasi bersama,” kata Eko.
Sebelumnya, Eko mengatakan, keija sama dengan negara-negara asing, seperti Jepang, sangat dibutuhkan Indonesia. Selain menguji standar prosedur operasi, baik dalam institusi Bakamla maupun gabungan dengan institusi maritim lain, kerja sama ini juga agar RI bisa bekeija sama dengan negara lain, seperti Je- pang.

Secara umum, latihan berlangsung lancar. Dalam fase pertama, yaitu komunikasi, kapal Tsugaru yang memimpin, mengirimkan sinyal komunika si ke semua kapal yang terlibat. Dengan kecepatan 10 knot, semua kapal merespons sinyal komunikasi itu. Di ruang operasi di belakang anjungan kapal Tsugaru, kru mencatat langkah-langkah yang dilakukan di papan tulis dan komputer. Latihan komunikasi yang menggunakan radio sampai suara ini berlangsung sekitar 20 menit.

Di fase berikutnya, kapal Basarnas KN Basudewa disimulasikan sebagai kapal pembawa narkoba. Pada titik yang ditentukan, kapal itu melarikan diri dan dikejar dua kapal patroli, KP Jalak dan KP Hiu Macan. Kedua kapal lalu mengapit kapal KN Basudewa dan menang kap kapal tersebut sesuai dengan prosedur yang direncanakan. Dalam perjalanan pulang, digelar latihan SAR di mana helikopter SAR digunakan untuk mengangkat korban yang jatuh di tengah laut.

Secara taktis, tampak beberapa masalah dalam operasi seperti tidak tersedianya helikopter SAR di kapal KN Tanjung Datu. Di kapal Tsugaru bersiap satu helikopter. Namun, sesuai skenario, helikopter yang digunakan untuk SAR, berangkat dari darat. Hal ini membutuhkan waktu yang relatif panjang.

Menurut Eko, ada kebutuhan helikopter untuk reaksi cepat. KN Tanjung Datu yang di gunakan adalah kapal terbesar milik Bakamla saat ini dengan panjang 110 meter. Kapal ini ukurannya relatif sama dengan Tsugaru yang panjangnya 105 meter. KN Tanjung Datu untuk pertama kalinya digunakan untuk latihan bersama setelah sebelumnya ikut operasi kemanusiaan ke Papua.

Dalam konteks diplomasi maritim, perlu digarisbawahi sifat maritim yang saling ter- koneksi, mengikuti laut. Diplomasi maritim adalah alat yang penting bagi Indonesia untuk mewujudkan kepentingan nasionalnya, terutama dalam mewujudkan visi Poros Maritim Dunia. Visi ini terus-me nerus dihadapkan pada kompleksitas kawasan Asia Pasifik sehingga dibutuhkan strategi yang inovatif dalam diplomasi maritim.

Pernyataan Laksamana Madya (Pum) Hideaki Kaneda dalam seminar kerja sama Maritim Indonesia-Jepang yang diadakan LIPI pada 2017, mewakili kepentingan nasional Jepang. Hedeaki mengatakan, Indonesia dan Jepang sebagai sesama negara Indo-Pasifik perlu bekeija sama untuk mengimbangi China di kawasan Asia Pasifik. Posisi geografi Indonesia sangat strategis dalam si-. tuasi geopolitik di Asia Pasifik saat ini. (EDNA C PATTISINA)

menu
menu