Sumber berita: KOMPAS, NO 010 THN 54, SABTU 07 JULI 2018

Sumber foto: Okezone.com

Kesehatan Jemaah Dikawal

Suhu udara di Arab Saudi sama seperti musim haji tahun lalu, yakni mencapai 53 derajat celsius. Kondisi tersebut berpotensi memicu ’’heatstroke”.

JAKARTA, KOMPAS - Tahun 2018, semua embarkasi menggunakan kartu kesehatan haji. Terobosan ini bertujuan memudahkan identifikasi data kesehatan jemaah sejak sebelum dan sesudah berangkat ke Tanah Suci hingga kembali ke Tanah Air.

’’Dengan adanya kartu tersebut, petugas akan lebih mudah mengidentifikasi data kesehatan jemaah. Tinggal di-scan, nanti keluar semua datanya,” ucap Eka Jusup Singka, Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan, kepada awak media di Jakarta, Jumat (6/7/2018).

Menurut Eka, identifikasi kesehatan para anggota jemaah calon haji tahun ini tidak lagi dilakukan secara manual. Kini, data terpantau secara digital melalui kartu kesehatan haji (KKH). Kartu itu mengondisikan jemaah patuh mengikuti pemeriksaan dan pembinaan kesehatan. Datanya terhubung dengan sistem komputerisasi haji terpadu.

Risiko tinggi
Eka menambahkan, pada tahun ini juga teijadi perubahan warna gelang untuk jemaah risiko tinggi (risti). Tahun lalu, warnanya terbagi tiga, yakni merah, kuning, dan hijau, sesuai dengan tingkat keparahan. Tahun ini, warnanya diseragamkan, yakni oranye. ”Ini demi menjaga kondisi psikologis pasien,” kata Eka.

Dia menyebutkan; suhu udara di Arab Saudi sama seperti musim haji tahun lalu, yakni mencapai 53 derajat celsius, jauh berbeda dengan suhu di Tanah Air. Kondisi tersebut berpotensi memicu heatstroke. Kondisi ini ditandai dengan suhu tubuh panas (sampai 40 derajat celsius), kejang-kejang, denyut jantung cepat, pusing, dan napas memburu. Kondisi ini sering terjadi pada saat jemaah terpapar matahari dalam waktu lama.

Umumnya gejala ini terjadi pada saat puncak ibadah haji, yakni, ketika jemaah berkumpul di Padang Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armina). Dengan sengatan terik matahari di ruang terbuka, jemaah rentan dehidrasi. Apalagi, jumlah anggota jemaah yang berusia lanjut (di atas 50 tahun) mencapai 70 persen.

Langkah pencegahannya, saat di luar ruangan, jemaah disarankan menggunakan alat pelindung diri, yaitu payung, kacamata hitam antipanas, masker, sandal, topi, botol semprot, dan botol minum. ’’Biasakan minum sebelum haus,” kata Eka.

Penyakit lain yang diwaspadai adalah Sindrom Pernapasan Timur Tengah (MERS). ’’Penyakit ini rawan menular melalui hewan, khususnya unta. Jadi, jemaah jangan dekat-dekat unta,” ucapnya.

Tahun ini, anggota jemaah haji Indonesia 221.000 orang, terdiri dari 204.000 anggota jemaah reguler dan 17.000 anggota jemaah penyelenggara ibadah haji khusus. Jemaah reguler yang terbagi dalam 507 kelompok terbang secara bertahap mulai berangkat ke Tanah Suci pada 17 Juli.

Kasubdit Bimbingan Ibadah Direktorat Bina Haji Kemenag Endang Jumali mengimbau jemaah mengurangi aktivitas rutin yang berisiko menguras stamina, seperti umrah sunah dan ziarah. (E15/NAR)

menu
menu